Aqidah

Membahas aqidah yang sahih menurut sunnah.

Bulan Islam

Pahami bagaimana bulan-bulan Islam itu ditentukan.

Ekonomi Islam

Belajar seluk-beluk perbankan Islam.

Politik

Politik dari sudut pandang Islam.

Fiqh

Berbagai macam jawaban fiqh.

Home » Aqidah

Hukum Peusijuek alias Tepung Tawar

Submitted by on November 17, 2012 – 2:09 pm27 Comments
“Eh tau nggak kalau di radio Baiturrahman pada hari tertentu ada ceramah ustadz Polan. Bagus kali ceramahnya,” kak Putri (bukan nama sebenarnya) memulai percakapan.

“Oh ya, ceramah apa?” aku bertanya dengan antusias.

“Macam-macam lah, minggu kemaren utadz itu ceramah mengenai tata cara peusijuek yang betul,” jelasnya lagi.

Aku mulai mengerutkan dahiku? Hah, peusijuek pun ada tata cara pelaksanaannya menurut agama?

“Kata ustadz itu, kalau peusijuek tidak boleh asal peusijuek seperti yang sering orang kerjakan. Semestinya ada do’a tertentu,” jelasnya dengan panjang lebar.

Hemm…aku makin mengerutkan keningku, tidak sabar hendak memberikan komentar.

“Selain itu cara meletakkan bue leukat (nasi ketan) pun harus benar dan dengan jumlah yang tepat. Tidak boleh asal-asalan,” katanya lagi dengan semangat.

Aku makin tersangak-sangak saja. Mau memotong cerita kakak tersebut, aku tidak tega. Akhirnya aku diam saja.

Sebenarnya darimana asal-usul acara tepung tawar ini? Apakah berasal dari Islam sendiri atau ajaran-ajaran lainnya?

Upacara tepung tawar ini sebenarnya berasal dari perbuatan orang Hindu. Mereka menggunakan “Abu Suci” dan kemudian ditandakan di dahi mereka. Oleh orang Islam, “Abu Suci” ini diganti dengan beras. Ada yang tahu kenapa harus dengan beras bukannya dengan benda-benda lainnya seperti kacang hijau? Kalau orang-orang jaman sekarang mungkin tidak tahu apa alasannya, cuma sekedar ikut-ikutan saja. Tapi bagi orang-orang Melayu jaman dulu, beras ini dipuja karena memberikan manusia kehidupan, kesehatan dan kekuatan dan sering digelar dengan pemberi semangat.

Apa salahnya? Mungkin ada yang bertanya demikian.

Salahnya karena perbuatan tersebut mengundang bahaya. Ia bisa membawa seseorang kepada syirik hingga mampu membatalkan aqidahnya, apabila orang tersebut percaya bahwa beras tersebut bisa menolak bala dan membawa manfaat. Seperti yang kita ketahui, kekuasaan menolak bala dan memberi manfaat hanya ada pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Kalau tidak percaya dengan khurafat itu, berarti boleh kita lakukan sebagai upacara adat sajakan?” pancing mereka yang merasa keberatan meninggalkan acara tepung tawar ini.

Jika dilakukan tanpa ada niat untuk percaya sama sekali, maka upacara itu masih dianggap tidak mencotohi Rasulullah saw sehingga amalnya bakalan ditolak.

“Kok bisa begitu? Walaupun berasal dari ajaran Hindu, segala mantra-mantra itukan telah diganti dengan selawat kepada Nabi saw dan do’a kepada Allah,” kilah mereka. “Berarti kesalahan terdapat pada para ulama jaman dulu dong?”

Betulkah begitu?

Begini ceritanya. Para pendakwah Islam yang membawa Islam ke Aceh dulu, sangat menghormati budaya Hindu yang telah  ada duluan di Aceh. Salah satunya adalah budaya peusijuk. Sebenarnya budaya peusijuk ini termasuk dalam ritual ibadah agama Hindu pada masa itu, bahkan pada masa ini juga. Ini terbukti dengan masih adanya pemujaan masyarakat di Bali yang menggunakan daun dan bunga yang dicelup air sebagai ibadah mereka.

Agar merasa tidak terganggu dengan kehadiran agama Islam, para pendakwah itu kemudian mengganti mantera-mantera tersebut dengan selawat kepada Nabi dan do’a kepada Allah swt. Mereka juga menggiring masyarakat untuk menganggap bahwa Tepung Tawar itu hanya sebatas adat istiadat, penyedap setiap acara, bukan lagi ritual.

Tetapi yang terjadi jauh panggang dari api. Upacara Tepung Tawar terus berlanjut dalam masyarakat yang takut untuk meninggalkannya. Berhubung para ulama kalah oleh tradisi (tidak berhasil menghilangkan kebiasaan tersebut), akhirnya masyarakat menganggap bahwa para ulama pun telah membenarkan mereka.

Lebih parah lagi, sebagian orang (termasuk oknum guru agama di kampung-kampung) mengatakan upacara Tepung Tawar memiliki sandaran agama. Beredar anggapan di tengah masyarakat bahwa praktik semacam ini dijalankan juga oleh para nabi dan keluarganya, termasuk istri Nabi Imran a.s. yang menggunakan atau melemparkan suatu benda saat menazarkan kelahiran anaknya Maryam dan Nabi Muhammad SAW yang “menepungtawari” perkawinan Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib.

Padahal tidak ada ayat atau Hadis yang shahih tentang riwayat-riwayat semacam itu. Bahkan, cerita-cerita tersebut kalau kurang hati-hati cenderung kepada dosa besar karena mendustakan para nabi yang mulia. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadis shahih bahwa barangsiapa sengaja meriwayatkan darinya sesuatu yang tidak pernah beliau lakukan atau katakan maka orang itu tempatnya di dalam neraka.

Selanjutnya, di antara pemuka adat atau masyarakat awam ada yang mengatakan bahwa Tepung Tawar hanya adat istiadat dan, sejalan dengan kemajuan peradaban masyarakat, tidak memiliki nilai ritualisme lagi. Namun harapan memperoleh berkah dan keselamatan lewat Tepung Tawar tetap saja banyak ditemukan dalam masyarakat, terutama di kalangan tradisional dan generasi tua. Mitos masih mendominasi upacara-upacara tersebut sampai saat ini. Di daerah tertentu, ada anggapan Tepung Tawar itu seolah-olah merupakan keharusan yang tidak boleh ditinggalkan. Masyarakat cemas akan datangnya mara bahaya bila adat ini ditiadakan. Paling kurang, mereka menganggap ada keberkahan dari perbuatan tersebut.

“Apa salahnya dengan adat?” ada yang bertanya sebagian.

Jawabannya adalah tidakkah adat hanya dipertahankan bila memenuhi syarat ini: Adat bersendi hukum dan hukum bersendi Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw?

Kembali kepada cerita di atas.

Kak Putri melanjutkan ceritanya lagi, “Menurut ustadz itu, boleh mengadakan peusijuk sebagai ritual do’a, karena asal ibadah adalah dibolehkan, kecuali ada larangan jelas dari Nabi saw.”

Kali ini saya tidak dapat menahan diri lagi, “Apa tidak terbalik tuh? Yang betul adalah semua ibadah adalah terlarang kecuali ada contoh dari Nabi saw.”

“Sedangkan kaedah yang ustadz itu nyatakan hanya digunakan untuk urusan mu’amalah. Semua urusan mu’amalah dibolehkan, kecuali ada larangan jelas dari Nabi saw. Kok bisa terbalik ustadz itu ya,” cecarku lagi.?

“Ah ustadz itu pandai kok. Ada sekolah agama lagi. Latar belakang kamu kan bukan sekolah agama?” kak Putri berkilah dengan sengit.

Sekali lagi aku terdiam.

Ya Allah maafkanlah orang awam yang hanya bertaqlid buta kepada seorang ustadz.

Sumber rujukan:

Rusli Hasbi

http://www.ruslihasbi.com/

Tags: ,

27 Comments »

  • |rara says:

    sedikit sumbang saran, tentang tepung tawar atau peusijeuk itu, bukan beras yang menjadi pokok persoalan, tapi bunga-bungaan. di India dinamakan aashirvaad, semacam blessing atau pemberkatan. Di Bali, tradisi ini juga masih berlangsung. Tepung Tawar ada di Aceh, Medan, Riau, Lampung, Kalimatan, Nusa Tenggara dan juga Bali.

  • wiemasen says:

    Terima kasih atas masukannya.

  • johny says:

    Assalamulaikum

    Jelas segala sesuatu ada asal usulnya dan suatu perbuatan punya maksud.
    Acara tepung tawar,peusijuk dan sebagainya punya maksud yaitu mengharapkan sesuatu diperoleh dgn acara itu .Adat tepung tawar ,peusijuk harus jujur saja itu datang dari agama hindu yg pernah menguasai nusantara berabad abad. Disini unsur kesyirikan jelas dan coba tanya dari hati yang dalam ada perasaan kalau tidak dibuat acara ini ada” yang kurang” begitulah maka bisa jadi nanti urusan dianggap bisa gagal.Nabi Muhammad SAW nyata2 tidak pernah membuat hal2 seperti ini kerna beliau jelas2 anti syirik nomor satu.Sadarlah kita wahai muslimin dan muslimat bahwa bahaya syirik akan terus mengancam kerna itu adalah upaya setan menyesatkan kaum muslim.

    Berusahalah dengan baik dan jujur dengan doa kepada ALLAH SAW,insya ALLAH akan tercapai.Tidaklah daun2,bunga2 itu bisa merubah nasib manusia.Hati2 dgn tukang tafsir gadungan .Jangan terpedaya dgn istilah wasilah adalah mencari jalan mendekati ALLAH dgn cara yg tidak diridhaiNya.Terlalu banyak ayat2 Alquraan dan hadist yg menjelaskan hal ini namun ruangan ini tdk cukup utk itu namun pada kesempatan lain saya kan munculkan.
    Terima kasih.
    Wassalam

    [wiemasen.com] Wa’alaikumsalam. Betul kata anda.

  • eka dewi says:

    Sesunguhnya fenoma alam yang terjadi disekitar kita sekarang lebih mementingkan kebudayaan alias adat istiadat dari pada dasar sebuah agama islam yaitu Alquran dan Hadist.

    [wiemasen.com] Itulah yang terjadi pada saat ini.

  • zulfikar zaid says:

    jangan mudah menfatwakan sesuatu salah jika ilmu masih dini apa lagi pelajari agama di buku2,al-qur’an dan hadist itu tidak mudah di tafsirkan sebab klo di tafsirkan orang itu harus menguasai ilmu nahu saraf,ilmu mantiq,ilmu usul,ilmu badik,ilmu bayan,ilmu tafsir al-qur’an dan ilmu tafsir hadist shg kamu akan mengerti setiap faedah huruf al-qur’an dn hadist…saya sangat jengkel dengan org2 yang berani sekali menyalahkan peusijuek dan menyalahkan ulama2 kampung padahal perlu kalian tahu ulama kampung itu lahir dari pesantren yang kebanyakan mereka sangat mendalami ilmu agama dan kealiman mereka kebanyakan tidak tanggung2,yg sgt beda dengan ustad cuma baca buku2 agama…wahai ustad baca buku jgn pernah kalian menuduh org peusijuek itu salah iktikat dan mereka tidak pernah meyakini bahwa peusijuek itu memberi bekas,berkah dan rahmat pada hakikatnya karna segala sesuatu itu yg terkadi adalah kehendak gusti allah tapi peusijuek itu mereka hanya menganggap tafa’ul sebagai do’a bilfikli kepada gusti allah sehingga peusijuek itu boleh hukumnya…mari kita belajar ilmu tauhid yg benar agar kita benar2 mengenal diri kita sendiri shg kita mengenal gusti allah dan akhirnya kita tidak akan pernah menyikapi sesuatu dengan gegabah.ttd seorang musafir.

  • wiemasen says:

    Terima kasih atas komentarnya. Ternyata anda belum sepenuhnya mengerti konsep tawassul yang dibenarkan. Kalau belum paham silakan dibaca link dibawah ini baik-baik.

    http://smartzikir.blogspot.com/2011/05/walaupun-penduduk-di-kampung-saya-masih.html

  • Anda yang sebenarnya yang masih sangat awam tentang memahami konsep tawasul,ajimat,tariqat dan juga ilmu hakikat sebab klo anda sama sekali tidak bisa memahami ilmu mantik,usul dan ilmu bayan, saya sama se x tidak bisa membuat anda mengerti penjelasan saya karena klo ilmu itu anda tidak bisa sama sekali jelas2 anda tidak akan pernah tahu makna al-qur’an dan hadist yang sesungguhnya sebab bayak sekali zaman ini orang yang sok2 tahu tentang maksud al-quran dan hadist padahal yang mereka tahu cuma arti loghawi yang yang sangat jauh dengan arti hakiki, makanya payah sekali klo kita menjelas kepada orang2 seperti itu dikarnakan mereka sudah menganggap ilmunya sangat tinggi padahal masih cetek sekali masyaallah banyak sekali zaman ini orang sesat gara2 baca buku agama yang tidak jelas sehingga akibatnya seperti itu.simak penjelasan saya dengan baik => Salafi atau Salafiyah adalah sebutan untuk kelompok atau paham keagamaan yang dinisbatkan kepada Ahmad Taqiyuddin Ibnu Taimiyah ( 661 H-728 H) atau yang sering dikenal dengan panggilan Ibnu Taimiyah. Salafi atau Salafiyah itu sering dipahami sebagai gerakan untuk kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. beserta para Sahabat beliau.

    Wahabi atau Wahabiyah adalah sebutan untuk kelompok atau paham keagamaan yang dinisbatkan kepada pelopornya yang bernama Muhammad bin Abdul Wahab (1702 M-1787 M/ 1115 H-1206 H). sebetulnya, nama Wahabi ini tidak sesuai dengan nama pendirinya, Muhammad, tetapi begitulah orang-orang menyebutnya. Sedangkan para pengikut Wahabi menamakan diri mereka dengan al-Muwahhiduun (orang-orang yang mentauhidkan Allah), meskipun sebagian mereka juga mengakui sebutan Wahabi.

    Kedua paham di atas, Salafi & Wahabi, sebenarnya memiliki hubungan tidak langsung yang cukup erat, yaitu bahwa Muhammad bin Abdul Wahab adalah termasuk pengagum Ibnu Taimiyah dan banyak terpengaruh oleh karya-karya tulis Ibnu Taimiyah. Itulah mengapa kedua ajaran mereka memiliki kesamaan visi dan misi, yaitu “Kembali kepada Al-Qur’an & Sunnah Rasulullah Saw. beserta para Sahabat beliau,” sehingga apa saja yang “mereka anggap” tidak ada perintah atau anjurannya di dalam Al-Qur’an, Sunnah, atau atsar Sahabat Nabi Saw., langsung mereka anggap sebagai bid’ah (perkara baru yang diada-adakan) yang diharamkan dan dikategorikan sebagai kesesatan, betapapun bagusnya bentuk suatu kegiatan keagamaan tersebut, dengan dasar hadis Nabi Saw. “… kullu bid’atin dhalalah, wa kullu dhalalatin fin-naar” (setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan akan dimasukkan ke dalam Neraka). Dengan visi dan misi inilah maka para pengikut mereka di zaman ini menamai diri mereka dengan sebutan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah(penganut Sunnah Nabi Muhammad Saw. & para Sahabat beliau) yang pada hakikatnya berbeda dari pengertian Ahlus-sunnah wal-Jama’ah yang dipahami oleh para ulama Islam di dunia (yaitu yang mempunyai hubungan historis dengan al-Asy’ari dan al-Maturidi ).

    Visi “kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. serta para Sahabatnya” tersebut telah mendorong mereka untuk melaksanakan sebuah misi “memberantas Bid’ah & Khurafat”. Sekilas visi & misi itu terlihat sangat bagus, namun dalam prakteknya ternyata seringkali menjadi sangat berlebihan. Mengapa? Karena semua bid’ah & khurafat yang mereka anggap sesat dan wajib diberantas itu mereka definisikan sendiri tanpa mengkompromikan dengan definisi atau penjelasan para ulama terdahulu. Terbukti, pada masa hidupnya saja, baik Ibnu Taimiyah maupun Muhammad bin Abdul Wahab, sudah dianggap “aneh” bahkan cenderung dianggap sesat ajarannya oleh para ulama pengikut empat Mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali) yang keseluruhannya menganut paham ahlus-Sunnah wal-jama’ah.

    Hal itu terjadi karena Ibnu Taimiyah kerapkali mengeluarkan fatwa-fatwa ganjil mengenai aqidah atau syari’at yang menyelisihi ijma’ para ulama, sehingga ia sering ditangkap, disidang, dan dipenjara, sampai-sampai ia wafat di dalam penjara di Damaskus. Dan tercatat ada 60 ulama besar (baik yang sezaman dengan Ibnu Taimiyah maupun yang sesudahnya) yang menulis pembahasan khusus untuk mengungkap kejanggalan dan kekeliruan pada sebagian fatwa-fatwa Ibnu Taimiyah dalam begitu banyak karyanya (lihat al-Maqaalaat as-Sunniyyah karya Syaikh Abdullah al-Harary).

    Sedangkan Muhammad bin Abdul Wahab yang datang belakangan jauh lebih beruntung. Ia didukung oleh seorang Raja yang berhasil menguasai Mekkah (Hijaz) yang bernama Muhammad bin Sa’ud atau lebih dikenal dengan Ibnu Sa’ud (penaklukan Hijaz ke-I th. 1803-1813 M, penaklukan ke-II th. 1925 M masa Raja Abdul Aziz bin Sa’ud dengan bantuan Inggris sampai sekarang). Itulah mengapa Mekkah, Madinah dan sekitarnya sekarang dikenal dengan “Saudi”/Sa’udi Arabia (dinisbatkan kepada Ibnu/bin Sa’ud atau Aalu Sa’ud/keluarga Sa’ud). Dengan dukungan kekuasaan dan dana dari Raja Ibnu Sa’ud itulah maka ajaran Wahabi menjadi paham wajib di Saudi Arabia, dan menyebar luas sekaligus membuat resah umat Islam di negeri-negeri yang lain.

    Mengapa Wahabi dianggap meresahkan? Karena fatwa-fatwa ulama Wahabi tentang bid’ah dan khurafat yang disebarluaskan itu seringkali berbenturan dengan adat istiadat atau tradisi keagamaan umat Islam di masing-masing negeri, padahal tradisi mereka itu telah berlangsung sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu dan telah dijelaskan kebolehan atau keutamaannya oleh para ulama ahlus-Sunnah wal-jama’ah. Tradisi keagamaan yang sering dianggap bid’ah dan sesat itu di antaranya: Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw., tahlilan kematian, do’a dan zikir berjama’ah, ziarah kubur, tawassul, membaca al-Qur’an di pekuburan, qunut shubuh, dan lain sebagainya yang masing-masing memiiki dasar di dalam agama. Jelasnya, keresahan itu muncul karena fatwa-fatwa para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab (Wahabi) tersebut bertentangan dengan fatwa-fatwa mayoritas ulama yang dijadikan pedoman oleh mayoritas umat Islam di dunia. Akibatnya mereka menjadi seperti orang usil yang selalu menyalahkan dan mempermasalahkan amalan orang lain, lebih dari itu bahkan mereka menganggap sesat orang yang tidak sejalan dengan Wahabi.

    (Untuk lebih jelas, baca “I’tiqad Ahlussunnah Wal-Jama’ah” karya KH. Siradjuddin Abbas, diterbitkan oleh Pustaka Tarbiyah Jakarta. Juga baca “Maqaalaat as-Sunniyyah fii Kasyfi Dhalaalaati Ibni Taimiyah”, karya Syaikh Abdullah al-Harary, diterbitkan oleh Daarul-Masyaarii’ al-Khairiyyah, Libanon).

    Ajaran Salafi Ibnu Taimiyah dilanjutkan oleh murid-muridnya, di antara yang paling dikenal adalah Ibnul Qayyim al-Jauziyah. Sedangkan ajaran Wahabi disebarluaskan oleh para ulama Wahabi yang diakui di Saudi Arabia, yang paling dikenal di antaranya adalah: Nashiruddin al-Albani, Abdul Aziz bin Baz, Shalih al-Utsaimin, Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin, dan lain-lain. Namun begitu, kita berusaha bersikap proporsional dalam menyikapi ajaran yang mereka sampaikan. Artinya, apa yang baik dan sejalan dengan pendapat para ulama mayoritas maka tidak kita kategorikan ke dalam penyimpangan atau kesesatan.

    Perlu diketahui , bahwa meskipun dasar kemunculannya berbeda, namun belakangan Salafi & Wahabi seperti satu tubuh yang tidak bisa dibedakan, yaitu sama-sama memandang sesat atau bid’ah terhadap acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw., tahlilan kematian, ziarah kubur, tawassul, menghadiahkan pahala kepada orang meninggal, berdo’a & berzikir berjama’ah, bersalaman selesai shalat berjama’ah, membaca al-Qur’an di pekuburan, berdo’a menghadap kuburan, dan lain sebagainya. Dan boleh dikatakan, bahwa Salafi & Wahabi sekarang sudah menjadi mazhab tersendiri yang lebih ekstrim dalam berfatwa ketimbang Ibnu Taimiyah atau Muhammad bin Abdul Wahab sendiri.

    Di Indonesia, fatwa-fatwa Salafi & Wahabi banyak disebarluaskan oleh para mahasiswa atau sarjana yang sebagian besarnya adalah alumni Perguruan Tinggi di Saudi Arabia atau mereka yang mendapat beasiswa di lembaga pendidikan Saudi Arabia. Di samping itu, paham Wahabi juga disebarluaskan melalui buku-buku terjemahan, yang kini menghiasi berbagai toko buku atau stan-stan pameran buku. Bahkan, buku–buku mereka juga dibagi-bagi secara gratis, baik melalui Atase Kedubes Saudi Arabia, maupun lembaga pendidikan Saudi Arabia seperti LIPIA atau yang lainnya. Buku-buku seperti itu juga dibagikan kepada semua Jama’ah Haji secara gratis setiap tahunnya, akibatnya sebagian mereka mengalami perang batin dalam menimbang-nimbang kebenaran.

    Di samping melalui buku-buku dan forum-forum kajian keagamaan, fatwa-fatwa Wahabi & Salafi juga disebarluaskan melalui siaran radio, seperti: Radio Dakta Bekasi (FM/107 Mhz), Radio Roja’ Cileungsi (AM/756 Mhz), dan Radio Fajri Bogor (FM/91,4 Mhz).

    Di Indonesia juga terdapat ormas-ormas Islam yang prinsip dasar atau metodologi ajarannya sama atau hampir sama dengan Salafi & Wahabi seperti Muhammadiyah, PERSIS, Al-Irsyad, PUI (Persatuan Umat Islam), Paderi, Sumatra Tawalib, dan lain-lain (lihat Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, jilid 4, hal. 205), hanya saja ada sebagian yang tidak seekstrim mereka. Tetapi kadang sebagian anggota ormas-ormas itupun memiliki sikap ekslusivisme yang sama dengan Salafi & Wahabi, sehingga dalam kajian ini penulis tidak memisahkan mereka sebagai kelompok tersendiri, dan menganggapnya sejenis dengan kaum Salafi & Wahabi jauh lebih layak untuk sebuah pemahaman agama dengan ciri yang sama, entah sebagian ciri atau keseluruhannya.

    Dalam kajian ini kami tidak ingin berpanjang kalam tentang Ibnu Taimiyah atau Muhammad bin Abdul Wahab, menimbang keperluannya yang tidak terlalu urgen dalam pembahasan ini.. Sebab sepertinya, para pengikut mereka sekarang sudah lebih independen dalam berijtihad dan berfatwa mengenai perkara-perkara baru yang mereka anggap bagian dari agama yang tidak pernah ada di zaman Rasulullah Saw. atau para Shahabat beliau.. Bahkan dalam beberapa hal mereka tidak sependapat dengan Ibnu Taimiyah & Muhammad bin Abdul Wahab. Hal ini menunjukkan bahwa kaum Salafi dan Wahabi sekarang ini hanya mengambil motto utama yang sangat global dari Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab, yaitu “kembali kepada al-Qur’an, Sunnah Rasulullah Saw., dan Sunnah para Shahabat beliau”, sedang dalam perkara-perkara detailnya mereka cenderung pilih-piih.

    Itulah kenapa konsentrasi pembahasan ini lebih pada fatwa-fatwa ulama Salafi dan Wahabi, di mana fatwa-fatwa itulah yang sering menjadi sumber masalah bagi kerukunan hidup beragama antar umat Islam.

    APA YANG SALAH, DENGAN “KEMBALI KEPADA AL-QUR’AN & SUNNAH”?

    Telah disebutkan di atas, bahwa kaum Salafi & Wahabi memiliki motto “Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah”. Mereka juga mengajak umat untuk kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah. Kenapa? Karena, tentunya, al-Qur’an dan Sunnah merupakan sumber ajaran Islam yang utama yang diwariskan oleh Rasulullah Saw., sehingga siapa saja yang menjadikan keduanya sebagai pedoman, maka ia telah berpegang kepada ajaran Islam yang murni dan berarti ia selamat dari kesesatan. Bukankah Rasulullah Saw. menyuruh yang sedemikian itu kepada umatnya?

    Sampai di sini mungkin banyak orang bertanya, mengapa Ibnu Taimiyah & Muhammad bin Abdul Wahab yang menyerukan hal se-bagus dan se-ideal itu dianggap sesat oleh para ulama di zamannya? Mengapa pula paham Salafi & Wahabi yang merujuk semua ajarannya kepada al-Qur’an dan Sunnah dianggap menyimpang bahkan divonis sesat??! Rasanya, hanya orang gila yang berani menyatakan begitu.

    Tetapi, mari kita perhatikan permasalahan ini satu demi satu, agar terlihat “sumber masalah” yang ada pada sikap yang terlihat sangat ideal tersebut.

    1. Prinsip “Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah” adalah benar secara teoritis, dan sangat ideal bagi setiap orang yang mengaku beragama Islam. Tetapi yang harus diperhatikan adalah, apa yang benar secara teoritis belum tentu benar secara praktis, menimbang kapasitas dan kapabilitas (kemampuan) tiap orang dalam memahami al-Qur’an & Sunnah sangat berbeda-beda. Maka bisa dipastikan, kesimpulan pemahaman terhadap al-Qur’an atau Sunnah yang dihasilkan oleh seorang ‘alim yang menguasai Bahasa Arab dan segala ilmu yang menyangkut perangkat penafsiran atau ijtihad, akan jauh berbeda dengan kesimpulan pemahaman yang dihasilkan oleh orang awam yang mengandalkan buku-buku “terjemah” al-Qur’an atau Sunnah. Itulah kenapa di zaman ini banyak sekali bermunculan aliran sesat. Jawabnya tentu karena masing-masing mereka berusaha kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah, dan mereka berupaya mengkajinya dengan kemampuan dan kapasitasnya sendiri. Bisa dibayangkan dan telah terbukti hasilnya, kesesatan yang dihasilkan oleh Yusman Roy (mantan petinju yang merintis sholat dengan bacaan yang diterjemah), Ahmad Mushadeq (mantan pengurus PBSI yang pernah mengaku nabi), Lia Eden (mantan perangkai bunga kering yang mengaku mendapat wahyu dari Jibril), Agus Imam Sholihin (orang awam yang mengaku tuhan), dan banyak lagi yang lainnya. Dan kesesatan mereka itu lahir dari sebab “Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah”, mereka merasa benar dengan caranya sendiri. Pada kaum Salafi & Wahabi, kesalahpahaman terhadap al-Qur’an dan Sunnah itu pun banyak terjadi, bahkan di kalangan mereka sendiri pun terjadi perbedaan pemahaman terhadap dalil. Dan yang terbesar adalah kesalahpahaman mereka terhadap dalil-dalil tentang bid’ah.

    2. Al-Qur’an dan Sunnah sudah dibahas dan dikaji oleh para ulama terdahulu yang memiliki keahlian yang sangat mumpuni untuk melakukan hal itu, sebut saja: Ulama mazhab yang empat, para mufassiriin (ulama tafsir), muhadditsiin (ulama hadis), fuqahaa’ (ulama fiqih), ulama aqidah ahus-sunnah wal-Jama’ah, dan mutashawwifiin (ulama tasawuf/akhlaq). Hasilnya, telah ditulis beribu-ribu jilid kitab dalam rangka menjelaskan kandungan al-Qur’an dan Sunnah secara gamblang dan terperinci, sebagai wujud kasih sayang mereka terhadap umat yang hidup dikemudian hari. Karya-karya besar itu merupakan pemahaman para ulama yang disebut di dalam al-Qur’an sebagai “ahludz-dzikr”, yang kemudian disampaikan kepada umat Islam secara turun-temurun dari generasi ke generasi secara berantai sampai saat ini. Adalah sebuah keteledoran besar jika upaya orang belakangan dalam memahami Islam dengan cara “kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah” dilakukan tanpa merujuk pemahaman para ulama tersebut. Itulah yang dibudayakan oleh sebagian kaum Salafi & Wahabi. Dan yang menjadi pangkal penyimpangan paham Salafi & Wahabi sesungguhnya, adalah karena mereka memutus mata rantai amanah keilmuan mayoritas ulama dengan membatasi keabsahan sumber rujukan agama hanya sampai pada ulama salaf (yang hidup sampai abad ke-3 Hijriah), hal ini seperti yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah (hidup di abad ke-8 H.) dan para pengikutnya. Bayangkan, berapa banyak ulama yang dicampakkan dan berapa banyak kitab-kitab yang dianggap sampah yang ada di antara abad ke-3 hingga abad ke-8 hijriyah. Lebih parahnya lagi, dengan rantai yang terputus jauh, Ibnu Taimiyah dan kaum Salafi & Wahabi pengikutnya seolah memproklamirkan diri sebagai pembawa ajaran ulama salaf yang murni, padahal yang mereka sampaikan hanyalah pemahaman mereka sendiri setelah merujuk langsung pendapat-pendapat ulama salaf. Bukankah yang lebih mengerti tentang pendapat ulama salaf adalah murid-murid mereka? Dan bukankah para murid ulama salaf itu kemudian menyampaikannya kepada murid-murid mereka lagi, dan hal itu terus berlanjut secara turun temurun dari generasi ke generasi baik lisan maupun tulisan? Bijaksanakah Ibnu Taimiyah dan pengikutnya ketika pemahaman agama dari ulama salaf yang sudah terpelihara dari abad ke abad itu tiba di hadapan mereka di abad mana mereka hidup, lalu mereka campakkan sebagai tanda tidak percaya, dan mereka lebih memilih untuk memahaminya langsung dari para ulama salaf tersebut? Sungguh, ini bukan saja tidak bijaksana, tetapi juga keteledoran besar, bila tidak ingin disebut kebodohan. Jadi kaum Salafi & Wahabi bukan Cuma menggaungkan motto “kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah” secara langsung, tetapi juga “kembali kepada pendapat para ulama salaf” secara langsung dengan cara dan pemahaman sendiri. Mereka bagaikan orang yang ingin menghitung buah di atas pohon yang rindang tanpa memanjat, dan bagaikan orang yang mengamati matahari atau bulan dari bayangannya di permukaan air.

    3. Para ulama telah menghidangkan penjelasan tentang al-Qur’an dan Sunnah di dalam kitab-kitab mereka kepada umat sebagai sebuah “hasil jadi”. Para ulama itu bukan saja telah memberi kemudahan kepada umat untuk dapat memahami agama dengan baik tanpa proses pengkajian atau penelitan yang rumit, tetapi juga telah menyediakan jalan keselamatan bagi umat agar terhindar dari pemahaman yang keliru terhadap al-Qur’an dan Sunnah yang sangat mungkin terjadi jika mereka lakukan pengkajian tanpa bekal yang mumpuni seperti yang dimiliki para ulama tersebut. Boleh dibilang, kemampuan yang dimiliki para ulama itu tak mungkin lagi bisa dicapai oleh orang setelahnya, terlebih di zaman ini, menimbang masa hidup mereka yang masih dekat dengan masa hidup Rasulullah Saw. & para Shahabat yang tidak mungkin terulang, belum lagi keunggulan hafalan, penguasaan berbagai bidang ilmu, lingkungan yang shaleh, wara’ (kehati-hatian), keikhlasan, keberkahan, dan lain sebagainya. Pendek kata, para ulama seakan-akan telah menghidangkan “makanan siap saji” yang siap disantap oleh umat tanpa repot-repot meracik atau memasaknya terlebih dahulu, sebab para ulama tahu bahwa kemampuan meracik atau memasak itu tidak dimiliki setiap orang. Saat kaum Salafi & Wahabi mengajak umat untuk tidak menikmati hidangan para ulama, dan mengalihkan mereka untuk langsung merujuk kepada al-Qur’an dan Sunnah dengan dalih pemurnian agama dari pencemaran “pendapat” manusia (ulama) yang tidak memiliki otoritas untuk menetapkan syari’at, berarti sama saja dengan menyuruh orang lapar untuk membuang hidangan yang siap disantapnya, lalu menyuruhnya menanam padi.

    Seandainya tidak demikian, mereka mengelabui umat dengan cara menyembunyikan figur ulama mayoritas yang mereka anggap telah “mencemarkan agama”, lalu menampilkan dan mempromosikan segelintir sosok ulama Salafi & Wahabi beserta karya-karya mereka serta mengarahkan umat agar hanya mengambil pemahaman al-Qur’an dan Sunnah dari mereka saja dengan slogan “pemurnian agama”.

    Sesungguhnya, “pencemaran” yang dilakukan para ulama yang shaleh dan ikhlas itu adalah upaya yang luar biasa untuk melindungi umat dari kesesatan, sedangkan “pemurnian” yang dilakukan oleh kaum Salafi & Wahabi adalah penodaan terhadap ijtihad para ulama dan pencemaran terhadap al-Qur’an dan Sunnah. Dan pencemaran terbesar yang dilakukan oleh kaum Salafi & Wahabi terhadap al-Qur’an dan Sunnah adalah saat mereka mengharamkan begitu banyak perkara yang tidak diharamkan oleh al-Qur’an dan Sunnah; saat mereka menyebutkan secara terperinci amalan-amalan yang mereka vonis sebagai bid’ah sesat atas nama Allah dan Rasulullah Saw., padahal Allah tidak pernah menyebutkannya di dalam al-Qur’an dan Rasulullah Saw. tidak pernah menyatakannya di dalam Sunnah (hadis)nya.

    Dari uraian di atas, nyatalah bahwa orang yang “kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah” itu belum tentu dapat dianggap benar, dan bahwa para ulama yang telah menulis ribuan jilid kitab tidak mengutarakan pendapat menurut hawa nafsu mereka. Amat ironis bila karya-karya para ulama yang jelas-jelas lebih mengerti tentang al-Qur’an dan Sunnah itu dituduh oleh kaum Salafi & Wahabi sebagai kumpulan pendapat manusia yang tidak berdasar pada dalil, sementara kaum Salafi & Wahabi sendiri yang jelas-jelas hanya memahami dalil secara harfiyah (tekstual) dengan sombongnya menyatakan diri sebagai orang yang paling sejalan dengan al-Qur’an dan Sunnah.

  • wiemasen says:

    Anda adalah wahabi dan salafi slayer. Anda adalah pengikut sufi. Saya akan merespon tulisan anda dilain kesempatan. Kalau anda mau membaca artikel-artikel saya di blog ini, maka anda akan mendapatkan jawaban dari tulisan-tulisan tersebut.

  • hamba says:

    Org yg sudah kadung membenci wahabi ya kayak begini ini nih, penulis ngebahas apaaaa direply-nya apa jadinya tulalit. Saya tau mas zulfikar, ente adalah pembenci salafi wahabi (dan itu hak ente) tp mbok ya tolonglah klo komen yg proporsional sesuai dengan apa yg dibahas di artikel, saya bosan mas baca komen2 pembenci wahabi spt ente tulisan2nya itu2 aja. Semoga lain kali lebih diperhatikan yaaaa…ktnya belajar fikih di pesantren, tentunya bisa dong komen dengan fikih ilmiah yah.

  • wiemasen.com – Zulfikar Zaid ini hanya bisa copy and paste saja. Mana kajian tabarruknya. Si penulispun tidak tahu beda antara tabarruk dan tafa’ul. Nih saya berikan penerangan mengenai tabarruk – http://blog.wiemasen.com/apakah-tabarruk-itu/. Akan saya jawab hujah-hujah di bawah satu persatu.

    Tabarruk adalah salah satu bentuk ibadah yang merupakan salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah. Tabarruk adalah upaya untuk mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Salah dalam mengambil barakah hanya mendatangkan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Untuk mengatahui apa itu tafaul, maka perlu kita baca hadith Nabi SAW.

    Dalam sebuah hadis Rasululullah saw bersabda:

    “Tiada jangkitan penyakit (tanpa kehendak Allah) dan tidak ada kesialan sesuatu, akan tetapi aku menyukai al-fa’l”. Para sahabat bertanya: “Apa itu al-Fa’l, ya Rasulullah?” Baginda menjawab: “Kalimah/ucapan yang baik”. (Riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Anas ra)

    Al-Fa’l menurut ulama bermaksud seseorang mendengar atau terdengar suatu ucapan yang baik. Contohnya ada seorang yang sakit, lalu kawannya datang dan menziarahinya. Ketika hendak maksud kepadanya, kawan itu berkata: “Ya Salim (yang bermaksud: “Wahai orang yang sehat/selamat”). Dengan panggilan itu ia menaruh keyakinan dalam hatinya bahwa ia akan sehat atau selamat. Menaruh keyakinan atau harapan seperti ini disebut al-Fa’l atau at-Tafa’ul.

    Rasulullah membenarkan al-Fa’l atau at-Tafa’ul karena ia berprasangka baik (husnu dzan) kepada Allah atau menaruh harapan kepadaNya, dimana setiap mukmin diperintahkan supaya senantiasa berprasangka baik kepada Allah setiap saat.

    Contoh-contoh tafa’ul yang dilarang:

    1. Pesta menuai yang dilakukan setiap tahun dengan harapan tanaman tahun depan menjadi lebih baik dan tidak mendapat kesusahan.
    2. Sebelum naik haji, buat majelis tahlil dan barzanji dengan harapan tidak mendapatkan kesusahan selama perjalanan.

    TEPUNG TAWAR/PEUSIJEUK Menurut Hukum Islam adalah boleh menurut(Kajian dari sudut teori tafa-ul, tabarruk, tasyabbuh dan bid’ah)

    Muqaddimah

    Tepung tawar/peusijeuk merupakan sebuah tradisi yang biasa dilakukan di kalangan suku Melayu dan Aceh khususnya. Tradisi ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat. Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dari dulu tidak ada yang menentangnya, namun kemudian dengan munculnya aliran pembaruan Islam, muncullah fatwa-fatwa yang menganggap acara tepung tawar/pesijeuk ini sebagai amalan bid’ah yang diharamkan. Kemudian dalam perkembangannya, masalah tepung tawar/pesijeuk menjadi suatu masalah yang kontraversial di tengah-tengah umat Islam. Karena itu, pembahasan secara mendalam dan konverehensif mengenai masalah ini merupakan suatu hal yang sangat diperlukan saat ini untuk menjawab kebingungan ummat mengenai status hukumnya.

    Upacara tepung tawar/peusijeuk sebagaimana dikenal masyarakat Melayu seperti Malaysia, Indonesia dan Aceh khususnya menyertai berbagai peristiwa penting dalam masyarakat, seperti kelahiran, perkawinan, pindah rumah, pembukaan lahan baru, jemput semangat bagi orang yang baru luput dari mara bahaya dan sebagainya. Dalam perkawinan, misalnya, tepung tawar/peusijeuk adalah simbol pemberian doa dan restu bagi kesejahteraan kedua pengantin. Dalam upacara ini, penepung tawar/peusijeuk menggunakan seikat dedaunan tertentu untuk memercikkan air terhadap orang yang ditepungtawari. Air tersebut terlebih dahulu diberikan wewangian seperti jeruk purut dan sebagainya, selanjutnya menaburkan beras dan padi ke atas orang yang ditepungtawari. Akhirnya menyuapkan santapan pulut (atau lainnya) ke mulutnya. Terdapat beberapa variasi upacara ini untuk daerah yang berbeda, tetapi tujuannya tetap sama, yaitu mengharapkan suatu kebaikan. Acara tepung tawar/peusijeuk biasanya diisi dengan pembacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dan berdoa kepada Allah SWT.

    Dalam adat Aceh, tepung tawar ini biasa disebut dengan peusijeuk, yang merupakan suatu acara adat yang dilakukan pada waktu dan untuk tujuan tertentu, seperti memuliakan tamu, meresmikan sebuah tempat yang baru selesai dikerjakan, mendamaikan sebuah sengketa dan lain-lain.
    Menurut Tgk H. Ibrahim Bardan (Abu Panton), prosesi peusijuk biasanya dilengkapi dengan dalong, bu leukat, tumpoe / u mirah, breuh pade, on seunijeuk, on manek manoe, naleung sambo, teupong tabeu, glok/ceurana dan sange. Dalong adalah sejenis talam yang terbuat dari kuningan dan bertujuan untuk mendamaikan pihak-pihak yang bersengketa. Bu leukat adalah nasi ketan yang merupakan simbol perekat pihak-pihak yang bersengketa. Tumpoe / u mirah bertujuan untuk menciptakan keharmonisan pihak-pihak yang bertikai. Breuh pade adalah campuran beras dan padi yang bermakna agar menjauh sikap sombong. On sineujeuk, on manek manoe dan naleung sambo adalah tiga jenis tumbuhan yang diikat menjadi satu sebagai isyarat untuk meperkokohkan persatuan dan tidak terulang perpecahan. Teupong tabeu yaitu tepung yang rasanya tawar, bertujuan mendinginkan sekaligus membersihkan hati. Glok adalah wadah air yang bermakna agar pihak-pihak yang bertikai selalu damai sehingga memperoleh berkah dan lebih leluasa dalam mencari nafkah. Sedangkan sange adalah tudung saji yang mengisyaratkan harapan perlindungan dari Allah SWT. 1
    Menurut hemat penulis, ada empat aspek tinjauan untuk menjawab mengenai hukum tepung tawar/peusijeuk, yaitu :
    1. tafa-ul,
    2. tabarruk
    3. tasyabbuh
    4. bid’ah

    I.Tepung tawar/peusijeuk ditinjau dari sudut teori tafa-ul

    A. Pengertian Tafa-ul
    Akar kata tafa-ul adalah fa’l. Menurut Kamus Mahmud Yunus, makna fa’l adalah tanda akan baik. Sedangkan tafa-ul adalah menenungi tanda akan baik, optimis. 2 Dalam Qamus Idris Marbawy Fa’l berarti sempena. Sedangkan tafa-ul diartikan mengambil sempena atau lawan tasya-um (menganggap sial) 3. Sempena (bahasa melayu) artinya tanda baik. Penggunaan istilah sempena untuk tafa-ul sering terdengar dalam pembicaraan masyarakat Aceh sehari-hari. Dalam Kamus Mukhtar al-Shihah, fa’l : Seseorang yang sakit mendengar orang lain berkata : “Hai salim (yang selamat) atau seseorang yang membutuhkan sesuatu, mendengar orang lain berkata : “ Hai wajid (mendapatkan sesuatu). 4 Lalu orang sakit atau yang membutuhkan sesuatu itu terbersit dalam hatinya mengharapkan kesembuhan atau mendapatkan harapannya, sebagaimana penjelasan Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim.5

    B. Pengertian dan macam-macam tafa-ul dalam Islam
    Berdasarkan penulusuran dalam berbagai kitab fiqh, ditemukan beberapa contoh tafa-ul dalam Islam, antara lain :
    1.memalingkan rida’ dalam khutbah shalat minta hujan sebagai tafa-ul berobah keadaan. Berikut keterangan para ulama mengenai ini, antara lain :

    a.Berkata Ibrahim Bajury :
    “Perkataan pengarang : “memalingkan dst” (khatib memalingkan rida’nya pada khutbah shalat istisqa’) artinya adalah hukumnya sunat untuk tafa-ul (berharap baik) berobah keadaaan dari kesusahan kepada kemudahan, karena Rasulullah SAW mencintai tafa-ul yang baik.” 6

    b.Al-Bakri al-Damyathi mengatakan :
    “Khatib memalingkan rida’nya pada saat ini (pada saat khutbah shalat minta hujan) untuk tafa-ul berobah keadaan, demikian yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW.”7

    c.Berkata an-Nawawi :
    “Hikmah memaling rida’ pada khutbah shalat minta hujan adalah tafa-ul berobah keadaan kepada keadaan subur dan kelapangan.” 8

    Keterangan para ulama ini sesuai dengan hadits Nabi SAW di bawah ini :
    1). Sabda Nabi SAW :

    Artinya : Dari ‘Abad ibn Tamim dari pamannya, beliau berkata : “Aku melihat Nabi SAW suatu hari keluar untuk shalat istisqa’”. Kemudian paman Ibn Tamim berkata lagi : “Nabi SAW membelakangkan manusia dan menghadap qiblat sambil berdo’a. Kemudian memalingkan rida’nya.”(H.R. Bukhari) 9

    2). Sabda Nabi SAW :

    Artinya : Rasulullah SAW Shalat istisqa’, pada saat itu memalingkan rida’nya supaya dapat berobah musim kemarau (H.R. Darulquthny 10 )

    Menurut Ibnu Hajar al-Asqalany hadits ini diriwayat oleh Darulquthni dan al-Hakim dari jalan Ja’far bin Muhammad bin Ali dari bapaknya dari Jabir dengan perawi-perawinya terpercaya. Namun Darulquthny telah mentarjihkan keadaan hadits ini adalah mursal.11

    2.menengadahkan tangan dengan belakang tangan menghadap ke atas dalam berdo’a setelah shalat minta hujan sebagai tafa-ul berobah dari keadaan yang nyata kepada yang tersembunyi atau isyarat turun hujan ke bumi sebagaimana keterangan Ibnu Hajar al-Asqalany di bawah ini :
    “Adapun sifat dua tangan dalam berdo’a pada shalat istisqa’, manakala Imam Muslim telah meriwayat dari Tsabit dari Anas : “bahwa Rasulullah SAW setelah shalat istisqa’ maka mengisyarat dengan belakang dua telapak tangannya kelangit.” dan Abu Daud dari hadits Anas pula : “bahwa Rasulullah shalat istisqa’ seperti ini dan menengadahkan tangannya serta menjadikan bathin tangan keduanya menghadap bumi sehingga aku melihat putih ketiaknya” , maka berkata an-Nawawi : “Para ulama mengatakan : “Sunnat pada setiap do’a untuk menghilangkan bala mengangkatkan dua tangan dengan menjadikan belakang dua tangan mengahadap kelangit dan apabila berdo’a meminta dan menghasilkan sesuatu menjadikan bathin dua tangannya kelangit. Berkata lainnya : “Hikmah mengisyarah belakang dua tangan pada shalat istisqa’ tidak pada selainnya adalah untuk tafa-ul memalingkan keadaan yang nyata kepada yang tersembunyi sebagaimana dikatakan pada memalingkan rida’ atau itu adalah isyarah kepada sifat yang di minta, yaitu turun mendung (hujan) ke bumi.”12

    Berdo’a dengan kaifiyat seperti ini sesuai dengan hadits dari Anas bin Malik :

    Artinya : Sesungguhnya Rasulullah SAW setelah shalat istisqa’ maka mengisyarat dengan belakang dua telapak tangannya kelangit.(H.R. Muslim) 13

    3.tidak memecah tulang daging aqiqah sebagai tafaul terhindar sang anak dari segala penyakit sebagaimana perkataan al-Nawawi berikut :
    “Tidak dipecah tulang binatang aqiqah sebagai tafa-ul untuk keselamatan anak dari segala penyakit.” 14

    Al-Bakri al-Damyathi mengatakan :
    “Disunnatkan tidak memecahkan tulang binatang aqiqah selama memungkinkan, baik oleh yang melakukan aqiqah maupun pemakannya sebagai tafa-ul untuk keselamatan anggota tubuh anak.” 15

    Perintah tidak memecah tulang daging aqiqah ini berdasarkan perkataan Aisyah r.a. :

    Artinya : Tetapi yang sunnah adalah sebaiknya untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan untuk anak perempuan satu ekor kambing. Dipotong anggota badannya tetapi tidak pecahkan tulangnya. (H.R. al-Hakim, beliau mengatakan, hadits ini shahih isnadnya) 16

    4.memasak daging aqiqah dengan sesuatu yang manis sebagai tafa-ul baik akhlak sang anak sebagaimana keterangan al-Nawawi dalam Majmu’ Syarah Muhazzab :

    “Jumhur ulama mengatakan dimasak daqing aqiqah dengan suatu yang manis untuk tafa-ul manis akhlak anak, berdasarkan hadits dalam al-Shahih, Sesungguhnya Nabi SAW senantiasa mencinta yang manis dan madu” 17

    Hadits dimaksud, dalam Bahasa Arab berbunyi :
    sesuai dengan hadits :
    Artinya : Sesungguhnya Nabi SAW senantiasa mencinta yang manis dan madu. (H.R. Ahmad) 18

    Dalam Shahih Bukhari berbunyi :

    Artinya : Dari Aisyah r.a berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW senantiasa mencinta yang manis dan madu (H.R. Bukhari) 19

    wiemasen.com – Itu kata Imam Nawawi. Saya mau tanya apakah ada dalil sahih dari Rasulullah saw yang mengatakan bahwa memasak daging aqiqah dengan yang manis merupakan salah satu bentuk tafa’ul?

    Selain alasan itu, patut juga ditanyakan apakah hadith memasak dengan yang manis itu shahih?

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa daging aqiqah seyogyanya dimasak manis. Maksudnya, masakan daging aqiqah tersebut diberi gula dalam jumlah yang banyak sehingga terasa manis. Hal ini dilakukan dengan harapan akhlak anak tersebut besok hari adalah akhlak yang manis. Anggapan ini adalah pendapat yang lemah karena perbuatan ini tidak ada dalilnya, dan masalah optimistis atau pengharapan seyogyanya tidak kita perluas sampai keterlaluan seperti ini. (Lihat as-syarhu al-Mumti’ Jilid VII hal 546)

    Jawabannya adalah tidak shahih. Bagaimana hadith tidak shahih dipakai dalam masalah aqidah?

    5.menyiram kuburan dengan air suci menyucikan dan sejuk sebagai tafa’ul mudah-mudahan dapat menyejukkan orang dalam kuburan sebagaimana keterangan al-Bakri al-Damyathi di bawah ini :
    “Dan (disunnatkan) menyiram kubur dengan air agar debu-debu tanah tidak ditiup angin dan karena Nabi SAW melakukan demikian pada kubur anaknya, Ibrahim sebagaimana diriwayatkan oleh Syafi`i. Dan juga pada kubur Sa`ad sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan Nabi SAW telah memerintahkan dengannya pada kubur Utsman bin Madzh`uun sebagaimana diriwayatkan oleh at-Turmidzi. Dan yang mustahab adalah air tersebut suci lagi mensucikan dan sejuk, sebagai tafa`ul mudah-mudahan Allah menyejukkan kubur si mati.20

    Perintah menyiram air ini berdasarkan perbuatan Nabi SAW yang melakukan hal itu pada kubur anak beliau Ibrahim sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Syafi`i dan juga pada kubur Sa`ad sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan Nabi SAW juga telah memerintahkan menyiram air pada kubur ‘Utsman bin Madzh`uun sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bazar. 21

    wiemasen.com – Menyejukkan kubur si mati adalah takwil al-Bakri al-Damyathi. Tidak dikatakan bahwa tujuan Rasulullah menyiram kubur agar si mati menjadi sejuk di dalam kubur.

    Bahwa Nabi SAW menyiram ke atas kubur anknya Ibrahim, dan meletak di atasnya anak-anak batu. Dikeluarkan oleh al-Baihaqi (458H) dalam al-Kubra (no.6737), kata al-Baihaqi: ”dan ini Mursal” [ rujuk: Sunan al-Kubra al-Baihaqi,tahqiq Islam bin Mansur, 4/134 (no. 6737), Dar al-Hadith, Mesir, 2008]

    Dari sisi ilmu hadith, riwayat yang berkenaan dengan menyiram air di kuburan semuanya dhaeef.

    Dari sudut Ffiqh al-hadith para ulama berbeda pendapat boleh atau tidak menyiram air di kubur.

    Sebagian ‘Ulama mazhab al-Syafie, Hanafi menganjurkan untuk menyiram air di kuburan. Contohnya seperti al-Samarqandi (375H) yang merupakan tokoh mazhab Hanafi dalam kitabnya Tuhfat al-Fuqaha, katanya: “adapun menyiram/merenjis air di kuburan maka tiada masalah padanya, karena ia di perlukan untuk meratakan/mempadatkan(melunaskan) tanah kubur itu.

    Sebagian ‘Ulama lain tidak menganjurkan, bahkan melarang, karena hal ini tidak di syariatkan kerana hadith-hadith yang menjadi pijakan amalan ini adalah dhaeef semuanya.

    Pendapat pertengahan dan menjadi pilihan ialah di bolehkan menyiram/merenjiskan air di kuburan jika ia bertujuan untuk memadatkan (meratakan/melunaskan) tanah kuburan supaya tidak berdebu (disebabkan ditiup angin) dan sebagainya, namun jika ia dilakukan sebagai ibadah yg khusus maka ia dilarang dan tidak di syariatkan kerana dalil-dalil dalam hal ini Dhaeef kesemuanya.

    Adapun amalan menyiram air di kuburan dengan menggunakan air bunga atau air yasiin secara khusus seperti yang biasa di amalkan sesetengah kaum muslimin masa kini adalah di larang, bahkan merupakan perkara yang baru dalam agama. Dan setiap perkara yang baru dalam agama adalah dilarang.

    Dari keterangan di atas saja sudah bisa bisa diketahui bahwa amalan menyiram air di atas kubur berasal dari hadith-hadith dhaeef dan tidak boleh diamalkan kecuali untuk memadatkan atau meratakan tanah. Inikah pula untuk dijadikan sandaran tafa’ul agar orang di dalam kubur itu menjadi sejuk. Sungguh suatu hal yang mengada-ngada.

    6. Meniup/menghembus kepada sisakit ketika dijampi dengan “mu’awwizat” (Surat al-Nash dan al-Falaq). Menurut Qadhi ’Iyadh, tindakan meniup/menghembus tersebut bisa jadi sebagai tafa-ul supaya penyakit hilang dari sisakit sebagaimana lepasnya angin dari mulut orang yang melakukan jampi-jampi.22 . Perintah meniup/menghembus tersebut berdasarkan sabda Nabi SAW :

    Artinya : Dari Aisyah ra., beliau berkata: “Apabila ada salah seorang anggota keluarga beliau yang sakit, beliau meniupkan kepadanya dengan membacakan “mu’awwizat”. Ketika beliau menderita sakit yang menyebabkan beliau wafat, aku juga meniupkan kepada beliau dan mengusapkan dengan tangan beliau sendiri. Karena tangan beliau tentu lebih besar berkahnya daripada tanganku” (H.R. Muslim) 23

    7. Rasulullah senang mengkanankan suatu perbuatan sebagai tafa-ul mudah-mudahan termasuk dalam kelompok kanan. Ini telah disebut oleh Ibnu Bathal dalam kitabnya, Syarah Shahih Bukhari. 24

    wiemasen.com – Kalau tafa’ul ini ada contoh dari Rasulullah saw, maka itu dibolehkan.

    8. Rasulullah SAW menyapu dengan tangan kanan beliau pada tempat sakit sebagian keluarga beliau dengan membaca Surat al-Nash dan al-Falaq. Menurut al-Thabari adalah merupakan tafa-ul untuk menghilangkan penyakit tersebut. 25 Keterangan bahwa Rasulullah SAW pernah melakukan tindakan tersebut adalah hadits di bawah ini :

    Artinya : Sesungguhnya Nabi SAW mejampi sebagian keluarga beliau dengan Surat al-Nash dan al-Falaq seraya menyapu dengan tangan kanan beliau pada tempat sakit. (H.R. Bukhari) 26

    9. Tafa-ul dengan nama yang baik sebagaimana dilakukan Rasulullah SAW pada ketika Suhail (bermakna mudah ) datang menemui beliau dengan mengatakan :
    “Sungguh semoga mudah urusanmu” 27
    Peristiwa ini dapat disimak pada hadits berikut :
    ?????? ????? ???????? ???? ??????? ????? ?????????? ??? ???? ???? ???? ?????? ?????? ?????? ???? ??????????
    Artinya : Manakala Suhail bin ‘Amr datang menemui Nabi SAW, Nabi SAW bersabda “Sungguh semoga mudah urusanmu” (H.R. Bukhari) 28

    Al-Khuthabi mengatakan, hadits di atas menjadi dalil tafa-ul dengan nama yang baik merupakan perbuatan yang dianjurkan. 29
    10. Dan banyak lagi contohnya yang tidak mungkin disebut dalam tulisan singkat ini.

    Berikut ini hadits-hadits Nabi SAW yang menjelaskan mengenai tafa-ul yang menjadi pembahasan kita dalam tulisan ini, antara lain :
    1. Sabda Nabi SAW :
    ??? ??????? ????? ???????? ????????????? ????????? ??????? ????? ????????? ????? ???????? ?????????
    Artinya : Tidak ada penularan (tanpa kehendak Allah) dan tidak ada sial dan yang membuatku terkagum adalah al-fa’lu. Para Sahabat bertanya : “Apa itu al-fa’lu?” Rasulullah bersabda : “al-fa’lu yaitu kalimat yang baik.” (H.R. Bukhari)30

    2. Sabda Nabi SAW :
    ?? ???? ??? ???? . ??????? ????? . ??? ??? : ??? ????? ? ??? : ?????? ??????
    Artinya : Tidak ada penularan (tanpa kehendak Allah) dan tidak ada sial dan yang membuatku terkagum adalah al-fa’lu. Ada yang bertanya : “Apa itu al-fa’lu?” Rasulullah bersabda : “al-fa’lu yaitu kalimat yang baik.” (H.R. Muslim)31

    Menurut Imam an-Nawawi dalam mensyarah hadits di atas dan beberapa hadits riwayat muslim yang senada dengan hadits di atas, mengatakan bahwa termasuk dalam contoh tafa-ul adalah tafa-ul orang sakit dengan apa yang didengarnya seperti sisakit mendengar ada orang yang mengatakan : : “Hai salim” (yang selamat) atau orang lagi membutuhkan sesuatu, lalu mendengar ada orang yang berkata : “Hai wajid” (yang mendapati kebutuhannya). Maka terbersit dalam hatinya mengharap kesembuhan atau mendapatkan kebutuhannya.32

    3. Sabda Rasulullah SAW :
    ?? ???? ??? ???? ???? ????? ? ????? ?? ???? ???? : ??? ????? ? ??? : ?????? ?????? ??? ???? ??? ????
    Artinya : Tidak ada penularan (kecuali atas kehendak Allah) dan tidak ada sial dan aku menyukai fa’l. Mereka bertanya : Hai Rasulullah apa itu fa’l. Rasulullah menjawab : “kalimat yang baik”.hadits ini adalah hasan shahih.(H.R. Turmidzi) 33

    Tiga buah hadits di atas menjelaskan tafa-ul dalam bentuk perkataan. Lalu bagaimana dengan tafa-ul dalam bentuk perbuatan ?. Tafa-ul dalam bentuk perbuatan dianjurkan dengan diqiyaskan kepada tafa-ul dalam bentuk perkataan. Kalau tafa-ul dalam bentuk perkataan saja dianjurkan dalam Islam, tentunya tafa-ul dalam bentuk perbuatan lebih patut dan lebih layak disyari’atkan. Karena perkataan yang baik pada tafa-ul dalam bentuk perkataan merupakan simbol harapan kebaikan, maka demikian juga perbuatan yang baik juga dapat menjadi simbol harapan kebaikan orang melakukan tafa-ul. Penjelasan seperti ini telah diisyaratkan oleh al-Muhallab, salah seorang Tabi’in, beliau berkata :
    ”Memaling rida’ (dalam khutbah shalat istisqa’) merupakan tafa-ul untuk memalingkan keadaan yang ada (kesukaran). Apakah tidak kamu memeperhatikan bahwa Nabi SAW mengagumi tafa-ul yang baik apabila mendengan suatu perkataan ? Maka bagaimana lagi kalau melihat sebuah perbuatan ?. Padanya dalil menggunakan tafa-ul dalam beberapa perkara (maksudnya : ada dalam bentuk perkataan dan ada juga dalam bentuk perbuatan).” 34

    Pengqiyasan tersebut di atas didukung pula oleh mutlaqnya maksud hadits Nabi SAW yaitu :
    ? ??? ????? ????? ?????
    Artinya : Rasulullah SAW mengagumi tafa-ul yang baik.(H.R. al-Hakim) 35

    Saiyidina Ali dan Ibnu Mas’ud telah menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa Rasullulah SAW malakukan tayaamun (mengkanan-kanankan dalam perbuatannya) pada wudhu’nya adalah atas jalan tafa-ul dengan ashab al-yamin (kelompok orang yang berada dipihak kanan) yaitu ahli syurga. .36 Tayamun ini tentunya merupakan suatu perbuatan, bukan perkataan.
    Senada dengan hadits riwayat al-Hakim di atas adalah riwayat yang disebut dalam kitab Musnad Ahmad, yaitu :
    ??? ???? ???? ??? ???? ???? ? ??? ??? ????? ????? ????? ??????

    Artinya : Rasulullah SAW mencinta tafa-ul yang baik dan membenci anggapan sial (H.R. Ahmad) 37

    Khathib Syarbaini dalam dua kitab beliau, Iqnaq dan Mughni al-Muhtaj telah menjadikan hadits ini sebagai dalil tafa-ul dalam bentuk perbuatan, yaitu memalingkan rida’ dalam khutbah shalat Istisqa’. 38 Berdasarkan penjelasan di atas ini pulalah para ulama sebagaimana tersebut sebelum ini, memfatwakan disyari’atkan tafa-ul dalam bentuk perbuatan sebagaimana disyari’atkannya dalam bentuk perkataan sebagaimana beberapa contoh yang telah disebut di atas.
    Berdasarkan makna tafa-ul secara bahasa, dalil-dalil dan contoh-contoh tafa-ul di atas, menurut hemat penulis, maka tafa-ul pada syara’ kurang lebih adalah harapan akan datang kebaikan atau rahmat yang disebabkan oleh perkataan atau perbuatan tertentu. Namun demikian, ada juga ulama yang mengartikan bahwa tafa-ul itu terbagi kepada tafa-ul pada sesuatu yang menggembirakan dan tafa-ul pada sesuatu yang tidak menyenangkan. Kebiasaannya, maknanya adalah pada sesuatu yang tidak menyenangkan. 39Berdasarkan pengertian yang kedua ini, maka tafaul yang dianjurkan adalah tafa-ul pada sesuatu yang menggembirakan.

    C. Perbedaan Tafa-ul dengan Tasya-um
    Tasya-um sering diterjemahkan sebagai menganggap sial sesuatu. Prof. Mahmud Yunus dalam kamusnya, Kamus Arab-Indonesia memberi makna ; sial, malang, celaka. Tindakan tasya-um dilarang dalam agama, karena melakukan tasya-um berarti berburuk sangka kepada Allah SWT tanpa sebab yang pasti. Tasya-um berbeda dengan tafa-ul, karena tafa-ul merupakan tindakan berbaik sangka kepada Allah SWT. Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalany, salah seorang ahli hadits terkenal mengatakan :
    ” Tasya-um merupakan tindakan berburuk sangka kepada Allah SWT tanpa sebab yang pasti. Sedangkan tafa-ul adalah tindakan berbaik sangka kepada Allah SWT. Orang yang beriman diperintahkan untuk berbaik sangka kepada Allah pada setiap keadaan.” 40

    Tasya-um ini oleh orang Arab menyebutnya juga sebagai al-thiyarah atau al-tathaiyur. Perkataan al-tathaiyur berasal dari kata al-thiyarah yang asal maknanya adalah burung. Tasya-um disebut dengan al-thiyarah adalah karena orang-orang Arab pada zaman Jahiliyah apabila mau berangkat ke suatu tempat karena suatu kebutuhan, apabila melihat burung terbang di samping kanannya, maka mereka merasa gembira karena kepergiannya itu dianggap ada keberuntungan. Sebaliknya, kalau burung tersebut terbang sebelah samping kirinya, maka dianggap sebagai sial (tasya-um) dan mereka menunda keberangkatannya. 41

    Untuk lebih memahami pengertian tasya-um, maka berikut ini beberapa contoh tasya-um yang disebut oleh ulama kita, antara lain :
    1.Tidak menziarahi orang sakit pada Hari Sabtu karena menganggap sebagai hari sial dan dapat menyebabkan kematian kepada sisakit 42
    2.Tidak melakukan musafir pada bulan shafar karena menganggap bulan shafar merupakan bulan sial, menganggap sial Hari Rabu dan hari-hari lemah pada akhir musim dingin dan tidak melakukan pernikahan pada bulan Syawal karena bulan Syawal dianggap sebagai bulan sial. 43
    3.Menganggap sial bilangan (angka). 44
    4.Orang Arab pada zaman Jahiliyah apabila mau berangkat ke suatu tempat karena suatu kebutuhan, apabila melihat burung terbang di samping kanannya, maka mereka merasa gembira karena kepergiannya itu dianggap ada keberuntungan. Sebaliknya, kalau burung tersebut terbang sebelah samping kirinya, maka dianggap sebagai sial (tasya-um) dan mereka menunda keberangkatannya sebagaimana disebut di atas.

    Berdasarkan pengertian tafa-ul dan tasya-um di atas, dapat dipahami sebagai berikut :
    1.Tafa-ul adalah harapan datang sebuah kebaikan. Sedangkan tasya-um adalah anggapan sial sesuatu.
    2.Tafa-ul berbaik sangka kepada Allah SWT. Sedangkan tasya-um adalah berburuk sangka kepada Allah SWT
    3.Tafa-ul dianjurkan dalam Islam. Sedangkan tasya-um dilarang.
    Hukum tepung tawar/peusijeuk ditinjau dari sudut teori tafa-ul

    Apabila ditinjau dari sudut teori tafa-ul, berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
    1.Tafa-ul merupakan sebuah amalan yang dibenarkan syari’at, bahkan dianjurkan mengamalnya sesuai dengan uraian-uraian di atas
    2.Tujuan dilakukannya tepung tawar/peusijeuk adalah dengan melakukan simbol-simbol kebaikan, diharapkan munculnya kebaikan itu sendiri,
    3.Amalan tepung tawar/peusijeuk merupakan perbuatan tafa-ul yang dianjurkan dalam Islam sebagaimana dapat disimak dalam keterangan di atas. Hal ini, tentunya selama di dalamnya hanya sebatas yang telah digambarkan di atas dan tidak mengandung unsur-unsur syirik dan hal-hal lain yang diharamkan oleh syari’at.
    4.Disebut acara tepung tawar/peusijeuk sebagai tafa-ul, bukan tasya-um adalah karena maksud acara tepung tawar atau peusijeuk hanyalah dengan harapan sesuatu yang baik, bukan mengannggap sial sesuatu dan benda-benda yang terdapat dalam acara tepung tawar atau peusijuek hanyalah sebagai simbol kebaikan yang diharapkan dan ingin dicapai.
    5.Berdasarkan kesimpulan ini, maka pendapat yang mengatakan tepung tawar/peusijeuk merupakan amalan yang tidak dikenal dalam Islam adalah suatu yang sangat keliru dan perlu tinjau ulang.

  • wiemasen says:

    Ya Allah, begitu menggebu-gebunya anda membela pemahaman anda. Saya tidak ada waktu membahas semunya, karena terlalu sibuk dengan urusan lain. Sepertinya cukup banyak waktu untuk menulis di internet.

    Maaf ya saudara Zulfikar, terpaksa saya menunda penerbitan komentar-komentar anda yang lain untuk memberikan kesempatan kepada saya merespon satu-persatu.

    [Zulfikar Zaid] Untuk lebih jelas, baca “I’tiqad Ahlussunnah Wal-Jama’ah” karya KH. Siradjuddin Abbas, diterbitkan oleh Pustaka Tarbiyah Jakarta.

    Dari referensi yang anda gunakan, saya langsung mengetahui bahwa anda termasuk dalam kategori pembenci wahabi, salafi atau semacamnya, karena KH. Siradjuddin Abbas adalah wahabi slayer atau pembantai wahabi. Jadi kalau anda sudah fanatik dengan buku itu, ya susah juga.

    [Zulfikar Zaid] Anda yang sebenarnya yang masih sangat awam tentang memahami konsep tawasul, ajimat, tariqat dan juga ilmu hakikat.

    Satu lagi, anda adalah pengikut tariqat yang memang sangat anti dengan yang namanya salafi, wahabi, muhammadiyah bahkan PKS :) Biasanya yang membenci kelompok-kelompok itu adalah mereka dari kalangan tariqat yang sering dikritik oleh kaum salafi karena keseringan menyeleweng, dan juga dari kalangan Syi’ah. Karena musuhnya sama maka Syi’ah dan tariqat sering bersatu menghadapi golongan sunnah ini. Terkadang mereka tidak segan-segan bekerja sama dengan kaum kuffar atau pemerintahan yang zalim dalam rangka menjatuhkan rival mereka.

    [Zulfikar Zaid] simak penjelasan saya dengan baik => Salafi atau Salafiyah adalah sebutan untuk kelompok atau paham keagamaan yang dinisbatkan kepada Ahmad Taqiyuddin Ibnu Taimiyah ( 661 H-728 H) atau yang sering dikenal dengan panggilan Ibnu Taimiyah. Salafi atau Salafiyah itu sering dipahami sebagai gerakan untuk kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. beserta para Sahabat beliau.

    Saya tidaklah sebodoh apa yang anda tuduh. Silakan baca ditautan berikut ini apa itu Salaf dan Salafi. Mudah-mudahan anda meluangkan waktu untuk membaca. Jadi tidak hanya pintar menyuruh orang lain membaca komentar-komentar anda yang sangat panjang.

    [Zulfikar Zaid] Wahabi atau Wahabiyah adalah sebutan untuk kelompok atau paham keagamaan yang dinisbatkan kepada pelopornya yang bernama Muhammad bin Abdul Wahab (1702 M-1787 M/ 1115 H-1206 H). sebetulnya, nama Wahabi ini tidak sesuai dengan nama pendirinya, Muhammad, tetapi begitulah orang-orang menyebutnya. Sedangkan para pengikut Wahabi menamakan diri mereka dengan al-Muwahhiduun (orang-orang yang mentauhidkan Allah), meskipun sebagian mereka juga mengakui sebutan Wahabi.

    Silakan merujuk pada tautan berikut ini: Benarkah Ada Mazhab Wahabi?

    [Zulfikar Zaid] Itulah mengapa kedua ajaran mereka memiliki kesamaan visi dan misi, yaitu “Kembali kepada Al-Qur’an & Sunnah Rasulullah Saw. beserta para Sahabat beliau,” sehingga apa saja yang “mereka anggap” tidak ada perintah atau anjurannya di dalam Al-Qur’an, Sunnah, atau atsar Sahabat Nabi Saw., langsung mereka anggap sebagai bid’ah (perkara baru yang diada-adakan) yang diharamkan dan dikategorikan sebagai kesesatan, betapapun bagusnya bentuk suatu kegiatan keagamaan tersebut

    Betul itulah ahlusunnah yang sebenarnya. Namun saya perlu mengoreksi tulisan anda atau tulisan orang lain yang anda kopi yaitu betapapun bagusnya bentuk suatu kegiatan keagamaan tersebut. Bukan kegiatan agama, TAPI hanya yang menyangkut ibadah dan aqidah, apabila tidak ada contoh dari Nabi saw dan para sahabat, maka silakan tinggalkan. Jadi selama kegiatan agama itu tidak menyangkut ibadah dan aqidah, ya silakan lakukan saja. Ini salah satu tuduhan anda yang tidak betul.

    [Zulfikar Zaid] Pada hakikatnya berbeda dari pengertian Ahlus-sunnah wal-Jama’ah yang dipahami oleh para ulama Islam di dunia (yaitu yang mempunyai hubungan historis dengan al-Asy’ari dan al-Maturidi ).

    Betulkah mayoritas ulama Islam dunia mempunyai hubungan historis dengan al-Asy’ari dan al-Maturidi? Bisakah anda membuktikannya? Silakan baca tautan berikut ini: Aqidah Asy’ariyah, untuk memahami aqidah Asy’ariyah. Jangan khawatir apa yang anda bahas itu, saya sudah punya jawabannya semua. Sayang sekali ya :)

    [Zulfikar Zaid] Terbukti, pada masa hidupnya saja, baik Ibnu Taimiyah maupun Muhammad bin Abdul Wahab, sudah dianggap “aneh” bahkan cenderung dianggap sesat ajarannya oleh para ulama pengikut empat Mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali) yang keseluruhannya menganut paham ahlus-Sunnah wal-jama’ah.

    Tentu saja mereka dianggap aneh oleh ulama-ulama sufi atau tariqat ataupun syi’ah. Coba sebutkan nama ulama-ulama yang menganggap mereka sesat. Dengan segera saya mengetahui apa manhaj ulama-ulama tersebut. Menuduh mereka dianggap sesat oleh 4 mazhab pun sudah salah. Para pendiri dakwah ini umunya bermazhab fiqih dengan mazhab Al-Hanabilah, jadi tidak benar kalau dikatakan mereka anti mazhab. Namun memang mereka tidak selalu terikat dengan mazhab tersebut dalam fatwa-fatwanya. Terutama bila mereka menemukan dalil yang lebih rajih. Oleh karena itu dakwah merka sering disebut La Mazhabiyyah, namun sebenarnya lebih kepada masalah ushul, sedangkan masalah furu`nya, mereka tetap pada mazhab Al-Hanabilah.

  • wiemasen says:

    Hamba, betul sekali.

  • wiemasen says:

    [Zulfikar Zaid] Anjuran saya anda harus banyak belajar agama yang benar, saya kira kalau sudah begitu penjelasan saya itu sudah lebih dari cukup karena model2 penjelasan kamu atau fatwa seperti kamu itu sudah sering saya lihat dalam hidup saya, bahkan saya penantang keras wahabi&salafi bahkan saya sering mengundang mereka untuk muzakarah apa yang telah mereka fatwakan tapi hasilnya nihil karena mereka hanya memahami al-quran dan hadist secara harfiyah,lograwi dan tekstual tapi mereka sama sekali tidak mengerti ilmu untuk kita mengerti al-quran dan hadist seperti ilmu nahwu saraf,ilmu usul,ilmu mantik,ilmu badi’ak dan juga ilmu tafsir al-quran ilmu, tafsir hadist sehingga mereka semakin tersesat setiap memahami agama.

    Sayang sekali, anda tidak tahu apa-apa mengenai madzhab zahari baru. Sehingga semuanya dimasukkan ke dalam satu karung. Silakan dibaca artikel ini mengenai apa itu madzhab zahari. Semoga bisa membuka pikiran anda yang merasa hanya diri sendiri yang betul dan orang lain salah. Lebih parah lagi menganggap orang lain sesat.

    Ciri dan Karakteristik Madrasah Zhahiriyyah Baru

  • wiemasen says:

    [Zulfikar Zaid] saya sangat jengkel dengan org2 yang berani sekali menyalahkan peusijuek dan menyalahkan ulama2 kampung padahal perlu kalian tahu ulama kampung itu lahir dari pesantren yang kebanyakan mereka sangat mendalami ilmu agama dan kealiman mereka kebanyakan tidak tanggung2,yg sgt beda dengan ustad cuma baca buku2 agama.

    Dengan prinsip tersebut, anda jadi malas membaca. Sehingga tidak membaca siapa penulis artikel itu sebenarnya. Penulisnya adalah seorang yang berilmu bukan cuma ustadz yang belajar dari buku-buku saja. Kalau sudah emosi, komentar jadi kacau balau. Bagaimana mau menyuruh orang memahami pendapat anda?

    Ilmu agama seperti apa yang mereka dalami? Adakah ilmu agama yang ilmiah atau hanya mengikuti ajaran turun-temurun? Kealiman tidak tergantung dari seberapa banyak dan shahih ilmu yang dimilikinya.

    Ini profil penulis yang menjadi rujukan saya ketika menulis masalah peusijuek.

    Dr. H. Rusli Hasbi, MA, seorang ulama dan penceramah yang tidak asing di Indonesia, negara dengan 200 juta umat Islam. Peraih gelar Doktor di bidang Ushul Fiqh, pimpinan pondok Pesantren Ihya’ Qalbun Salim dan dosen UIN Jakarta ini sering mengisi acara Hikmah Pagi di TVRI yang siarannya menjangkau seluruh nusantara sampai Australia barat. Selain itu, dia secara rutin berceramah di lingkungan Pertamina (kantor pusat dan anak perusahaan) dan menjadi pembimbing jamaah haji dan umrah Bank Muamalat. Pada 2007, dia menyampaikan Khutbah Idul Fitri di Doha, ibukota Qatar.

    Anda mau komentar apa lagi hayo? :)

  • wiemasen says:

    [Zulfikar Zaid] juga orang yang menuntut di pesantren selama 12 tahun tidak bisa kita gantikan dengan orang sekolah agama yang bergelar “DR” karena itu sudah saya buktikan di lapangan mereka selalu menghindar dari kami orang pesantren karena mereka sering kalah dalam mubahasah dan muzakarah masalah agama dengan kami semua dan kami tidak pernah memamerkan titel tapi yang kami pamerkan hanyalah mutu yang kami punya sebagai bekal untuk hidup di dunia dan akhirat

    Patutlah…ternyata terjadi kecemburuan sosial. Dulu katanya tidak setuju dengan ustadz-ustadz karbitan yang membaca buku saja. Sekarang setelah saya beritahu rujukan-rujukan saya memiliki gelar mumpuni dari Timur-Tengah, anda berargumen mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang belajar di pesantren selama 12 tahun :) Anda pikir lulusan S3 dari Indonesia tidak pernah belajar di pesantrenkah?

    [Zulfikar Zaid] wiemasen anda jangan mengaggap saya orang di dalam tempurung kelapa yang tidak pernah keluar tapi saya penuntut ilmu di pesantren aceh,di pulau jawa di lirboyo dan juga yang terakhir di pesantren ahlussunnah waljamaah al-hilal di mekah mukaromah sampai sekarang, jadi saya juga punya referensi dan prinsip2 tentang setiap pemahaman saya dan saya sering juga menyaksikan tentang kebohongan mereka yang terus menciptakan fitnah kepada kaum ahlussunnah di seluruh dunia diantaranya

    Belajar di pesantren Mekkah kah? Setahu saya, lulusan universitas-universitas di Mediah atau Mekkah, pemahaman agamanya jauh berbeda dengan anda. Ternyata terjadi kecemburuan sosial. Bukannya Saudi Arabia kebanyakan pengikut Wahabi atau Salafi menurut pemahaman anda? Atau jangan-jangan anda berada di pesantren Syi’ah kah?

    Saya bukan melihat seseorang itu dari lulusan mana, tapi apa yang dibawanya. Kalau lulusan pesantrenpun memiliki hujjah yang mantap, maka saya akan terima. Tapi kalau lulusan pesantren yang memiliki hujjah ngawur seperti anda, jelas saya tidak akan terima. Melihat gaya penulisan anda, saya sangat meragui kemampuan ilmu anda.

    Ngomong-ngomong anda punya banyak waktu di internet, kenapa tidak selesaikan pelajarannya di pesantren Mekkah. Atau ‘itikaf kah atau membersihkan hatikah…

  • Kadri says:

    MAkasih infonya

  • Aneuk Ranto says:

    Ahh.. Jangan terlalu ekstrim laahhh…

    Peusijuek itu budaya, urusannya dunia jangan bawa-bawa akherat soal peusijuek. Soal doa di dalamnya ya tetap doa, doa itu sifatnya transendental, yang penting ada permohonan sama Tuhan, mau pake bunga2 kek mau nggak pake apa2 kek, ya gak jadi soal.
    Tapi, ketika peusijuek ini terlalu dikultuskan sehingga muncul asumsi kalo gak peusijuek nanti bisa celaka segala macam, itu yang perlu dipersoalkan. Budaya yang udah eksis itu jangan digugat2, capek nenek moyang Anda malahirkan budaya ini. Jadi peusijuek ini gak usah dibawa-bawa ke ranah agama lah, ini budaya murni.

  • wiemasen says:

    Aneuk Ranto, anda perlu belajar aqidah lagi.

  • muchtar says:

    Adat ngen agama bek cre, lagee benda ngen sifeuet. Itu motto orang Aceh dalam mempertahankan tradisi. Namu apa lacur, banyak tradisi berasal dari tradisi praislam alias zaman jahiliyah. haruskah itu dipertahankan ? Banyak hadis nabi mengatakan tidak. Bisakah agama dipisahkan dari budaya dalam kehidupan seorang muslim ? Tidak ! Karena tiap amalperbuatan akan dicatat dan nanti ada hukumnya dialam kubur. Pernah nonton film Rama ? Pada acara perkawinannya dengan Sinta ada upacara yang persis peusijuek yang dilakukan orang Aceh. Patutkah itu dipertahankan ? Adalah hak orang Aceh mempertahankan ciri budayanya yang menunjukkan jatidiri mereka. Dulu ketika pengaruh PUSA begitu kuat, peusijuek hampir hilang> Tetapi setelah pengaruh mereka hilang oleh kekuatan kaum bangsawan, maka mereka kaum bangsawan banyak mengadopsi ajaran kaum tradisionil dan menampilkan banyak ajaran yang oleh yang mau belajar terasa aneh. Kekuatan politik di Aceh saat ini lebih menginginkan ajaran jahiliyah kembali hidup di Aceh ketimbang menerima kebenaran. Munkin lebih tepat Aceh disebut sebagai Serambi Mombay daripada Serambi Mekkah.

  • wiemasen says:

    Terima kasih bang Muchtar. Informasi yang menarik.

  • juhaiman says:

    @zulfikar zaid ” jangan mudah menfatwakan sesuatu salah jika ilmu masih dini apa lagi pelajari agama di buku2,al-qur’an dan hadist itu tidak mudah di tafsirkan sebab klo di tafsirkan orang itu harus menguasai ilmu nahu saraf,ilmu mantiq,ilmu usul,ilmu badik,ilmu bayan,ilmu tafsir al-qur’an dan ilmu tafsir hadist shg kamu akan mengerti setiap faedah huruf al-qur’an dn hadist”

    Wah susah betul memahami alquran bila mengikuti pemahaman anda ….. kok jadi rumit sekali ?????

    Bukankah kita setuju alquran adalah ” petunjuk atau SOP ” , jadi oleh yang membuatnya pasti dibuat mudah untuk dipahami .
    Kalau dibuat “susah” , bukan “petunjuk” namanya ……. tapi teka teki , karena orang akan jadi bingung ……

    Beli motor atau mobil saja pasti produsennya mengeluarkan buku petunjuk untuk mengoperasikan dan merawat agar kendaraan dapat dikendarai dan dirawat dengan baik dan dibuat petunjuk / manual disusun sedemikian rupa sehingga konsumen mudah mengerti. Konsumen bisa saja mengabaikan buku petunjuk tersebut , tapi bisa mengakibatkan kerusakan atau kecelakaan .

    Bukankan Al Quran juga suatu PETUNJUK bagi manusia ? jadi pastinya diturunkan agar mudah dipahami oleh manusia sebagai PETUNJUK hidupnya …Apalagi yang menyusun bukan manusia ….

    Untuk tingkatan tertentu Al Quran mudah untuk dipahami oleh kebanyakan orang yang mau dan itu sudah janji Allah SWT.
    Qs Ad-dukhan 44:58 QS Al Qamar 54:17 , QS Al Qamar 54:22, QS Al Qamar 54:32 , QS Al Qamar 54:40,
    Bayangkan dalam 1 surat konteks kemudahan Alqurang diulang ulang , bukankah itu menunjukan bahwa Alquran akan menjadi mudah bila dipelajari dengan iklhas bukan dengan nafsu ??

  • Iqbal says:

    bagus sekali artikelnya pak, izin share ya.

  • wiemasen says:

    Silakan…

  • aneuk dayah says:

    wie masen alumni mana?anda nulis internet itu apa bukan bid’ah?tlg anda jelaskan hadist yang melarang akan tepung tawar/peusijuek?merunut pada paham anda itu,internet atau segala macam teknologi tergolong kemana?

  • wiemasen says:

    Aneuk Dayah…saya tersenyum-senyum sendiri membaca komentar anda, karena jelas anda tidak tahu definisi bid’ah.

  • Reader says:

    Saya Senang baca jang seperti INI.memang dalam penjelasan di atas belum di terangkan larangan Rasulullah tentang pesejuk, TAPI…. yang menjadi permasalahan….kita semua tau acara seperti pesejuk itu adalah sama seperti yang dilakukan oleh org yg beragama HINDU, nah dalam Islam meniru perbuatan atau ritual agama lain apa hukumnya yaaaa ?

  • ikut muhammad says:

    mazz zul faqor,ilmu tapi blo on,hati dan fikirannya telah di karungi oleh kesyirikan,karena ALLAH telah menyesatkan nya,karena ngalep berkah kubur dan adat ani kekalmisme…biarkan aja dia tersesat jauh…itu yg di katakan rasul,Al quran hanya sampai di kerongkongan nya saja….selamat anda telah berhasil membela thaghut

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.