Aqidah

Membahas aqidah yang sahih menurut sunnah.

Bulan Islam

Pahami bagaimana bulan-bulan Islam itu ditentukan.

Ekonomi Islam

Belajar seluk-beluk perbankan Islam.

Politik

Politik dari sudut pandang Islam.

Fiqh

Berbagai macam jawaban fiqh.

Home » Aqidah

Ayat Seribu Dinar

Submitted by on June 28, 2012 – 11:41 am10 Comments

Minggu terakhir bulan Oktober lalu, saya bersama keluarga mengadakan perjalanan ke Kuala Lumpur (KL) dengan menaiki kenderaan sendiri dari Pulau Pinang. Jarak sekitar 380 km ditempuh selama 5 jam dengan kecepatan rata-rata 110 km/jam. Itu kecepatan maksimum yang diijinkan di Lebuh Raya Utara Selatan (North-South Highway). Kenderaan lain malah ada yang cuma memakan waktu selama 4 jam ke KL. Rahasianya apa? Tidak lain dan tidak bukan adalah dengan memacu kenderaan hingga mencapai 140 km/jam. Kecepatan seperti itu sama saja dengan menyabung nyawa.

Menggantung ayat seribu dinar

Menggantung ayat seribu dinar

Salah satu kelebihan highway ini adalah banyak tempat peristirahatan di sepanjang jalan. Tempat peristirahatan ini sering disebut dengan “Hentian”. Ada banyak jenis Hentian ini. Yang paling kecil hanya memiliki fasilitas toilet dan balai-balai untuk duduk. Yang sedang ukurannya bisa memiliki foodcourt, mushalla, toilet dan “petrol station”. Paling besar lagi ada fasilitas supermarket, restoran ”fastfood”, bahkan ada yang dilengkapi dengan kedai-kedai menjual buah-buahan. Nah salah satu hentian yang terbesar di utara semenanjung adalah Hentian Tapah yang berada kira-kira diantara Penang dan KL.

Maka kami menghabiskan waktu kira-kira hampir 45 menit untuk buang hajat, makan dan membeli buah-buahan. Sudah menjadi kebiasaan saya untuk selalu memperhatikan apa isi di dalam sebuah kedai yang dimiliki oleh orang Melayu atau India Muslim lainnya. Saya suka melihat apakah di kedai itu digantung ayat seribu dinar dan jimat lainnya. Tidak perlu mencari lama, saya menemukan beberapa kedai buah-buahan yang menggantung ayat seribu dinar. Bahkan ada satu kedai yang menggantung jimat dengan ukuran besar. Sayangnya saya tidak berani memotret jimat yang hampir berukuran setinggi manusia. Terlalu menyolok mata penjaga kedai buah-buahan itu. Tapi tidak mengapa. Saya berhasil mengambil gambar sebuah kedai yang menggantungkan ayat seribu dinar.

Ada Apa Dengan Ayat Seribu Dinar?

Setiap memasuki kedai-kedai yang dimiliki oleh orang Islam seperti kedai-kedai makan (rumah makan atau restoran), mata saya selalu jelalatan memperhatikan gantungan ayat-ayat suci Al’Quran di dinding restoran-restoran itu. Biasanya mereka menggantung berbagai macam kaligrafi Islam di dinding restoran untuk menandakan restoran itu milik orang Islam. Tujuannya untuk memberitahukan orang Islam untuk tidak ragu-ragu makan di kedai mereka.

Coba tebak ayat Al’Quran apa yang sering digantung oleh para pemilik restoran itu? Itulah surah at-Talaq ayat 2 dan 3 atau yang populer disebut sebagai Ayat Seribu Dinar? Mereka berharap dengan menggantung ayat itu, maka mereka selalu meraih keuntungan dan terhindar dari segala macam kerugian. Apa isi ayatnya, sampai disebut Ayat Seribu Dinar?

At-Talaq [2] ……dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah (dengan mengerjakan suruhanNya dan meninggalkan laranganNya), niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar (dari segala perkara yang menyusahkannya),

At-Talaq [3] Serta memberinya rezeki dari jalan yang tidak terlintas di hatinya dan (Ingatlah), barang siapa berserah diri bulat-bulat kepada Allah, maka Allah cukuplah baginya (untuk menolong dan menyelamatkannya). Sesungguhnya Allah tetap melakukan segala perkara yang dikehendakiNya. Allah telahpun menentukan kadar dan masa bagi berlakunya tiap-tiap sesuatu.

Sebenarnya ayat tersebut menuntut seseorang agar bertaqwa kepada Allah untuk mendapatkan ganjaran keluar dari segala masalah dan mendapatkan rezeki dari sumber yang tidak disangka-sangka. Ayat-ayat itu sebenarnya untuk dipahami maksudnya, bukan untuk digantung didinding. Kalau sudah digantung didinding dan percaya akan kemujaraban ayat itu, maka ini disebut juga dengan jimat pelaris (tangkal pelaris dalam bahasa Malaysia).

Mungkin para pemilik restoran itu akan menyangkal, “Jangan asal tuduh bang. Itu bukan jimat. Kami menggantung ayat seribu dinar itu agar mudah dibaca dan diamalkan.” Siapa yang baca? Pengunjung restoran atau pekerja restoran? Mana sempat mereka baca ayat-ayat itu. Yang satu sibuk memilih makanan yang hendak dimakan, yang lainnya sibuk mengantar pesanan pengunjung. Kenapa tidak di hafal saja? Toh, ayat-ayat itu tidak terlalu panjang.

Saya tidak melihat adanya tujuan lain, selain untuk melariskan dagangan mereka dengan menggantung ayat seribu dinar itu. Sebenarnya maju tidaknya usaha kita semata-mata tergantung kepada rahmat Allah. Orang yang bersungguh-sungguh memajukan usananya belum tentu usahanya menjadi maju kalau Allah belum memberikan rahmatNya. Maka rajin-rajinlah berdo’a kepada Allah agar usahanya bisa maju. Apakah ini belum mencukupi juga?

Mengharapkan berkah dari jimat adalah sebuah bentuk penyembahan yang hukumnya adalah syirik. Inilah yang dinamakan mempersekutukan Allah dengan perantaraan lain yaitu jimat. “Tapi kita cuma berikhtiar saja bang dengan memakai jimat ini. Rahmat Allah jugalah yang kita cari dengan memakai jimat. Mana ada kita menyembah jimat. Kita masih sholat 5 waktu bang,” kilah mereka. Itulah beda agama Islam dengan agama lain. Umat Islam berhubungan dengan Allah secara langsung tanpa melalui perantara, tidak seperti yang kita temui pada agama Hindu atau Budha. Mereka memohon sesuatu kepada Allah/tuhan melalui perantara seperti berhala atau tuhan-tuhan selain Allah.

Jadi janganlah kita memakai jimat untuk melariskan dagangan kita, karena konsekuensi yang sangat berat yaitu membawa kepada syirik. Akibatnya hati menjadi rusak, iman tergadai dan hukum halal-haram tidak lagi menjadi penting baginya.

Tags: ,

10 Comments »

  • Wiwid says:

    Hmm..hampir saja saya terpengaruh &ingn mgunakan jimat karena tempat usaha kuliner ortu saya yg merosot dratis secara tiba2 omsetnya. Pelanggan pada pergi dan para pembeli hanya melihat tp tdk mau masuk untuk membeli seolah2 tempat saya tdk terlihat.lhah..kok mlh jd curhat to.. Btw,buat semua doakan saya ya agar selalu kuat dan tabah dan yg penting terhindar dari dosa2 besar.terima kasih.

  • wiemasen says:

    Alhamdulillah, artikel yang saya tulis membantu sdr. Wiwid.

  • Hemm… ‘Jimat’ itu apa maksudnya?

    Ada pekedai yang sengaja menggantungkan ayat-ayat suci atau khalimah ‘Allah’ dan ‘Muhammad’ bagi menarik Muslim singgah makan di kedai, jika diselidik betul-betul, rupa2nya mereka Hindu…

    Berapa ramai yang tertipu…

  • wiemasen says:

    Jimat=Tangkal…

    Oleh karena itu kalau masuk ke kedai makan India, tanya dulu apakah mereka ada daging lembu atau tidak. Kalau mereka mau tipu pun, takkan nak letakkan tuhan mereka untuk dimakan :)

  • Ya… saya lupatips yg itu… :)

  • Pak, mau tanya ya…

    Mengapa dalam ‘mutakhir dari blog list’ saya, posting terakhir dari wiemasen “http://blog.wiemasen.com/fine-bone-china-haramkah/”?

    Sudah satu bulan asyik gitu aje… Ada masalah di feedburner/rss kah?

  • wiemasen says:

    Emm…saya tak pasti juga. Nanti saya periksa dulu. Memang beberapa beberapa hari lepas saya ada rubah “path” ke artikel saya, dari yang beradasarkan tahun/bulan ke yang berdasarkan tajuk, contohnya “http://blog.wiemasen.com/ayat-seribu-dinar/”. Tak pasti apakah ini ada penmgaruh terhadap feedburner/rss.

  • Agus says:

    Pahami dan amalkan yang tertulis pada Al-Qur’an. Itu yang terpenting

  • USER says:

    Nicceee….

  • syufiyan says:

    Jadi apa hukum nya ketika kita memakai zimat ???
    “mhn jwbn nya gan?

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.