Home » Keluarga

Jangan Jadikan Istri Sebagai Pembantu

18 November 2010 One Comment

Tahukah anda, wahai para suami, apa tugas istri sebenarnya? Tugas istri hanyalah melahirkan anak-anak suaminya dan melayani suaminya (hanya mereka yang sudah menikah saja tahu maksudnya :) ).  Kalau cuma itu tugas istri, tugas siapa sebenarnya dalam urusan masak-memasak, membersihkan rumah, mengajar anak, memberi susu anak, mengantar anak ke sekolah, mencuci baju, dsb. Para lelaki dan suami mulai curiga, jangan-jangan tugas rumah tangga dan mengurus anak adalah tugas para suami.

Betul sekali kecurigaan para suami itu. Tugas-tugas di atas adalah tugas para suami. Emm…saya bisa melihat dahi para suami yang mulai berkerut menandakan ketidaksetujuan mereka.

“Tapi…mana mampu kita melakukan itu semua. Masak sudah capek seharian bekerja, sampai rumah masih disuruh mencuci baju lagi dan membersihkan kotoran si bayi,” protes para suami.

Nah kalau sadar tidak mampu melakukan semua pekerjaan itu semua, kira-kira apa biasanya yang kita lakukan. Ya pasti  dengan meminta tolong kepada orang lain.

Orang lain itu siapa ya? Pembantu rumah? Itu sih bukan minta tolong namanya, karena minta tolong yang harus dikasih uang sebagai imbalannya. Atau sama istri tetangga? Ngak mungkin! Bakalan babak-belur dihajar sama suaminya. Atau sama orangtua kita sendiri. Apa nggak kasihan tuh? Udah capek-capek mengurus kita sejak kecil, eh sekarang malah minta urus anak kita sama rumah kita. Wah…wah…wah, kebangetan namanya.

Kalau begitu siapa lagi yang boleh dimintai tolong? Liriklah ke samping anda, maka anda akan menemukan jawabannya. Siapa ya? Ya istri anda sendiri dong.?

Layaknya orang yang minta tolong sama orang lain, tentu minta tolongnya dengan lemah lembut.

“Wahai istriku tercinta,” para suami mulai berkata.

“Kamu belum penatkan melayani saya semalam? Kalau belum, minta tolong untuk mengurus rumah dan mengurus anak hari ini. Mau nggak?”

“Tentulah bang. Siapa lagi yang boleh saya tolong kalau bukan abang,” sahut si istri.

“Tapi dengan syarat, kalau kerjaan saya tidak sempurna jangan marah-marah dulu ya. Kalau ada waktu, abang tolongin saya jugalah.” lanjut istrinya lagi.

“Boleh…boleh, abang berjanji untuk membantumu,” tegas suaminya lagi.

Nah, apa sudah menangkap maksud di sebalik cerita itu? Itulah sebenarnya hubungan antara suami dan istri. Suami minta pertolongan istri untuk membantunya mengerjakan pekerjaan rumah dan mengurus anak. Istri dengan senang hati membantu suaminya karena rasa cinta dan sayang kepada suaminya.?

Apa imbalan yang didapat oleh para istri yang bekerja di rumah itu? Imbalannya adalah pahala yang sangat besar yang tidak akan terbayangkan. Bagaimana tidak, setiap hari para istri menolong suaminya mengerjakan pekerjaan rumah dan mengurus anak. Kalau istri tersebut hidup selama 40 tahun mengerjakan itu setiap hari, bayangkan berapa besar pahala yang diperolehnya, dengan syarat si istri mengerjakannya dengan ikhlas. Jadi para ibu rumah tangga, jangan berkecil hati dengan kerja di rumah ya?

Tentu saja dalam kehidupan sebenarnya, percakapan seperti di atas tidak akan terjadi, karena memang sudah secara otomatis istri mengerjakan pekerjaan rumah dan suami bekerja di luar rumah. Ini namanya adat-istiadat secara turun-temurun. Sudah menjadi adat kalau istri mengurus rumah dan anak. Tapi ingat, walaupun ini adalah adat, ia merupakan adat yang baik karena tidak bertentangan dengan Islam.

Sayangnya pada saat ini, para suami mengambil kesempatan atas kepatuhan para istri dengan menggunakan alasan agama, yaitu istri harus patuh kepada suami tanpa kecuali. Mereka menyuruh istri banting-tulang kerja di rumah hingga si istri tidak sempat memperhatikan penampilannya lagi. Tidak heran, kalau para istri kelihatan lebih cepat tua dari suaminya. Istri seolah-olah kelihatan seperti pembantu rumah karena para suami tidak menyadari hakikat hubungan suami istri yang sebenarnya

Jadi alangkah tidak wajar, jikalau seorang suami memasang tampang masam kepada istrinya hanya karena masakan yang dimasak tidak enak. Alangkah tidak wajar, jikalau suami menuntut istri mendidik anaknya dengan sempurna, sedangkan dia tinggal menerima hasilnya saja. Alangkah tidak wajar, jikalau suami tidak berusaha menolong istrinya memberishkan rumah di waktu luangnya.

Kalau perlu suami menawarkan kepada istri, seperti:

“Kelihatannya kamu capek mengurus rumah setiap hari, nanti saya carikan pembantu untukmu.”

“Anak-anak kita agak ketinggalan pelajaran sekolahnya, sedangkan kamu sudah sibuk bekerja di rumah seharian dan berusaha sebisa mungkin mengajari anak. Nanti aku carikan seorang tutorlah, untuk mengajar anak-anak saya.”

Jadi wahai para suami sekalian, jangan sampai melanggar hubungan saling memerlukan itu. Jangan sampai anda melukai hati istri anda hanya karena istri anda tidak masak enak hari ini atau istri anda gagal mendidik anak-anaknya. Rajin-rajinlah membantu istri anda di rumah, walaupun anda juga capai bekerja seharian. Istri anda juga penat bekerja seharian di rumah kan?

Popularity: 8% [?]

One Comment »

  • Gerizal said:

    Ketika Suami Harus Bisa Memasak

    Sesungguhnya Islam telah mengatur kehidupan manusia dengan standar yang paripurna, menyeluruh (syamil), dan diletakkan atas dasar keadilan dan keseimbangan. Seperti yang terfirmankan dalam “Maka berbuatlah adil-lah karena keadilan mendekatkan kepada taqwa” (QS. Al Maidah: 8 ) dan “Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangannya” (QS. Ar Rahman : 9).

    Jika bicara keadilan dan keseimbangan, maka kita kan bicara tentang hak dan kewajiban. Ada hak orang lain yang menjadi kewajiban kita yang harus kita tunaikan begitupun sebaliknya. Karena yang disebut adil adalah meletakan segala sesuatu sesuai dengan porsi atau haknya. Begitu pula dalam kehidupan berumah tangga, ada hak dan kewajiban yang harus dipahami dan ditunaikan satu dengan yang lain. Hak istri adalah kewajiban bagi suami dan hak suami adalah kewajiban bagi istri. Hunn libaasullakum wa antum libasullahun..

    Terkadang ketidakmengertian tentang fungsi hak dan kewajiban suami istri inilah yang menjadikan prahara dalam rumah tangga. Karena satu dan yang lainnya saling berebut mencari pembenaran diri, mana yang menjadi hak yang harus dipenuhi oleh pihak yang lain. Salah satunya adalah dalam urusan memasak. Saya bukanlah seorang penganut fahm patriarkhi yang menganggap kaum lelaki lebih superior dibanding perempuan. Namun juga bukan seorang pendukung gender, yang menganggap setaranya lelaki dan perempuan. Tapi mencoba memandang dari kacamata Islam nan syamil wa mutakamil.

    Kembali pada tema memasak, mungkin sudah terstigma di masyarakat bahwa wanita atau istri harus bisa memasak, menyiapkan makanan untuk suami tercinta. Karena telah ada semacam tugas pokok dan fungsi bahwa peranan istri adalah di kasur, di dapur dan di sumur. Walaupun tidak sepenuhnya penilaian ini benar. Terkadang karena telah terpersepsi bahwa perempuan itu harus bisa atau pandai memasak, maka akan menjadi tabu ketika melihat seorang perempuan tak pandai memasak. Bahkan menjadi hal yang tabu juga ketika seorang laki-laki suka bereksperimen di dapur. Dianggapnya kurang jantan, kebanci-bancian, dan sebagainya. Padahal tidak demikian kan? Toh, di dunia profesional atau industri banyak kita temui para juru masak restoran berbintang lima atau para chef adalah lelaki. Mungkin karena lelaki lebih memiliki ketahanan fisik untuk berlama-lama bekerja, atau mungkin juga karena lelaki memiliki ketahanan psikologis sehingga suasana hati yang berubah tidak mempengaruhi citarasa masakan.

    Istri Harus Pandai Memasak?

    Suatu ketika istri saya pernah cerita, bahwa saat masih lajang ada salah satu rekannya sesama akhwat menikah. Beberapa jam setelah aqad nikah, salah satu rekan akhwat istri saya bertanya kepada suami temannya tersebut, “Akh, nanti mau dimasakin apa sama istri?” Dengan polos sang suami baru tadi menjawab “Ehm.. Mie instan saja.” Kontan saja istrinya tersebut agak sedikit cemberut. Pertanyaan yang tidak perlu dijawab seharusnya.

    Saya yakin para akhwat memiliki kemampuan untuk memasak hanya saja kurang terkelola dan tergarap dengan baik. Mungkin karena kurangnya sarana dan prasarana untuk memasak karena tinggal di kos-kosan, atau karena kesibukan aktivitasnya yang menghajatkan waktu yang banyak sehingga terkadang tidak sempat lagi untuk berbelanja dan memasak. Kira-kira seperti itulah yang dituturkan istri saya. Tapi kemampuan memasak itu sebenarnya ada, dan kemapuan memasak adalah termasuk dalam skill yang harus dilatih bukan sesuatu yang given. Jadi kalau seseorang yang tidak bisa memasak terus berlatih untuk bisa memasak pasti dia akan bisa memasak. Tapi seorang ibu rumah tangga yang sewaktu belum menikah bisa memasak namun ketika berkeluarga memiliki khadimat dan ia lebih sering meminta sang khadimat untuk memasak sementara dirinya jarang memasak, lambat laun keterampilannya memasak akan hilang.

    Mari kita belajar dari Umar bin Khaththab. Suatu ketika ada seorang lelaki mengadukan istrinya kepada Amirul Mukminin perihal istrinya yang cerewet dan galak. Namun ia tangguhkan, karena ia juga mendapati istri Amirul Mukminin juga seperti istrinya. Cerewet dan galak. “Adapun aku,” Umar pun menasehatkan pada si lelaki tersebut, “Aku tabah dan sabar menghadapi kenyataan itu karena ia telah menunaikan kewajiban-kewajiban dengan baik. Dialah yang memasak makananku, dialah yang membuatkan roti untukku, dialah yang mencuci pakaianku, dialah yang menyusui anak-anakku, padahal itu bukanlah kewajibannya sepenuhnya.”

    Umar bin Khaththab adalah sahabat yang memiliki kekhasan lisannya yang apabila ia berbicara selalu mendapat pembenaran dari wahyu. Jadi cukuplah atsar Umar Ibn Khaththab tadi menjadi dalil bahwa istri tidak diwajibkan sepenuhnya untuk bisa memasak, yah paling tidak tahu teorinya, kalau tidak ya kebangetan.

    Suami Harus Bisa Memasak

    Nah kita kembali pada konsep keadilan dan keseimbangan. Jika, tadi kita telah menelisik kewajiban istri yang pandai memasak, ternyata bukanlah hal yang wajib sepenuhnya, berarti yang mendapat kewajiban memasak adalah para suami. Hmm, tenang bapak-bapak jangan emosi dulu, kita bedah satu per satu. Pertama dari sisi definisi nafaqah. Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menjelaskan definisi nafaqah sebagai mencukupi segala kebutuhan istri yang mencakup makanan, tempat tinggal, pelayanan dan obat-obatan, meskipun dia orang kaya. Hukum memberikan nafkah adalah wajib berdasarkan Qur’an, Sunnah, dan Ijma’.

    Dalam kaidah ushul fiqh yang saya kutip dari kitab Syaikh Utsaimin Al Ushul min ‘Ilmil Ushul didapati sebuah kaidah, bahwa bila sesuatu yang terhukumi wajib tidak akan sempurna jika tidak ada sesuatu yang lain, maka sesuatu yang lain itu terhukumi wajib juga. Maa laa yatimmu al waajibu illaa bihi fa huwa waajib atau dalam kaidah yang lebih umum Al wasa’ilu laha ahkamul maqhosid. Sarana itu mempunyai hukum yang sama dengan tujuan. Jadi bila memberikan nafaqah kepada istri adalah sebuah bentuk kewajiban. Dan memberikan makanan kepada istri adalah bentuk nafkah juga yang berarti terhukumi sebagai kewajiban.

    Nah masalahnya, makanan tidak akan ada bila tidak melalui proses pengolahan atau pemasakan. Tidak mungkin kan, istri kita berikan beras lalu dia memakannnya? Tentulah beras tersebut harus diolah terlebih dahulu menjadi nasi, dan makan nasi tanpa lauk pauk dan sayur juga rasanya aneh, maka perlu juga mengolah sayur dan lauk-pauk sebagai teman nasi. Barulah nasi tadi di santap oleh istri kita. Kalau demikian memberikan makan kepada istri atau pemberian nafkah tadi yang merupakan kewajiban itu, menjadi belum sempurna bila tidak dibarengi oleh kemampuan mengolah masakan.

    Padahal dalam kaidah ushul fiqh dijelaskan bahwa sesuatu yang wajib namun tidak akan sempurna bila tidak adanya sesuatu yang lain dan menjadikan sesuatu yang lain itu wajib terhukumi wajib juga. Maka bisa ditarik kesimpulan bahwa seorang suami wajib memiliki kemampuan untuk memasak juga, untuk menyempurnakan kewajibannnya menafkahi istri. Tapi tenang, setiap yang wajib pasti ada rukhshah. Setiap yang wajib pasti ada keringanan untuk menjalaninya. Dan Allah tidak menghendaki kesukaran justru menghendaki kemudahan bagi hamba-hambaNya, Allah pun tidak akan membebani hamba melebihi kemampuannya. Jadi asalkan sudah terniati insya Allah sudah berpahala, selanjutnya akan lebih romantis ketika suami dan istri saling belajar bersama untuk memasak.

    Jadi tidak perlu risau ketika mendapati istri kita tidak pandai memasak, karena kita pada dasarnya menikah untuk mencari istri bukan mencari tukang masak, bukan begitu?

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.