Home » Perang Pemikiran

FPI Dalam Pusaran Media-media

19 February 2012 3 Comments

Front Pembela Islam (FPI) menjadi bulan-bulanan media. Berangkat dari sinisme terhadap FPI, akhirnya pemberitaan yang dilakukan sebagian media menjadi tidak obyektif. Kecuali media Islam, beberapa media menyajikan pemberitaan yang mengarahkan pembacanya pada citra buruk FPI.

Sikap sinis ini semakin kentara ketika media menghadirkan berita yang tidak sama antara badan berita dengan judul. Misalnya, Kompas.com tertanggal 12 februari pukul 12.40 WIB, yang menurunkan berita tentang statemen Din Syamsudin terkait penolakan kehadiran FPI di Kalimantan Tengah. Judul berita yang diturunkan Kompas.com adalah “Din Syamsudin: Tolak Ormas Anarkis”. Isi berita tersebut adalah pernyataan Din Syamsudin yang menolak segala bentuk kekerasan. Tidak ada satu kalimat pun dari Ketua Umum PP Muhammadiyah, di berita itu, yang menyebut “Tolak Ormas Anarkis.”

Pemberian judul di atas menjadi bias karena seolah-olah Din Syamsudin menolak FPI, padahal dalam pernyataannya, Din hanya mengatakan tolak segala bentuk aksi kekerasan yang bisa dilakukan siapa saja. Bisa disimpulkan, Kompas.com sudah melakukan penghukuman terhadap FPI (Trial by The Press) dengan memberikan judul seperti itu. Selengkapnya bisa dilihat http://nasional.kompas.com/read/2012/02/12/12403753/Din.Syamsuddin.Tolak.Ormas.Anarkis.

Lain pula yang dilakukan Vivanews.com. Media ini menurunkan sejumlah berita terkait kehadiran FPI di Kalimantan Tengah namun mendapat penolakan dari masyarakat setempat. Salah satu berita yang cukup bombastis adalah berita dengan judul “Usir FPI karena Warga Dayak Trauma Konflik” tertanggal 14 februari pukul 00:02 WIB.

Dengan judul menggunakan tanda kutip, pembaca disuguhi pernyataan langsung dari seorang pengamat. Redaksi tentu sudah memilih siapa pengamat yang jawabannya sesuai dengan keinginan mereka. Uniknya, ada lead yang memperkuat judul dalam berita itu, “Tak ada terkait agama. Mereka tidak menolak Islam, tapi menolak radikalisme.” Pemilihan lead semacam ini menjadi biasa dilakukan awak redaksi untuk mengarahkan kemana pembaca akan digiring. Selengkapnya bisa dilihat http://nasional.vivanews.com/news/read/287841–usir-fpi-karena-warga-dayak-trauma-konflik-

Detik.com sebagai portal berita internet yang kini dikuasai Transcorp juga tidak kalah menunjukkan sinisme terhadap FPI. Media ini bahkan menghilangkan identitas Habib pada Ketua Umum FPI Muhammad Rizieq Shihab. Di setiap penulisan berita, Detik.com selalu menyebut Ketua Umum FPI Rizieq Shihab. Tidak ada penjelasan mengenai hal ini dari portal berita ini.

Di beritanya lainnya, Detik.com mewawancarai peneliti SETARA Institute yang notabene adalah lawan ideologis FPI. Dalam wawancara itu, FPI digambarkan sebagai organisasi yang kebal terhadap hukum karena merusak tempat-tempat prostitusi , penyebaran miras dan lain sebagainya, namun dibiarkan oleh pemerintah. Statemen peneliti SETARA Institute pun dikutip hanya sebagian oleh Detik.com, karena di akhir badan berita, penulisnya hanya mengutip penggalan kalimat dari berita yang sudah tayang sebelumnya.

Beritanya bisa di lihat http://news.detik.com/read/2012/02/13/020916/1840605/10/insiden-tolak-fpi-di-palangkaraya-bentuk-kekecewaan-pada-pemerintah?nd992203605

Yang harus diperhatikan lebih di Detik.com adalah komentar-komentar dari pembaca yang kebanyakan anonim. Setiap berita menyangkut FPI atau Islam, pasti banyak komentar-komentar sinis, bahkan menghina, yang sepertinya dibiarkan oleh redaksi Detik.com.

Sementara itu, Antaranews.com yang menjadi kantor berita resmi pun menurunkan sejumlah berita yang bisa disimpulkan tidak setuju dengan adanya FPI. Beberapa judul yang ditulis media ini bahkan menunjukkan sikap redaksi yang demikian. Salah satunya adalah berita dengan judul “Warga Dayak Tolak FPI” tertanggal 11 Februari pukul 15:54 WIB. Beritanya http://www.antaranews.com/berita/296896/warga-dayak-tolak-fpi
Antaranews.com rupanya juga menurunkan berita yang sama dengan Kompas.com tertanggal 12 Februari dengan narasumber Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin. Berbeda dengan Kompas.com, Antaranews.com tidak mengutip satu kata pun tentang ormas anarkis.Dalam artikel itu, Din Syamsudin menekankan tidak ada agama di Indonesia yang menolak keberagaman.

Bagaimana media massa Islam?

Berbeda dengan media-media massa mainstream, media Islam justru melakukan pembelaan terhadap FPI. Sebut saja eramuslim.com, voa-islam.com, arrahmah.com, hidayatullah.com dan republika.co.id. Sebagian dari media massa itu bahkan menyebut Dayak Kafir untuk menunjukkan sikap redaksi.

Mereka mengutip statemen dari seluruh pengurus FPI, pengamat Islam yang menguntungkan FPI, atau statemen-statemen pejabat negara, dalam hal ini kepolisian, untuk memposisikan FPI sebagai pihak yang tidak dirugikan. Hidayatullah.com bahkan tidak ragu menyebut adanya upaya pembunuhan atas apa yang terjadi pada Sabtu (11/2) yang lalu.

Media ini mengutip pernyataan Wasekjen FPI, KH. Awit Masyhuri yang menyebut ada pihak-pihak yang khawatir kepentingan ekonominya terganggu dengan kedatangan FPI. Menurut Awit, sebulan lalu delegasi warga Dayak Kalteng dari berbagai agama mendatangi DPP FPI di Petamburan untuk meminta bantuan untuk menghadapi arogansi Gubernur Kalteng dan Kapolda Kalteng tentang konflik agraria seperti Kasus Mesuji– Lampung.

Voice of Al-Islam atau VOA-Islam.com lebih keras lagi menyebut Dayak Kafir atas apa yang terjadi dengan FPI. Media ini juga menunjukkan pembelaan terhadap Habib Rizieq Shihab dan seluruh pendukungnya. Hal ini jelas karena posisi media ini adalah sesuai dengan visi dan misinya yang khawatir dengan nasib umat Islam yang semakin termarjinalkan dengan kelompok-kelompok Kapitalis dan Zionis.

Eramuslim.com yang lebih dulu menjadi portal berita dunia Islam juga membela FPI. Ada yang menarik dari tulisan editorial Media Islam Rujukan ini. Editorial berjudul “Mengapa Menolak Habib Rizieq?” mempertanyakan sikap ambivalensi media terhadap pelaku-pelaku kekerasan di tanah air.

Dalam tulisan itu, Eramuslim mengkritisi arti kekerasan yang sering disematkan pada FPI. Padahal, pada kenyataannya, banyak kekerasan-kekerasan yang dialami umat Islam di daerah, justru dilakukan kelompok-kelompok non-muslim, namun hal itu tidak diungkap media-media massa mainstream.

Dalam kerusuhan Madura vs Dayak, Eramuslim.com mengungkit kembali kerusuhan antara Muslim vs Kristen. Selengkapnya bisa dilihat http://www.eramuslim.com/editorial/mengapa-menolak-habib-riziq.htm
Arrahmah.com yang mengusung tagline Berita Dunia Islam & Berita Jihad Terdepan, mengeluarkan sikap redaksi yang keras. Meminjam pernyataan Ketua bidang Nahi Munkar DPP FPI Munarman, media online ini menghalalkan darah kafir harbi yang menghalang-halangi dakwah Islamiyah.

Bahkan, Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang, dicap sebagai kafir harbi yang darahnya halal untuk ditumpahkan. Beritanya ada disini: http://arrahmah.com/read/2012/02/11/17991-munarman-kafir-yang-menghalangi-dakwah-adalah-kafir-harbi-halal-darahnya.html

Kebenaran Hakikat vs Kebenaran Prosedural

Dari uraian pemberitaan di atas, terbukti bahwa media-media memiliki banyak kepentingan, bisa ideologis, ekonomi, politik dan lain sebagainya. Awak redaksi akan menentukan seperti apa wajah media tersebut. Seorang muslimkah dia, liberal, agnostik, kejawen dan sebagainya, akan mempengaruhi berita-berita yang disuguhkan.

Pembaca pun hanya menjadi penonton, yang jika tidak hati-hati dan cerdas, akan terhanyut dan terombang-ambing dalam pusaran informasi yang begitu deras dan terbuka. Independensi media massa pun dipertanyakan, jika melihat dari pemberitaan FPI.

Bahkan, media berperan besar dalam menstigmakan FPI sebagai organisasi pro-kekerasan. Bayangkan saja, setiap ada penggerebekan yang dilakukan FPI, maka jurnalis televisi akan selalu hadir. Tayangan video itu lalu disiarkan secara langsung di setiap program berita. Masyarakat pun tercengang dengan apa yang disaksikannya. Jadilah, FPI tertuduh sebagai ormas kekerasan.

Apakah kekerasan hanya dilakukan FPI? Jawabnya tidak. Kita semua tahu bahwa pelaku kerusuhan di daerah banyak juga yang dilakukan oleh non-muslim. Namun, porsi pemberitaannya tidak sama dengan apa yang dilakukan FPI.

Jika kita melihat hakikat yang dilakukan FPI, maka kebenaran yang diusung tidak terbantahkan. Maksudnya begini, siapa pun pasti setuju bahwa minuman keras, prostitusi, perjudian dan sejenisnya adalah tindak kejahatan yang harus diberantas. Tidak perlu ditanya betapa banyak bukti kehancuran akibat perbuatan-perbuatan tersebut. Kecuali bagi penganut adanya kebenaran relatif, maka hal-hal tersebut tentu tidak berlaku.

Apa yang dilakukan FPI secara hakikat adalah benar, karena mereka menghilangkan penyakit sosial masyarakat yang sudah endemik. Kekerasan yang mereka lakukan biasanya menjadi pilihan terakhir, karena adanya kelompok penentang. Pun hingga saat ini, kekerasan itu tidak sampai menimbulkan korban jiwa.

Bandingkan dengan kekerasan di daerah, misalnya Ambon, Poso, Bima, Makassar dan lainnya sebagainya, yang menyebabkan korban meninggal dunia. Kebenaran hakikat yang diyakini FPI bertabrakan dengan kebenaran prosedural yang ditetapkan dalam kehidupan masyarakat.

Ambil contoh kasus Perda Miras yang ramai beberapa waktu lalu. Kementerian Dalam Negeri berdalih Perda-perda Miras bertentangan dengan Keputusan Presiden Nomor 3 tahun 1997. Oleh sebab itu, muncul wacana pencabutan Perda-perda tersebut.

Secara prosedural perundang-undangan, upaya Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi benar untuk mencabut Perda-perda tersebut. Tapi, secara hakikat, dia akan bertabrakan dengan kebenaran yang diyakini umat Islam secara mayoritas.

Inilah contoh kasus yang menyebabkan lahirnya kelompok-kelompok seperti FPI. Selama kebenaran prosedural tidak berdasarkan kebenaran hakikat, maka akan selalu lahir generasi pembela Islam. Dan, bagi mereka yang sungguh-sunggu memerangi FPI dikhawatirkan terjangkit penyakit Islamophobia yang wabahnya sudah mendunia. (*)

Oleh: Mohamad Fadhilah Zein (Produser TvOne)

Popularity: 2% [?]

3 Comments »

  • putra baun said:

    Pembaca tentu bisa memposisikan diri sebagai insan cerdas dan tidak terpengaruh oleh media khusus dengan propaganda pembenaran anarkhisme dan premanisme tapi berkedok agama untuk mencari simpati massa.
    Sangat setuju kalo preman harus ditindak tegas termasuk para ormas berkedok agama untuk melegalkan tindakan mereka dengan alasan memerangi kejahatan padahal mereka sendiri sebagai penjahat,perampok,pemerkosa,pe mbunuh. Mereka merampas kewenangan aparat penegak hukum, mereka merampas kewenangan para ulama, mereka beralasan berdakwa padahal tindakannya anarkhis dan premanis serta sering membuat masyarakat resah. Seharusnya rakyat Indonesia bersama pemerintah menyatakan bahwa mereka tidak punya hak hidup dan hak mati di NKRI tercinta ini. sebagaimana kita ketahui bahwa indonesia berpenduduk islam terbesar di dunia dan telah menurunkan ajaran cinta damai melalui para ulama kita, sementara ormas tertentu sering mengeluarkan pernyataan kekerasan yang identik dengan preman. Setuju ??? wasalam

  • wiemasen (author) said:

    Sebenarnya ada byk kegiatan FPI yg sengaja disembunyikan atau TIDAK diberitakan, diliput dan disiarkan, ataupun jika diberitakan hanya lah sekilas & dlm porsi yg sgt kecil, diantaranya ialah :

    - Tatkala FPI menurunkan 1300 laskar di aceh, mereka bekerja 24 jam untuk mengevakuasi mayat-mayat para korban di aceh. Seratus ribu lebih mayat, 70.000 mayat berhasil dievakuasi, dibungkus, dishalatkan & dikuburkan. Salah seorang sekjennya KH Ahmad Shobri Lubis juga turun wkt itu, termasuk bantuan dari pesantren Pasuruan yg ikut menerjunkan 40 santrinya , 2 bulan lebih mereka tinggal di kemah ditengah pemakaman pekuburan para korban. Bahkan mayat salah seorang kapala Polisi di sana juga ditemukan oleh salah seorang anggota laskar. Dimana saat itu banyak bantuan2 kemanusaiaan lainnya sudah menyerah karena parahnya keadaan dan bau yg menyengat dari mayat2 yg bergelimpangan di sana sini.

    Adakah Televisi & media lainnya menyiarkan ini ?

    - Saat terjadi gempa di jawa barat yang merusak puluhan ribu rumah, ribuan laskar diturunkan untuk membantu melakukan perbaikan & pemulihan (rumah warga, rumah2 ibadah, madrasah dan pondok pesantren.)
    Apakah Televisi & media lainnya ada yg (mau) menyiarkannya ?

    - Saat terjadi gempa dahsyat di Sumatera barat. Sekolah-sekolah roboh, sementara anak-anak didik tidak mau ujian. FPI telah pula menurunkan laskarnya, diantaranya membangun sekolah-sekolah darurat agar para siswa dan siswi bisa belajar sehingga mereka bisa mengikuti ujian akhirnya samapai mereka lulus.
    Apa kegiatan spt ini dilliput & disiarkan oleh televisi atau adakah wartawan yg mau meliputnya ?

    - Saat Gempa di Jogjakarta tahun 2006 ditambah dengan letusan merapi..FPI telah pula menurunkan ratusan laskarnya, mrk membuat posko dimana mana, pengobatan gratis, dokter gratis, makan gratis.
    Apa televisi & media2 mainstrem lainnya ada yg mau meliput kejadian2 di atas apalagi sampai menyiarkannya berulang-ulang, spt citra negatif yg selalu mereka sorot, misalnya dlm kasus Monas, ahmadiyah dll ?

    - Kemudain juga bbrp kasus mutakhir spt perlindungan & pemberian advokasi yg diberikan oleh FPI dlm kasus sengketa tanah di Mesuji, sampai2 warga Mesuji tidak mau ada yg pasang bendera ‘bantuan’ lainnya kecuali bendera FPI ,krn mereka melihat bhw ‘bantuan2? lainnya spt dari partai dsb hanyalah skdr basa-basi & mencari citra belaka. Apakah media mau menyorot ini ?, atau malah menyiarkan & memperbesar hal2 lainnya yg tdk substansif ?

    - Dan yg teranyar adalah bantuan advokasi yg akan diberikan FPI dlm sengketa tanah Dayak pedalaman Kalimantan dgn pihak yg merebut tanah mereka. Tapi bagaimana Media2 sengaja tidak mau banyak menyinggung mslh ini kecuali hanya menyiarkan & membesar2kan berita bhw FPI sudah tidak dikehendaki lagi oleh warga. Bagaimana bisa media membalik opini dari pihak yg terdzalimi (FPI) menjadi pihak yg (seolah-olah) menzalimi (suku Dayak).

    Yg kita ingin katakan adalah terlepas dari berbagai kekuranganya, citra negatif FPI lebih banyak dibentuk oleh tidak berimbangnya media2 thd ormas ini. Satu pelajaran yg bisa kita ambil ialah ummat Islam memang harus bersatu & sudah saatnya punya media sendiri yg berskala NASIONAL, spt televisi misalnya, agar ummat tidak terus menerus dibodohi oleh pemutarbalikan fakta & pencitraan opini negatif yg sengaja dilakukan oleh media2 yg memang tidak suka & fobia thd Islam, yg hingga kini msh terus menguasai negeri ini.

  • Noname said:

    @putra baun : sebelum FPI bertindak, para korban sebelumnya udah diberi peringatan agar ga ngelakuin maksiat.tapi ga dipedulikan.
    siapa yg harus disalahkan sebenarnya?
    coba liat lagi, apa FPI merusak fasilitas/tempat warga2 yang ga ngelakuin maksiat? apa ada satu saja aktivitas FPI yg bertolak belakang dr berdirinya FPI sendiri?
    FPI ada karena pemerintah yg ga becus ngurus negaranya sendiri.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.