Menyentuh Kemaluan – Batalkah Wudhu?
Menurut saya ini sebenarnya perkara remeh karena jarang terjadi. Tapi kalau pernah terjadi pun, anda tidak merasa berat untuk mengambil wudhuk kembali. Benarkah tidak berat untuk mengambil wudhuk kembali? Kalau anda tinggal di daerah tropis dan banyak air yang tersedia, maka anda bakalan menjawab “iya”. Tapi coba bayangkan kalau anda tinggal di daerah yang sangat dingin atau di daerah yang air sangat susah untuk di dapat. Apakah anda akan membuang air hanya untuk mengulang wudhuk karena bersentuh dengan kemaluan anda? Iya lah, kita harus mengulang wudhu, karena seperti itulah yang diajarkan sama pak ustadz atau bu ustadzah. Tapi apa tidak ada pendapat lain yang menyatakan sebaliknya? Ingin tahu juga.
Kalau saya mengatakan pendapat saya, tentu anda tidak akan percaya. Tapi mungkin anda akan percaya kalau saya bawakan pendapat Syeihk Yusuf al-Qaradhawi. Menurut beliau para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Perbedaan pendapat mereka bisa dikategorikan ke dalam dua pandangan:
1. Tidak membatalkan wudhu
Pendapat ini diriwayatkan oleh ‘Ali, Ibn Mas’ud, ‘Ammar, Huzaifah, ‘Imran bin Husain dan Abu Darda’ dari kalangan sahabat Nabi saw. Ini juga pendapat Rabi’ah, al-Thauri, Ibn Munzir, Abu Hanifah dan sahabatnya dan satu riwayat dari Ahmad. Hujah mereka adalah hadith yang diriwayatkan oleh al-Nasa-ie tentang seorang badui yang bertanya kepada Nabi saw :
“Wahai Rasulullah ! Apa pandangan kamu tentang seorang lelaki yang menyentuh kemaluannya ? Jawab Nabi saw : “dan bukankah dia tidak lain adalah segenggam daging dari kamu atau sebagian dari kamu ?”
Maksudnya adalah karena kemaluan adalah salah satu anggota badan manusia, maka tidak membatalkan wudhu dengan menyentuhnya, sama seperti menyentuh anggota yang lain.”
2. Membatalkan wudhu
Ini yang zahir dari mazhab Ahmad, demikian juga pandangan Ibn Omar, Sa’id bin Musayyib, ‘Ato, Urwah, Sulaiman bin Yasar, al-Zuhri, al-Auza’ie, al-Syafi’ie dan masyhur dari Malik. Hujah mereka ialah hadith yang diriwayatkan dari Busrah binti Sofwan oleh Malik di dalam al-Muwatta’, sabda Nabi saw :
“Barang siapa yang menyentuh kemaluanya, maka hendaklah dia berwudhu.”
al-Tirmizi berkata hadith tersebut hasan sahih.Ahmad juga mensahihkan hadith tersebut. Sedangkan al-Bukhari mengatakan bahwa itu adalah hadis yang terbaik dari yang ada, tapi tidak sampai ke derjat sahih secara otomatis. al-Qaradhawi juga menyebut satu kisah tentang hadith ini dimana ‘Urwah bin Zubair mengingkari hadith dari Busrah Binti Sofwan.
Pendapat Yang Dipilih Oleh al-Qaradhawi
Al-Qaradhawi di bahagian akhir fatwanya berkata :
“Dan yang kami pilih (tarjih) ialah pendapat yang pertama, yaitu tidak batal wudhu dengan menyentuh kemaluan. Jika menyentuhnya dengan syahwat (selama tidak keluar sesuatu) hanya disunatkan wudhu sahaja. Kerana sesungguhnya perkara yang termasuk Umum al-Balwa berlaku kepada semua manusia. Jika menyentuh kemaluan membatalkan wudhu, pasti Nabi saw akan menerangkannya dengan penerangan yang menyeluruh, dinaqalkan dari baginda, diketahui di kalangan umat islam (zaman Nabi saw). Tidak dapat digambarkan apabila hukum seperti ini hanya khusus diketahui oleh seorang atau dua orang dari kalangan mereka (sahabat Nabi saw), bukan semuanya.
Tidak ada satu hadith yang sahih dalam perkara ini selain hadith Busrah binti Sofwan. Dan yang ajaib, perkara yang khusus untuk lelaki ini dinakalkan dari seoran perempuan. Kalaupun kami berpendapat ia sahih, kami pasti mengatakan : sesungguhnya perkara ini (menyentuh kemaluan) padanya mustahab (sunat untuk berwudhu). Ini bertepatan dengan asas yang kami pilih, yaitu asal dalam arahan-arahan Nabi (selain al-Quran) adalah al-Istihbab (sunat), melainkan setelah tertegaknya qarinah (bukti) yang membawa maksud wajib.
Kesimpulan:
- Permasalah batal tidaknya wudhu karena menyentuh kemaluan adalah khilaf fiqh yang muktabar. Perselisihan ini muncul sejak generasi awal dan berlarut-larut hingga sekarang. Setiap pendapat mempunyai hujah masing-masing. Seorang muslim penuntut ilmu, haruslah mengikut pendapat yang paling diyakini bertepatan dengan dalil-dalil.
- Siapa saja yang memilih salah satu pendapat kerana puas dengan hujah yang dikemukakan ulama, maka sesungguhnya dia telah memilih salah satu pendapat yang muktabar.
Seperti kata-kata Imam Auzaie dalam masalah memberi salam kepada orang kafir, “Jika kamu memberi salam (kepada orang kafir), maka ada orang-orang soleh sebelum kamu pernah melakukannya. Dan jika kamu meninggalkannya, maka ada orang-orang soleh sebelum kamu meninggalkannya”. (Tafsir Qurtubi 11/112).
Begitu juga dalam masalah membaca Fatihah di belakang imam, telah berkata Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr al-Siddiq, “Jika kamu membaca, maka kamu mempunyai uswatun hasanah (ikutan yang baik) dari kalangan sahabat Rasulullah SAW. Dan jika kamu tidak membaca, maka kamu juga mempunyai uswatun hasanah dari kalangan sahabat Rasulullah SAW”. (Jamik Bayan al-Ilm Wa Fadhlih no: 1690).
Referensi:
Ruang tanya jawab di al-ahkam.net.
Artikel-artikel lainnya
Menyapu Khuf Ketika Berwudhuk
Bolehkah Bersuci Dengan Tissue Toilet?
Popularity: 9% [?]










Leave your response!