Home » Sistem Masyarakat Islam

Belajar Dari India

26 January 2012 2 Comments

tajmahalKalau ditanya apa kesan orang Indonesia terhadap India, maka jawabannya adalah karena kemiskinan dan kekumuhannya, mobil-mobil ketinggalan jaman di sana, keterkenalan filem-filem hindi, dll. Bahkan ada seorang kawan dari Malaysia pernah mengatakan, kalau mau belajar, belajarlah ke negara barat, jangan belajar ke negara yang lebih miskin dari Malaysia, seperti India atauppun Indonesia. Saya pun bereaksi dengan keras, karena walaupun dianggap miskin, banyak yang bisa dipelajari dari negara-negara tersebut. Berikut ini adalah dua tulisan mengenai India yang ditulis oleh Syaifoel Hardy yang tinggal di Doha dan pernah dimuat di Eramuslim. Sangat menarik tulisannya.

KEDEWASAAN ALA INDIA

[eramuslim  09/12/2003 10:52 WIB] – Usai sholat Dzuhur kami langsung menuju kediaman Bapak Konsul Jenderal RI, memenuhi undangan makan siang bersama, masih dalam suasana Lebaran. Tanpa diliputi rasa `sungkan’ ikut bersama saya dua orang rekan asal India, Mohammad Thufail dan Abdul Karim, yang sengaja saya ajak untuk mengenal sebagian rasa `Inilah Indonesia ku’!  Bersalam-salaman, kemudian….makan! Itulah acara intinya.

Kebetulan di ruang makan hanya ada kami bertiga, karena yang lainnya sudah selesai makan dan berada di ruangan depan. Kami, cowok semua, memasuki ruangan, sementara di ruang sebelah, disaat saya menjelaskan sebagian bahan dasar makanan yang tersaji kepada dua orang ini, terdengar berulang kali “Ha…ha…..ha….hi..hiii…hiii.!”, suara ibu-ibu, mbak-mbak, tertawa. Entah apa obyek pembicaraannya. Saya sendiri, karena terbiasa, tidak `risih’ mendengarnya. Tetapi dua orang India yang bersama saya, ekspresinya lain. Mohammad Thufail sering memalingkan pandangannya ke saya bilamana `geeerrrrr….’ terdengar. Akupun tersenyum. Maklum!

“Kenapa perempuan Indonesia kok bicaranya tidak bisa pelan dan tertawa seperti itu?” Aku tersentak oleh pertanyaannya. Tersinggung? Tentu saja “Ya!” Apalagi pertanyaan (Baca: pernyataan!) Thufail adalah bentuk generalisasi, karena tidak semua perempuan Indonesia bersikap seperti di ruang sebelah. Mereka di sana memang omongannya keras dan tertawanya `cekikikan’ orang Jawa mengistilahkan. Padahal lebih dari separuh diantara mereka berjilbab? Lantas apa hubungannya jilbab dan omongan serta ketawa yang keras ini? Barangkali itulah batasan yang dimengerti oleh Mohammad Thufail. Bahwa muslimah dan omongan keras ini erat sekali kaitannya.

Sebagai `tuan rumah’, aku ingin `membela’ mereka, betapapun yang diungkapkan Mohammad Thufail adalah nyata dan benar. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa hendaklah perempuan-perempuan itu tidak mengeraskan suaranya….. Mohammad Thufail secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa sikap perempuan-perempuan yang berbicara keras dan tertawa lebar tidak dibenarkan. Itu singkatnya! Namun untuk berbicara langsung seperti itu, kayaknya `kasar’. Makanya, pada hemat Thufail, dari pada mendiagnosa, lebih baik bertanya, lebih `sopan’. Tapi bagi saya, keduanya tidak beda, bertanya atau mendiagnosa, intinya sama! Setali tiga uang!

“Perempuan Indonesia biasanya memang berbicara dan tertawa keras….tetapi mereka tidak membicarakan orang lain Thufail! Tidak
seperti perempuan India, mereka berbicara pelan-pelan, namun menggunjingkan orang lain….we call it `ngrumpi’!” Gurauku, yang dijawab Thufail pula dengan tawa. Kami pun tertawa (Baca: ha..ha..ha…), namun tidak sekeras di ruangan sebelah, melupakan obyek diskusi segar siang itu.

Beberapa kali saya ikut pertemuan, katakan temu publik, dimana laki- laki dan wanita juga kumpul, terpisah tempatnya, diantara orang-orang India. Bagi orang kita, campur baur tidak `masalah’. Apa yang ditemui Mohammad Thufail diantara kami yang bukan hanya terjadi pada perempuan-perempuan Indonesia, tanpa melebih-lebihkan, nyaris tidak saya temui diantara komunitas India. Mereka begitu rapi, teratur, padahal jumlahnya tidak sedikit. Tentu yang ini jangan bandingkan dengan gambaran orang India yang ada pada film-film yang beredar di Indonesia!

Saya pernah menghadiri pertemuan Indian Muslim Association di Dubai, yang diikuti tidak kurang dari 3000 peserta. Para peserta begitu tertib, tidak gadau, dan subhanallah…..menyiapkan makanan untuk 3000 orang kan tidak sedikit? Meski demikian, terkesan teratur. Mereka adalah kumpulan dari berbagai organisasi Islam India, yang tidak terkesan mengenal adanya perbedaan. Mereka bahu-membahu, mulai dari menggelar tikar hingga mengemasi sampahnya. Sementara masyarakat kita… masyaAllah…. padahal waktu itu bulan puasa, sekitar 200 orang hadir. Usai berbuka, Ta’jil, hanya sebagian yang melaksanakan sholat Maghrib, yang lainnya ngobrol, merokok, seolah tidak sholat bukan menjadi persoalan. Astaghfirullah! Pemandangan itu ada di depan mata Mohammad Ashraf, orang India lainnya yang kebetulan istrinya seorang warga Indonesia di Dubai.

Barangkali saya yang terlalu berburuk sangka terhadap orang kita sendiri, dan terlampau berbaik hati kepada India. Mungkin saja saya orang Indonesia yang `sok’ India. Wallahu `alam!

Kalau mau jujur, orang India memang banyak juga yang buruk perangainya, karena sebagian besar penduduknya yang saat ini sudah mencapai angka diatas satu miliar jiwa, didominasi oleh orang-orang Hindu. Hampir setiap hari kekerasan, pembunuhan, perkosaan, perampokan, bencana alam, kelaparan, dan lain-lain musibah kemanusiaan terjadi di daratan Asia Selatan ini akibat ulah orang India. Tapi bukankah fenomena yang sama juga terjadi di Indonesia?

Kembali lagi. Kalau mau jujur, kita lebih baik mencari kebaikan mereka, tidak perlu dinventarisasi kejelekannya. Tapi kita harus pula inventarisasi kejelekan diri sendiri supaya ada upaya untuk memperbaikinya. Kita ambil hikmahnya, agar kita menjadi umat Islam yang berkualitas. Sudah begitu banyak contoh-contoh kebaikan yang bisa jadi `prestasi’ orang-orang India yang kita belum mampu menandinginya dalam banyak segi kehidupan.

Kita mulai dari segi pendidikan? Perbandingan jumlah lulusan S2 kita dengan India, yang konon miskin, ternyata 1:60. Jadi jika ingin kualitas pendidikannya seperti mereka, kita masih harus belajar 60 kali lebih giat! Padahal peranan pendidikan ini penting guna meningkatkan kualitas manusia. Dari segi teknologi, hingga saat ini hanya orang asing asal India yang bisa duduk setingkat dengan orang Amerika Serikat di NASA. Hotmail.com, penemunya orang India, Sabir Bhatia namanya. Bos Microsoft Bill Gates sampai akhirnya tertarik untuk menanamkan modalnya di India, negara pengeskpor tenaga kerja komputer terbesar dari Asia, utamanya dari kota Hyderabad, pusat pendidikan komputer negara tersebut.

Perdagangan? India berada di peringkat kedua pengkespor terbesar di Timur Tengah, sementara Indonesia di posisi 10. Sampai-sampai penyiar TV BBC pun orang India! Film? Tanpa melihat kualitasnya, mereka mampu memproduksi 1000 film dalam setahun, jauh melebihi Hollywood. Film India jadi tuan rumah di negeri sendiri. Film kita? `Boro-boro’ jadi tuan rumah dan kualitas. Sudah bisa diproduksi saja sudah lebih dari untung!

Tenaga kerja? Dimana di dunia ini yang tidak ada orang India nya? Amerika, Inggris, Afrika Selatan, Jepang, Malaysia, Singapore, Australia, bahkan mereka mampu menembus jaringan televisi Indonesia. Mereka menyebar ke berbagai bidang lapangan pekerjaan, mulai dari bawah tanah hingga luar angkasa. Mereka yang bekerja di hotel tadinya sebagai pelayan, tidak akan berhenti berjuang sebelum menjadi manager. Tekun dan ulet sekali! Tenaga kerja kita? Lebih dari 90 % yang kita `ekspor’ rata-rata tenaga kerja yang tidak atau kurang terampil.

Agama? Buku-buku Islam kondang banyak yang dihasilkan oleh maulawi- maulawi asal India. Indonesia `pandai’ menterjemahkannya. The Holy Quran English version, standard, yang dipakai di dunia Islam adalah terjemahan karya Abdullah Yusuf Ali yang asal India. The Nobel Quran and The Interpretation juga karya Muhammad Muhsin Khan, dosen di Madinah University. Ahli Perbedaan Agama Ahmed Deedat yang berwarga negara Afrika Selatan juga aslinya India. Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghozali dikemas dalam Bahasa Inggris oleh Maulana Fazlul Karim. Dan masih banyak lagi contoh-contoh prestasi mereka yang membuat kita iri. Sementara ribuan lulusan IAIN dan Al Azhar-Cairo kita bukan apa-apa jika dibanding dengan prestasi ulama-ulama India dalam kaitannya dengan penerbitan buku berkelas internasional. Karena buku-buku kita, yang sudah mahal, ternyata hanya muatan lokal, alias untuk mereka yang mampu berbahasa Indonesia!

Keuletan mereka dalam berorganisasi, dedikasi mereka terhadap organisasi, tidak diragukan. Abdul Azeem, sekarang sudah balik ke
India, 17 tahun lamanya setiap minggu mengedarkan buletin organisasinya, ke sekitar 10 orang langganan dibawah koordinasinya, hanya untuk memperoleh Dhs 2 per eksemplarnya (sekitar Rp 4000). Dia juga rajin mengumpulkan sadaqah orang-orang di desanya setiap bulan sekali secara tetap tidak kurang dari 10 tahun. Masih banyak azeem-azeem lainnya yang saya temui yang melakukan kegiatan serupa.

Orang India paling bangga dengan hasil produksinya sendiri. Mereka yang terjun di organisasi-organisasi Islam, tanpa melihat kualitas
buletinnya, terpanggil untuk membelinya secara rutin sebagai pelanggan agar secara finansial organisasinya tetap eksis. Mereka tidak akan berpikir dua tiga kali untuk membeli buku-buku Islam yang terpajang di meja-meja kantor organisasi Islamnya. Mereka khusyuk setiap kali mendengarkan khotbah-khotbah yang disampaikan oleh dai-dai, meskipun kelasnya tidak seperti Aa Gym. Orang kita? Akan menganggap khotbah `berkualitas’ jika banyak dibumbuhi oleh lawakan-lawakan segar.

`Belomba-lombalah kamu mencari kebajikan!’Begitu perintah Allah SWT. Ada banyak hal yang perlu kita pelajari dari orang India. Sekiranya Malaysia dan Singapura tidak perlu menyeberang dari tempat kita, ingin rasanya teman-teman saya ajak untuk melihat dari dekat bagaimana muslim India disana hidup dan menghidupkan Islam. Sehingga tidak perlu harus jauh-jauh ke negeri asalnya, anak benua Asia Selatan, apalagi harus ke Timur Tengah.

Apa yang terpampang dalam film-film India memang banyak yang tidak pantas kita tiru, karena muatannya tidak lebih dari budaya kehidupan bebas, sebagaimana umumnya film-film kita. Namun demikian dari uraian diatas, sudah jelas bahwa kita masih harus menimba ilmu banyak dari mereka, agar lebih dewasa lagi. Tidak sekedar menghindari tawa dan berbicara keras saja. Kita perlu belajar banyak supaya bisa dewasa seperti halnya orang-orang Islam kita dulu yang berguru mendapatkan kedewasaan tentang Islam kepada Maulana Malik Ibrahim, salah satu sunan Walisongo kondang yang makamnya berada di Gresik-Jawa Timur. Tahukah anda dari mana asal beliau?

MENENGOK KESERAKAHAN INDONESIA DARI BUMI INDIA

[eramuslim - Doha, 8 October 2009 ] Dalam sebuah ceramah akbar di Dubai-UAE beberapa tahun lalu, saya sempat bertanya kepada Dr. Zakir Naik, ulama besar asal India, ahli perbandingan agama yang tersohor namanya. Subyek pertanyaan saya adalah mengapa Islam boleh dikata tidak berhasil di India padahal India pernah di bawah sebuah kerajaan besar Islam, misalnya kekaisaran Mughal yang terkenal dengan Taj Mahal, atau Kerajaan Mysore yang terkenal pula dengan Isnata Maysore yang terindah didunia, bahkan melebihi Istana Birmingham. Dr. Zakir Naik menjawab, bahwa petinggi-petinggi kerajaan Islam di India waktu itu lebih memfokuskan kepada bangunan-bangunan fisik ketimbang dakwah Islam. Itulah salah satu faktor utama mengapa Islam malah menjadi minoritas di sana.

Ingin mengetahui lebih dekat jejak-jejak kebesaran Islam di India inilah yang manjadi salah satu motivasi saya untuk ingin melihat dari dekat apa dan bagaimana sebenarnya India. Disamping tentu saja banyak hal yang melatar-belakangi kunjungan saya, misalnya silaturahim dengan rekan-rekan kerja saya yang sudah mengundurkan diri, melihat institusi pendidikan serta mencari buku-buku India sesuai dengan profesi saya.

Banyak hikmah yang bisa depetik dari rangkaian perjalanan saya selama dua minggu di India, di empat negara bagian: Karnataka, Kerala, Delhi dan Uthar Pradesh. Jika dijabarkan satu persatu, terlalu panjang untuk diungkap di sini. Yang saya ingin soroti, dan semoga membawa hikmah bagi kita adalah, bahwa meskipun India kelihatannya miskin (padahal pertumbuhan ekonominya di atas Indonesia), nyatanya tidak semiskin yang kita sangka. Malah bumi kita yang dari kacamata saya, yang mestinya amat kaya raya ini, dihuni oleh orang-orang serta kepemimpinan bangsa yang serakah.

Saya mendarat di Bandara Internasional Bajpe-Karnataka, dua hari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Tidak ada kesan bahwa bulan itu adalah Bulan Suci Ramadan. Maklum, India mayoritas penghuninya adalah umat Hindu. Saya sendiri berbuka puasa di atas pesawat, dengan suguhan Upuma dan Wadha. Dua makanan tradisional India yang amat murah harganya. Itu pun, sebenarnya jatah makan siang yang saya taruh di depan kursi pesawat untuk bekal berbuka. Saya tahu, mereka tidak akan menyiapkan untuk yang berpuasa. Lagi pula, budget airline seperti Air India Express yang kami tumpangi tidak memberikan pelayanan istimewa kepada penumpang.

Bandara Internasional Mangalore ini amat sederhana. Orang-orangnya tertib antri menunggu giliran pengecekan Flu Babi oleh petugas kesehatan. Tidak terlalu lama prosesnya. Saya segera keluar menuju kota Karkala, sebuah kota kecil sekelas kecamatan di negeri kita, sekitar 75 km dari bandara. Seorang rekan lama bersama keluarganya menjemput saya. Malam itu bandara diguyur gerimis.

Zahoor Ahmad, nama rekan saya, bersama keluarganya, begitu ramah menyambut kedatangan saya diteruskan dengan hari-hari berikutnya menjamu saya sebagai tamu. Mulai dari makanan, diantarkannya saya ke sejumlah tempat bersejarah serta wisata, menikmati suasana Lebaran di daerahnya, serta tentu saja mengunjungi sanak familinya di sejumlah kota.

Kekaguman di hari pertama saya terhadap orang-orang India (setidaknya itu yang saya temui di rumah Zahoor) adalah, binatang-binatang sekelas Burung Merak, berterbangan di halaman rumah. Bahkan masuk ke ruang tamu serta dapur. Padahal burung-burung indah ini tidak dipelihara alias liar. Orang India sepertinya tidak terbiasa memiliki burung-burung dalam sangkar. Atau pemerintah memang tidak mengijinkan, wallahu a’lam!

Di kota-kota lain yang saya kunjungi, seperti Kannur, Calicut, Mangalore, Maysore, Agra, Bangalore hingga Ibu Kota Delhi, juga saya tidak melihat orang-orang yang memelihara binatang-binatang langka di rumahnya. Barangkali hal ini yang membuat binatang-binatang atau burung-burung ini akrab dengan manusia-manusia India. Anak-anaknya Zahoor bahkan dengan akrabnya memberikan makanan pada Burung Merak. Padahal rumah indahnya tidak terletak di tengah hutan belantara seperti Papua. Burung-burung seperti Jalak, Merpati, Camar hingga Tupai yang beragam warnanya, saya temui di banyak tempat berkeliaran yang membuat lingkungan kita merasa asri.

Saya sering mendengar atau membaca di Koran tentang keburukan politisi India. Tapi rasanya tidak sebanding dengan di negeri kita utamanya dalam soal pemeliharaan lingkungan hidup. Saya pernah melihat sungai kotor di Delhi. Tapi pemandangan yang sama tidak saya temukan di kota-kota lainnya. Di Kannur misalnya, sungai masih hijau dan jernih. Padahal sungai besar, lebarnya tidak kurang dari 200 meter. Bau selokan di kota-kota India, tidak seperti yang saya temui di Jakarta atau Surabaya.

Hal ini pertanda bahwa orang-orang India tidak serakah terhadap kekayaan alam atau ingin memilikinya. Hutan Papua milik kita, gunung emas di sana `dirampok’ dan digadaikan ke orang asing. Orang kita secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan juga memeliharan binatang atau burung-burung langka, sebagai bagian dari kebanggaan mereka. Saya tidak melihat, jangankan pasar burung, orang jualan sangkar saja sulit ditemui, meski mungkin saja ada di sana. Pabrik-pabrik di negeri kita banyak yang (Baca: dengan `seijin’ penguasa) seenaknya membuang limbah.

Hal kedua yang menarik perhatian saya adalah cara berpakaian orang India. Kita memang tahu, orang India suka mengenakan Sari, pakaian tradisional kaum Hawa yang melingkar di tubuh. Bagi kaum Hindu, memang tidak seluruh tubuh tertutup. Sebagian (maaf) perut, terbuka. Namun tidak semua orang Hindu mengadopsi cara mengenakan Sari seperti ini, terutama kaum mudanya. Apalagi Muslimah India. Tertutup. Laki-laki India juga bangga mengenakan Shalwar Gameez atau Kurta atau Dhoti dan lain-lain pakaian tradisional. Zahoor member saya Kurta yang saya kenakan pada saat Lebaran.

Perempuan India, betapapun dari kalangan modern di tengah kota, bangga dengan pakaian tradisional mereka. Sutera di India jauh lebih murah dibanding Indonesia. Kekayaan tekstil yang dimiliki India menjadikan salah satu modal mereka tidak tergoyah ingin meniru dengan pola berpakaian ala Barat. Sekalipun kita tahu di film-film India banyak yang berpakaian seronok. Tapi dalam kehidupan sehari-hari, tidak demikian yang saya temui. Apalagi pakaian mini seperti yang kita temui di negeri ini. Sepertinya tabu, jika anak-anak atau perempuan-perempuan mereka mengenakan rok mini atau celana ketat. Padahal dalam segi pendidikan dan pergaulan, keponakan-keponakan atau saudara Zahoor misalnya, banyak yang berpendidikan tinggi setingkat dokter dan insinyur, mereka tidak tergiur dengan pola pakaian Barat yang mati-matian kita adop di negeri kita.

Budaya konsumsi orang India juga tidak seperti yang kita lihat dalam film-film mereka. Di Karkala, di tengah pasar, saya sulit mendapatkan kertas Tissue. Setelah mengunjungi 10 toko, baru saya mendapatkannya. Itupun sudah usang dan kartun pembungkusnya pun robek. Orang sana tidak tergiur dengan budaya menggunakan tissue. Mereka lebih senang mengantongi sapu tangan. Lagi pula di rumah-rumah, apakah itu di bagian depan, samping atau belakang, umumnya tersedia pipa air untuk cuci tangan atau kaki. Di ruang makan juga tersedia wastafel atau tempat cuci tangan. Jadi mengapa harus menyediakan tissue? Barangkali begitulah pola pikir mereka.

Pasar India tidak seterbuka pasar kita memang. Barang-barang yang ada di sana mayoritas buatan dalam negeri. Sepanjang perjalanan saya di empat negara bagian ini, jarang sekali saya menemui kendaran Toyota. Sesekali saya memang jumpai Innova. Selebihnya, entahlah, orang India lebih bangga mengendarai Maruti, Tata serta Bajaj, hasil rakitan mereka sendiri yang tidak semewah Corolla atau BMW.

India begitu bangga dengan hasil karya mereka sendiri serta tidak silau dengan buatan orang lain, apakah itu Jerman, Amerika hingga Jepang. Mulai dari pakaian, makanan, bahan bangunan, hingga gaya hidup. India tidak serakah dengan gemerlap dari luar pagar negara di anak benua Asia bagian Selatan ini.

Saya menyempatkan melihat buku-buku pelajaran milik dua anak rekan saya, bernama Zaman (kelas dua SMP) dan Zeeshan (kelas 2 SMA). Buku-buku mereka nampak sederhana sekali. Kualitas kertas nya tidak sebagus sebagian besar anak-anak sekolah kita. Saya menemui seorang Dekan di Universitas Manipal dengan mudah. Pula diterima oleh sekretarisnya penuh keramahan. Padahal saya hanyan ingin mmendapatkan sekedar informasi. Di perguruan tinggi kita, jangan harap diterima seorang dekan untuk urusan yang satu ini.

Saya mengunjungi sebuah perguruan tinggi terkenal, Manipal University di kota Manipal. Gedungnya tidak mentereng. Ruang-ruang kuliahnya tidak ber-AC, padahal jika musim panas tiba, suhunya bisa mencapai lebih dari 40 derajat. Berarti panas sekali. Bangku-bangku kayu juga sudah tua untuk ukuran kita, yang bisa diduduki oleh 4 mahasiswa. Dosen-dosen mereka juga kelihatan sederhana. Hal ini bisa saya ketahui lewat pola pakaian mereka serta tentu saja kendaraannya.

Biaya sekolah hingga kuliah tergolong murah sekali. Mengantongi MBA dalam dua tahun hanya menelan biaya sekitar Rp 10 juta, sebuah jumlah yang amat sedikit di negeri kita untuk program pasca sarjana. Uang saku Zaman, ketika saya tanya, dia bilang hanya diberi Ibunya Rupees 150 (tidak lebih dari Rp 40 ribu) per bulan. Berarti hanya Rp 1000 per hari. Apa artinya Rp 1000 di negeri ini? Dia juga berangkat ke sekolah dengan sandal saja. Tapi kemampuan Bahasa Inggrisnya `ngewes’, selancar anak-anak kita berbicara Bahasa Jawa saja di kampung-kampung.

Buku-buku India murah sekali. Saya belanja tidak kurang dari 18 kg untuk buku-buku yang sulit mendapatkannya di Tanah Air. Buku-buku profesi yang saya dapatkan dari sana hanya tersedia kalau mau ke Amerika Serikat atau Inggris saja. Buku terbitan India terkesan tidak serakah mengambil keuntungan. Saya jadi heran, kebijakan apa yang diambil oleh generasi-generasinya Jawaharal Nehru ini, sehingga pendidikan tinggi mudah terjangkau serta buku yang teramat murah, tapi kualitas lulusannya bisa duduk di NASA-USA, terbang ke bulan dan jadi dosen-dosen di banyak universitas ternama di Negeri Paman Sam.

Tempat rekreasi rata-rata murah sekali tiketnya. Padahal kelasnya tidak tanggung-tanggung. Taj Mahal, biaya masuknya hanya Rupees 20 atau hanya sekitar Rp 5 ribu. Coba kalau kita mau masuk Taman Mini atau Ancol? Bandingkan kelasnya dengan Taj Mahal!

Pemerintah India tidak rakus terhadap perolehan hasil pajak dari pariwisata sebagaimana di negeri kita. Travel package pula itungannya murah sekali. Di Delhi, mengunjungi 10 tempat wisata, hanya bayar tidak lebih dari Rp 100 ribu, naik bis Volvo ber-AC. Travel agent tidak terkesan serakah mengambil keuntungan banyak dari pelanggan. Padahal, kami diantar oleh guide-guide professional.

Sebagian tempat wisata malah tidak ditarik iuran (karcis) masuk sama sekali. Saya jadi heran, bagaimana dengan biaya pemeliharaan tempat-tempat ini? Padahal mereka punya tukang-tukang pembersih atau tukang sapu yang kebanyakan perempuan-perempuan bersari. Meski keamanan amat ketat di banyak tempat, tapi petugas keamanan India tersekan ramah terhadap pengunjung. Saya tidak menemui pengalaman yang kurang atau tidak mengenakkan sama sekali selama mengunjungi tempat-tempat wisata ini.

India memang bukan negara kaya. Orang miskin banyak sekali. Banyak tempat juga kurang terpelihara. Jalan-jalan juga banyak yang berlubang. Bangunan di Delhi juga tidak semegah di Jakarta. Komunal konflik juga acapkali marak. India barangkali bukan sebuah percontohan. Maklum, jumlah penduduknya lebih dari 5 kali jumlah penduduk Indonesia. Meski demikian, saya tidak melihat pengemis yang berkeliaran di sana-sini. Saya tidak melihat satu pengemis pun datang ke rumah Zahoor, Abdul Karim Mohammad Koya atau Abdul Azeem. Saya melihat ada pengemis di kota-kota. Tapi juga tidak `gentayangan’ seperti di negeri kita yang acapkali mengganggu pengguna jalan, masuk bis-bis, mengetuk jendela mobil hingga ngebel rumah kita yang bisa jadi lebih dari 5 kali sehari.

Tukang amen atau pemusik jalanan? Meski India amat terkenal dengan musik, lagu-lagu dan tarian-tariannya, saya tidak melihat tukang amen atau pemusik atau penyanyi jalanan ini di mana-mana. Tidak pula saya temui satu kali pun mareka masuk di dalam bis atau kereta api. Apalagi mereka yang naruh kotak amal di tengah jalan, tidak pernah saya jumpai.

Di negeri kita? Dalam perjalanan Malang-Surabaya, yang sepanjang 70 km, anda bisa menemui sebanyak angka itu pula yang namanya pemusik dan pengemis. Saya tidak membela pemusik atau pengemis atau penjaja makan di India. Tapi itulah kenyataannya. Mereka tidak serakah mencari pasar. Saya tidak pernah merasa terganggu dengan kehadiran meraka di tempat-tempat wisata atau rumah-rumah rekan yang kami kunjungi.

Pembaca….Saya tidak mau disebut sebagai orang Indonesia yang kufur akan nikmat Allah. Tapi bencana di Sumatera Barat, banjir si sejumlah daerah, mahalnya bahan-bahan pokok, sulitnya mencari minyak tanah dan gas, tidak terjangkaunya biaya pendidikan dan layanan kesehatan (yang ini di India juga murah sekali), semuanya jadi membuat saya iri dengan apa yang terjadi di India, sebuah negara besar yang mampu melahirkan manusia-manusia besar seperti Mahatma Gandhi, Nehru, Rabindranath Tagore hingga India Gandhi.

Ada banyak PR yang harus digarap oleh pemimpin-pemimpin di negeri ini. Jumlah masjid yang bertebaran di negeri ini (sulit mendapatkan hal yang sama di India), berjimbunnya jumlah majelis taklim serta kajian Agama Islam di televise-televisi, maraknya Da’i-da’i yang bersemangat sekali dalam berceramah memikat umat, sepertinya jauh dari cukup tanpa ada langkah konkrit: bagaimana mengelola sumber daya alam dan potensi manusia Indonesia yang konon sering meraih prestasi di berbagai momen olimpiade ini, agar menjadikan negeri ini lebih baik.

India memang bukan segalanya. Tapi melihat Indonesia dari jendela India, saya jadi bertanya-tanya. Ada apa dengan negeri ini?

Oh ya, pada hari terakhir kunjungan saya di India, di Bandara Mangalore, saya tidak perlu membayar pajak sepeserpun. Sementara di Cengkareng, saya yang asli orang Indonesia, harus bayar Rp 150 ribu, itu belum termasuk biaya fiscal yang konon `hanya’ Rp 1 juta, jika anda harus ke luar negeri.

Ah, Indonesia!

Popularity: 4% [?]

2 Comments »

  • Sunu Wibirama said:

    Salam kenal Pak,
    Menarik sekali artikel Anda. Saya, pernah 2 tahun di Thailand dan sempat mengunjungi beberapa negara ASEAN, sangat sepakat dengan pendapat Anda. Kita perlu belajar dari negeri-negeri “miskin” yang mampu melahirkan orang-orang besar. Banyak sekali buku-buku India dijual di Thailand (dengan lisensi khusus tentunya) dan harganya amat sangat terjangkau. Bagi saya, ini sebuah berkah tersendiri yang tidak mungkin ditemukan di Indonesia. Kita masih harus belajar banyak dari mereka, setidaknya mendorong para pemimpin dan pengusaha percetakan di negara kita untuk mencontoh India!

  • wiemasen (author) said:

    Terima kasih atas komentar anda. Tapi ini bukan artikel saya :) Cuma karena menarik saya letakkan di blog saya.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.