Articles Archive for September 2010
Hukum Hakam »
Coba bayangkan kalau anda tidak mau solat jamak seperti gambar di atas. Tentu ini akan merepotkan orang lain. Penumpang lain tidak bisa duduk, pesawatpun tidak bisa tinggal landas. Saya tidak menyalahkan mereka, karena memang ada satu mazhab yang tidak mengijinkan solat jamak. Sebenarnya kalau mereka tidak terpaku kepada mazhab itu saja, dengan kata lain fleksibel dengan pendapat-pendapat dari mazhab lainnya, tentu mereka tidak perlu solat di dalam pesawat. Apalagi kalau perjalanannya cuma beberapa jam saja. Sebelum berangkat pun sebenarnya mereka bisa melakukan solat jamak terlebih dahulu.
Hukum Hakam »
Seandainya anda dalam keadaan bermusafir di dalam pesawat dan hendak mengambil wudhuk di dalam toilet pesawat yang sempit, apa yang akan anda lakukan? Apakah anda berusaha mengangkat kaki mati-matian ke wastafel, sehingga airnya terpercik kemana-mana? Bagaimana kalau ada non-muslim yang melihat tingkah anda? Tentu si non-muslim ini berpikir bahwa orang Islam itu tidak tahu sopan-santun. Bisa saja anda berkilah dengan mengatakan kaki orang Islam yang dicuci lima kali sehari jauh lebih bersih dari non-muslim yang hanya mandi satu kali sehari.
Hukum Hakam »
Apabila anda lahir di negara-negara nusantara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunai atau Thailand Selatan, maka otomatis mazhab pegangan anda adalah mazhab Syafi’i. Dalam keadaan apapun jua, kita tetap berpegang kepada mazhab Syafi’i. Haram kata ulama kalau kita meninggalkan mazhab Syafi’i. Akibatnya ini mendatangkan banyak kesukaran kepada kita dan menyebabkan seolah-olah agama itu menjadi susah.
Hukum Hakam »
Pada saat Rasulullah s.a.w masih hidup, kaum muslimin bisa bertanya secara langsung kepada beliau berkaitan dengan hukum-hakam agama. Ketika Rasulullah s.a.w tiada lagi, umat Islam kehilangan sumber rujukan dalam menyelesaikan berbagai masalah agama yang timbul di kemudian hari. Sebagai gantinya umat Islam merujuk kepada fuqaha di kalangan sahabat seperti Abu Bakar, Umar, Ibn Abbas, Ibn Umar, Ibn Mas’ud Huzaifah bin Yaman,dll.
Aqidah »
Apa pendapat anda, bisakah roh kembali ke dunia? Kalau melihat filem-filem barat, memang roh bisa kembali ke dunia terutama kalau roh itu mati secara tidak wajar. Sayangnya filem-filem Indonesia juga banyak menggambarkan kembalinya roh ke dunia manusia. Akhirnya banyak orang Islam yang percaya dengan konsep tersebut. Hal ini sebenarnya bisa mencemarkan aqidah? Betapa tidak, karena takut dengan roh orang mati atau yang biasa dirujuk sebagai hantu,
Aqidah »
Walaupun umat Islam di Indonesia adalah mayoritas, namun dari segi aqidah mereka cukup lemah. Mereka tidak imun terhadap serangan-serangan untuk menghancurkan aqidah mereka seperti tahyul-tahyul, khurafat-khurafat, serangan pemikiran ala Islam liberal, dll. Sangat menyedihkan. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pengajaran aqidah di sekolah-sekolah. Pelajaran agama lebih ditekankan kepada cara beribadat, halal dan haram, dsb.
Ekonomi Islam »
“Bank Islam itu harusnya membantu umat Islam supaya bisa membeli rumah lebih murah,” kata sobatku suatu hari.
“Kalau ternyata lebih mahal dari bank konvensional, apa itu bukan menzalimi umat Islam?”
Aku hanya tersenyum simpul mendengar komentar kawanku itu. Komentar-komentar seperti itu sudah biasa aku dengar dari mereka yang tidak mengetahui apa-apa mengenai Bank Islam.
Ekonomi Islam »
Pada suatu hari setelah sahur menjelang subuh, aku berdebat dengan salah satu anggota keluarga mengenai mahalnya cicilan rumah punya Bank Islam. Dia dengan naifnya membandingkan cicilan Bank Islam dan Bank konvensional secara salah. Di akhir argumentasinya, dia mengatakan bahwa Bank Islam itu zalim. Harusnya Bank Islam lebih murah dari Bank konvensional. Setelah melihat cara perhitungannya, aku menilai dia telah salah total.
Hadist »
Setiap Ramadhan, para penceramah mendapat tambahan kesibukan. Mereka diundang ke berbagai tempat untuk berceramah seputar puasa dan Ramadhan. Agar ceramahnya memiliki bobot ilmiah, mereka banyak mengutip dan menguraikan maksud ayat-ayat Alquran, Hadis atau kata-kata hikmah para ulama. Hadis-hadis yang mereka sampaikan bervariasi kualitasnya, ada yang shahih, hasan, dhaif, bahkan ada yang sangat dhaif sekali, yaitu hadis-hadis yang dikategorikan sebagai maudhu, matruk, munkar, dan lain sebagainya.

