Home » Yang Ringan

Sudahkah Anda Merasakan Biawak Padang Pasir?

3 February 2012 6 Comments

image008

Mereka yang pernah melihat dhab di Madinah mengatakan bahwa dhab tidak sama dengan biawak. Dhab adalah hewan yang hidup dalam tanah padang pasir dan makanannya adalah tumbuh-tumbuhan (herbifora). Sedangkan biawak seperti yang dikenal di Indonesia adalah binatang buas bertaring yang termasuk ke dalam jenis hewan pemangsa (karnifora).
Apa hukumnya makan biawak (bukan dhab)? Ulama-ulama Syafie memasukkan biawak sebagai binatang yang kotor atau khaba’its dan hukumnya adalah haram dimakan.

Bagaimana dengan dhab sendiri?

Bagi yang merasa jijik, makan dhab adalah makruh. Hal ini berdasarkan hadits di bawah ini:

“Artinya : Dari Abdur Rahman bin Syibl berkata: Rasulullah melarang dari makan dhab (hewan sejenis biawak). [Hasan. HR Abu Daud (3796), Al-Fasawi dalam Al-Ma'rifah wa Tarikh (2/318), Baihaqi (9/326) dan dihasankan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam FathulBari (9/665) serta disetujui oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 2390)]

Tapi makan dhab bukan dihukum makruh secara mutlak. Selama orang itu tidak jijik, maka tiada larangan untuk memakannya. Hal ini dapat ditemui dalam hadits-hadits Bukhari Muslim yang menjelaskan bolehnya makan dhab baik secara tegas berupa sabda Nabi maupun taqrir (persetujuan Nabi). Diantaranya , Hadits Abdullah bin Umar secara marfu’ (sampai pada nabi).

“Artinya : Dhab, saya tidak memakannya dan saya juga tidak mengharamkannya.” [Hadits Riwayat Bukhari no.5536 dan Muslim no. 1943]

Demikian pula hadits Ibnu Abbas dari Khalid bin Walid bahwa beliau pernah masuk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke rumah Maimunah. Di sana telah dihidangkan dhab panggang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkehendak untuk mengambilnya. Sebagian wanita berkata : Khabarkanlah pada Rasulullah tentang daging yang hendak beliau makan !, lalu merekapun berkata : Wahai Rasulullah, ini adalah daging dhab. Serta merta Rasulullah mengangkat tangannya. Aku bertanya : Apakah daging ini haram hai Rasulullah? Beliau menjawab : “Tidak, tetapi hewan ini tidak ada di kampung kaumku sehingga akupun merasa tidak enak memakannya. Khalid berkata : Lantas aku mengambil dan memakannya sedangkan Rasulullah melihat. [Hadits Riwayat Bukhari no. 5537 dan Muslim no. 1946]

Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (9/666) menyatakan bahwa larangan dalam hadits Abdur Rahman Syibl tadi menunjukkan makruh bagi orang yang merasa jijik untuk memakan dhab. Adapun hadits-hadits yang menjelaskan bolehnya dhab, maka ini bagi mereka yang tidak merasa jijik untuk memakannya.

Mungkin ada yang ngeri atau jijik melihat orang makan dhab. Tapi coba bandingkan dengan contoh lainnya seperti orang yang tidak biasa makan kelinci, tentu mereka tidak sanggup melihat sate kelinci. Atau aktifis penyayang binatang tentu terbelika matanya ketika melihat kambing guling yang dipamerkan disepanjang jalan menuju ke Puncak. Lain halnya bagi penggemar kambing guling, bisa meleleh air liurnya. Mungkin kita tidak biasa makan bekicot. Tapi bekicot di ekspor ke Prancis dan menjadi makanan elit di restoran-restoran sana. Selama binatang tersebut halal dimakan, maka masalah ngeri atau tidak tergantung kepada kebiasaan atau budaya setempat.

Berikut ini adalah gambar-gambar cara memasak nasi briani dengan lauk dhab. Saya peringatkan anda, kalau anda orang yang jijikan, jangan coba-coba melihat keseluruhan gambar-gambar di bawah ini.

Kejar dan tangkap dhab (biawak arab) terlebih dahulu. Jangan lupa memakai baju dan celana longgar agar mudah untuk berlari. Kalau ada topi bagus juga supaya tidak terlalu kepanasan kepalanya.

Kejar dan tangkap dhab (biawak arab) terlebih dahulu. Jangan lupa memakai baju dan celana longgar agar mudah untuk berlari. Kalau ada topi bagus juga supaya tidak terlalu kepanasan kepalanya.

Gunakan sandal untuk menjepit Dhab yang ditangkap. Tapi jangan yang mahal-mahal ya?

Gunakan sandal untuk menjepit Dhab yang ditangkap. Tapi jangan yang mahal-mahal ya?

Kalau digunakan untuk kendurian, tangkap biawaknya yang banyak sedikit. Tidak apa-apa berlari-lari di padang pasir untuk jangka waktu yang lama, nanti kalau waktu makan pasti puas.

Kalau digunakan untuk kendurian, tangkap biawaknya yang banyak sedikit. Tidak apa-apa berlari-lari di padang pasir untuk jangka waktu yang lama, nanti kalau waktu makan pasti puas.

Walaupun bukan ayam atau kambing, jangan lupa disembelih dhab nya ya?

Walaupun bukan ayam atau kambing, jangan lupa disembelih dhab nya ya?

Buang kulitnya juga, kecuali anda suka makan kulit biawak :)

Buang kulitnya juga, kecuali anda suka makan kulit biawak :)

Ekornya jangan dibuang. Soalnya enak juga dijadikan lauk.

Ekornya jangan dibuang. Soalnya enak juga dijadikan lauk.

Ini dia hasil tangkapan kita. Jangan keburu muntah ya, masih ada kelanjutannya.

Ini dia hasil tangkapan kita. Jangan keburu muntah ya, masih ada kelanjutannya.

Lumayan kalau pas dapat dhab yang lagi bunting, dapat makan telurnya.

Lumayan kalau pas dapat dhab yang lagi bunting, dapat makan telurnya.

Masak bersama-sama dengan nasi briani.

Masak bersama-sama dengan nasi briani.

Siap untuk dimakan beramai-ramai.

Siap untuk dimakan beramai-ramai.

Popularity: 9% [?]

6 Comments »

  • Bawang Goreng said:

    Sudah dilihat gambarnya, tak sanggup ku telan…

    Huk.. huk…

  • wiemasen (author) said:

    Melihat dari blog saja sudah susah menelan. Apalagi kalau melihat langsung :)

  • Mim4 said:

    Wek….

  • ida said:

    di Al -Qur’an dah dijelaskan apa yang boleh dantidak boleh untuk dikonsumsi. mending ngikutin yang di Qur’an aja. seperti daging kelinci, dagi ikan lumba2 , gak sanggup buat makannya. hewan yang subhanallah begitu lucu menurut saya bukan untuk dimakan tapi untuk dipelihara. sebaiknya kita sbg manusia jangan melampaui batas. meskipun tidak dilarang, tetaop saja gak tega makannya.labih baik sesuai yang telah di ajarkan di dalam Al -Qur’an. wassalam

  • wiemasen (author) said:

    Ida…hukum agama bukan dari al-Quran sajalah, tapi juga dari sunnah. Kalau anda tidak tega untuk makan binatang seperti kelinci, bukan berarti orang lain memiliki pendapat yang sama dengan anda. Ini terlalu subjektif. Tega tidak tega tergantung dari manusianya. Hukum yang diturunkan dari al-quran dan sunnah bukan berdasarkan tega dan tidak tega nya manusia.

  • wdm said:

    hhahaha… kocak
    sakit perutku ketawa baca note fotonya
    haha :D

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.