Aqidah

Membahas aqidah yang sahih menurut sunnah.

Bulan Islam

Pahami bagaimana bulan-bulan Islam itu ditentukan.

Ekonomi Islam

Belajar seluk-beluk perbankan Islam.

Politik

Politik dari sudut pandang Islam.

Fiqh

Berbagai macam jawaban fiqh.

Home » Fiqh

Kepentingan Mengetahui Dalil-Dalil Agama

Submitted by on June 30, 2012 – 3:51 pmNo Comment

Saya pernah menemukan sebuah kisah nyata dimana seorang nenek yang sudah tua “collapse” sebelum puasa Ramadhan. Ternyata nenek itu tidak tahan karena harus berpuasa penuh selama bulan Rajab dan Syaaban. Katanya ini merupakan tradisi yang biasa dilakukan di negaranya. Walaupun nenek itu sempat pingsan, masih ada juga kawan-kawan dekatnya yang mendukung usaha tersebut. Alasannya adalah seorang ‘alim yang menjadi rujukan mereka mengatakan bahwa sunnah hukumnya berpuasa berturut-turut mulai dari Rajab, Syaban hingga Ramadhan.

Saya pernah mengingatkan mereka bahwa itu tidak ada landasannya dalam agama, dan bisa dikatakan bid’ah. Mereka tidak percaya dengan kata-kata saya, karena dianggap saya tidak tahu apa-apa mengenai ilmu agama. Saya tidak heran dengan hal ini. Berdasarkan pengamatan saya, kalau seruan kamu ingin didengar oleh orang lain, paling kurang kamu harus punya ijazah pendidikan agama formal. Tapi saya tidak berkecil hati. Yang penting saya sudah menyampaikan kebenaran, terserah mereka mau menerima atau tidak.

Apa hukumnya puasa 3 bulan berturut-turut itu?

Puasa 3 bulan penuh mulai dari Rajab, Syaaban hingga Ramadhan tidak ada landasannya sama sekali. Menurut bekas pengurus  Lajnah Fatwa al-Azhar, Syiekh Atiyah Saqr rh, puasa seperti itu merupakan bid’ah yang mazmumah karena tidak ada contoh dari hadith-hadith Nabi saw. Berpuasa pada bulan Rajab dan Syaaban dibenarkan oleh syara’, selama tidak dilakukan 2 bulan penuh. (Syiekh Atiyah Saqr, Ahsanul Kalam, 5/682)

Imam Ibnul Qayyim berkata: “Rasulullah tidak berpuasa pada tiga bulan itu secara terus menerus seperti dilakukan sebagian orang dan Baginda sama sekali tidak berpuasa pada bulan Rajab dan Baginda pun tidak mendorong orang berpuasa pada bulan Rajab. Bahkan diriwayatkan dari baginda, bahwa baginda melarang berpuasa pada Rejab seperti diriwayatkan Ibnu Majah.”

Telah Dilakukan Sejak Dulu

Ternyata puasa 3 bulan berturut-turut telah dilakukan oleh umat Islam sejak dulu kala. Terbukti Imam Ibnul Qayyim yang hidup ratusan tahun yang lalu saya mengeluarkan fatwa mengenai ketidakbolehan puasa tersebut.

Dari kasus tersebut, kita bisa mengambil pelajaran betapa pentingnya kita meningkatkan status keawaman kita. Mulai dari awalnya hanya menelan mentah-mentah apa kata orang-orang ‘alim, guru agama, dll, hingga ke status ‘itiba yaitu bertanya apakah ada dalil-dalil disebalik amalan tersebut. Kalau tidak melakukan hal tersebut, maka agama yang sepatutnya mudah, menjadi susah sekali seperti kasus nenek di atas.

Saya pernah menemukan sebuah kisah nyata dimana seorang nenek yang sudah tua “collapse” sebelum puasa Ramadhan. Ternyata nenek itu tidak tahan karena harus berpuasa penuh selama bulan Rajab dan Syaaban. Katanya ini merupakan tradisi yang biasa dilakukan di negaranya. Walaupun nenek itu sempat pingsan, masih ada juga kawan-kawan dekatnya yang mendukung usaha tersebut. Alasannya adalah seorang ‘alim yang menjadi rujukan mereka mengatakan bahwa sunnah hukumnya berpuasa berturut-turut mulai dari Rajab, Syaban hingga Ramadhan.

Saya pernah mengingatkan mereka bahwa itu tidak ada landasannya dalam agama, dan bisa dikatakan bid’ah. Mereka tidak percaya dengan kata-kata saya, karena dianggap saya tidak tahu apa-apa mengenai ilmu agama. Saya tidak heran dengan hal ini. Berdasarkan pengamatan saya, kalau seruan kamu ingin didengar oleh orang lain, paling kurang kamu harus punya ijazah pendidikan agama formal. Tapi saya tidak berkecil hati. Yang penting saya sudah menyampaikan kebenaran, terserah mereka mau menerima atau tidak.

Dari kasus tersebut, kita bisa mengambil pelajaran betapa pentingnya kita meningkatkan status keawaman kita. Mulai dari awalnya hanya menelan mentah-mentah apa kata orang-orang ‘alim, guru agama, dll, hingga ke status ‘itiba yaitu bertanya apakah ada dalil-dalil disebalik amalan tersebut. Kalau tidak melakukan hal tersebut, maka agama yang sepatutnya mudah, menjadi susah sekali seperti kasus nenek di atas.

Puasa-Puasa Sunat Yang Ada Contoh Dari Nabi saw

1. Puasa enam hari bulan syawal
2. Puasa bulan Muharam, mu’aqqad pada 10 Muharram, juga sehari sebelum atau selepasnya
3. Puasa sebahagian besar Sya’ban
4. Puasa bulan-bulan suci (Z’kaedah, Z’h'jjah, Muharram dan Rejab)
5. Puasa Senin-Kamis
6. Puasa bulan putih setiap bulan (13-14-15 haribulan)
7. Puasa Daud AS: selang seling (sehari puasa dan sehari tidak puasa)

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.