Home » Featured, Yang Ringan

Menyikapi Fatwa Haram Golput

29 January 2009 13 Comments

“DI, politik itu membuat orang berubah ya”, kata paman saya.

“Kenapa paman?”, tukas saya lagi.

“Coba lihat Hidayat Nur Wahid. Padahal beliau lulusan agama dari Madinah, tapi setelah masuk politik, pandangannya malah berubah, terpengaruh dengan politik praktis”, paman saya menambahkan dengan muka serius.

“Soalnya Hidayat mengusulkan MUI supaya mengeluarkan fatwa haram bagi yang tidak mengikuti pemilu alias golput (golongan putih)”, tambahnya lagi.

“Oh, begitu toh ceritanya”, saya bergumam di dalam hati.

“Tapi paman, kalau umat Islam pada golput, tentu berkurang wakil rakyat Islam di parlemen. Nanti hal-hal yang berhubungan dengan umat Islam bakalan dihalangi sama undang-undang”, saya mencoba menerangkan.

“Ah, masak iya?” paman kaget mendengarnya.

Saya yakin banyak yang berpikiran seperti paman saya yang berencana untuk golput karena muak melihat ketidakberesan wakil-wakil rakyat dan juga pemimpin-pemimpin daerah yang dipilih melalui pemilu nasional maupun lokal.

Pada awalnya saya tidak setuju dengan rencana MUI mengeluarkan fatwa golput haram. Alasannya memilih dan tidak memilih itu hak setiap orang. Kenapa pula perlu dipaksa- paksakan? Tidak demokratis lagi dong jadinya. Apa betul tidak demokrasi?

Saya baru tahu kalau di Australia, setiap orang wajib mengikuti pemilu. Kalau mereka mangkir, maka hukumannya adalah penjara. Bukankah ini suatu pemaksaan dan tidak demokratis? Malah hukumannya di dunia lagi. Berarti Australia tidak demokrasi dong.

Selain itu setelah lama dipikir-pikir, saya mengerti mengapa MUI mengeluarkan fatwa haram golput. Saya merasa salah satu alasannya adalah demi keterwakilan suara umat Islam di parlemen.

Semua orang tahu bahwa tujuan pemilu (pemilihan umum) adalah untuk memilih wakil-wakil rakyat dan pemimpin-pemimpin rakyat yang baik. Namun sayangnya, fakta menunjukkan sebaliknya. Setelah melalui beberapa pemilu setelah kejatuhan Suharto, mutu wakil- wakil rakyat bukannya malah makin bagus. Malah mereka semakin rajin korupsi, menaikkan gaji sendiri, sering jalan-jalan ke luar negeri, sering tidak hadir dalam rapat-rapat di parlemen, tidak pintar berhujah di parlemen, dan banyak lainnya kalau mau disebutkan kejelekan mereka satu-persatu.

Kenapa mutu mereka makin jelek ya? Salah satu alasan mungkin karena terlalu banyak partai yang mengikuti pemilu. Akhirnya mereka kesulitan mencari calon-calon yang layak menurut mereka. Layak dalam artian mampu menyetor uang dalam jumlah banyak ke kantong partai. Bahkan kalau mau jadi calon nomor satu, maka harus menyumbang uang yang sangat banyak. Jadinya orang-orang yang memang memiliki kriteria menjadi calon wakil rakyat yang bagus tapi tidak punya uang, sudah dipastikan tidak mampu menjadi calon dari partai tersebut. Rakyat tahu masalah ini karena sering diberitakan di media-media massa. Oleh karena itu sebagai bentuk protes, mereka tidak mau memilih calon-calon wakil rakyat murahan tersebut.

Selain itu karena budaya korupsi sangat subur di negara kita. Mulai dari tingkat RT sampai wakil rakyat, tidak segan-segan untuk korupsi. Jadinya sistem pemilu yang terbentuk di negara kita juga kecipratan dengan budaya korupsi tersebut. Jadi menurut saya kalau mau mendapatkan wakil rakyat yang baik, hilangkan budaya korupsi dulu. Kalau tidak, jangan harap anda akan mendapatkan wakil rakyat yang bagus.

Selain alasan untuk memilih wakil rakyat yang baik, alasan yang lain adalah untuk memastikan bahwa akan tetap ada wakil-wakil rakyat yang beragama Islam di parlemen. Hal ini bertujuan untuk melindungi umat Islam dari rongrongan hukum buatan pemerintah ataupun parlemen yang akan merugikan umat Islam itu sendiri. Tujuan pemilu inilah yang banyak tidak disadari oleh umat Islam di Indonesia. Mereka sudah terbiasa dengan wakil-wakil rayat atau pemimpin yang bukan beragama Islam ataupun kalau beragama Islampun tidak peduli dengan nasib umat Islam.

Coba bayangkan kalau yang wajib ikut pemilu ada 100 juta orang untuk memilih 100 orang wakil rakyat. Dua puluh juta diantaranya non-muslim. Kalau rakyat termakan dengan propaganda golput, mungkin yang ikut pemilu cuma 50 juta muslim saja. Itupun belum pasti mereka akan memilih wakil rakyat muslim yang mau membela umat Islam. Mungkin dari 50 juta pemilih, hanya 20 juta saja yang betul-betul memilih wakil rakyat pembela umat Islam. Sisanya yang 30 juta mungkin pemilih sekuler.

Ingat demokrasi itu mengandalkan suara terbanyak. Saya tidak yakin kalau umat non-muslim mau golput. Mereka pasti berusaha menaikkan jumlah wakil mereka di parlemen. Dan pada saat yang bersamaan, mereka juga ikut mempropagandakan golput, supaya banyak orang Islam yang tidak mau memilih. Kalau jumlah wakil rakyat non-muslim ada sekitar 20 orang ditambah dengan orang muslim sekular berjumlah 30 orang, mampukah wakil rakyat yang betul-betul mewakili kepentingan umat Islam yang hanya 20 orang mengalahkan gabungan non-muslim dan sekuler?

Anda masih belum sadar bahaya golput bagi “survival” umat Islam? Coba anda simak kembali media-media massa untuk mencari tahu partai apa yang menolak rencana undang- undang pornografi? Ya itulah PDI Perjuangan yang merupakan gabungan muslim sekuler dan non-muslim. Siapakah yang ingin mengurangkan atau menghapuskan pelajaran agama dari sekolah-sekolah umum? Itulah PDIP. Siapa yang menolak rencana undang-undang perbankan Islam? Tidak lain dan tidak bukan adalah PDS (Partai Damai Sejahtera), partainya orang Kristen. Bayangkan kalau mereka menjadi kuat, karena anda golput tidak memilih wakil- wakil yang beragama Islam. Bisa saja pada suatu waktu, Indonesia membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Bisa saja larangan berjilbab diperlakukan kembali. Bisa saja kawin antar agama diizinkan. Dan banyak lainnya.

Mungkin anda bisa berdalih, itu semua tidak ada hubungan dengan kehidupan saya. Yang penting keluarga saya bisa makan, anak-anak saya bisa sekoleh dengan baik, bisa beli rumah dan mobil. Masalah jilbab dilaranglah, buka hubungan diplomatik dengan Israellah, pembukaan bank-bank Islamlah, tidak ada hubungan dengan kesejahteraan keluarga saya. Inilah orang muslim yang tidak peduli dengan muslim lainnya. Mereka baru sibuk protes, kalau keluarga mereka terkena dengan salah satu di atas. Kalau tidak, ya diam-diam sajalah.

Sebenarnya alasan tidak ada calon yang bagus tidak masuk akal juga. Saya yakin masih ada satu partai yang berusaha menjaga kebersihan calon-calonnya. Ini terbukti dengan kiprah mereka di parlemen yang selalu menolak uang sogokan dan lain-lain. Ingatlah pilihan anda mungkin akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti.

Ajakan golput ini disuarakan juga oleh organisasi-organisasi Islam yang berpendapat demokrasi itu haram. Menurut mereka fatwa MUI yang mengharamkan golput pun jadi salah kaprah, karena pemilu itu sendiri bagian dari demokrasi yang haram. Mereka menginginkan sistem khilafah. Masalahnya apa yang terjadi dalam transisi dari sistem demokrasi ke sistem kilafah. Kalau orang Islam semua golput, maka parlemen akan dikuasai oleh golongan non-muslim. Bukankah ini membawa mudharat atau kerusakan yang sangat besar bagai umat Islam. Dalam masa transisi, banyak yang bisa terjadi.

Kenapa fatwa MUI disikapi dengan kontroversi dan ribut-ribut? Seorang pengamat politik berkata “Masak saya berdosa gara-gara menjadi golput”. Ada baiknya kita mendengar nasihat Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin:

“Bagi yang setuju dengan fatwa pengharaman golput, imbuh Din, bisa mengamalkannya. Namun, bagi yang tidak setuju boleh mengabaikan fatwa tersebut. “Nggak perlu kontroversi, nggak perlu ribut-ribut.”

Bagaimana saya sendiri? Saya sendiri tidak setuju dengan golput demi menghindari skenario terjelek mengenai keterwakilan umat Islam di parlemen.

Artikel-Artikel Lain Mengenai Pemilihan Pemimpin di wiemasen.com

Bagaimana Memilih Pemimpin Menurut Islam
Bagaimana Pemimpin Dipilih Setelah Wafatnya Rasulullah s.a.w
Jangan Golput Kalau Anda Cinta Islam
Hukum Menolak Fatwa MUI tentang Golput
Menyikapi Fatwa Haram Golput

Popularity: 23% [?]

13 Comments »

  • amna izzaty said:

    Apakah keterwakilan ummat Islam hanya lewat partai yang masuk parlemen saja??dan yang tidak masuk di parlemen bukan merupakan keterwakilan ummat Islam begitu??Padahal kalaupun anggota partai yang diluar parlemen itu dikumpulkan tingkat nasional/internasional, insya Allah akan memenangkan suara terbanyak, kalau memang ngikut ke aturan demokrasi (suara terbanyak yang menang). Ingat, jika kita ingin negara ini mendapat barakah dari Allah sehingga menjadi aman, tentram, dan dipenuhi rahmatnya, bukan dipenuhi bencana..maka untuk mewujudkan itu semua harusnya dengan jalan yang diridhai Allah juga (penyadaran terhadap ummat atas akar masalah rusaknya tatanan dunia saat ini yang akhirnya timbul krisis multidimensi serta disampaikan solusi tuntasnya), bukan dengan jalan demokrasi (yang meletakkan kedaulatan membuat sumber hukum adalah manusia).Dalam Islam Kedaulatan ada di tangan syara’ dan manusia sebagai penguasa yang menjalankan segala hukum yang ditentukan oleh syara’ tersebut, semua itu berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah, bukan berlandaskan suara rakyat yang standarnya tidak jelas, akhirnya hanya berstandar kepentingan semata.Namun jika Al-Qur;an dan Sunnah standarnya jelas yaitu halal dan haram. Kalau memang ditakutkan penguasa non muslim yang akan tampil menguasai negeri ini, maka harusnya itu menjadikan kita buka mata dan telinga dong, bahwasanya ummat Islam itu harus bersatu membentuk kekuatan besar kaum muslimin dalam naungan Khilafah Islamiyyah yang akan diatur dengan aturan Islam yang rahmatan lil’alamin, bukan rahmatan lil muslimin saja loh, apalagi mayoritas di dunia ini kan ummat Islam bukan??, kurang apa coba.. Saatnya kaum muslimin sadar sesadar-sadarnya bahwa dunia ini membutuhkan tatanan baru yang mensejahterakan, yang memanusiakan manusia,bukan tatanan yang bobrok..sudah terlihat jelas kerusakan demokrasi dalam berbagai segi. Belumkan anda menyadari hal ini…saatnya membuang demokrasi dan kapitalisme jauh-jauh yang jelas menjadikan negeri ini terpuruk semakin tahun, Jadi siapapun presidennya selama masih dalam naungan demokrasi yang jelas merupakan sistem kufur, bukan sistem islami, maka kondisi indonesia/dunia tetap akan terpuruk bukan membaik.Gak percaya, kalau demokrasi sistem kufur..???Belajar ISLAM Totalitas yuuuk.

  • wiemasen (author) said:

    Yang memiliki kekuatan untuk membuat dan mengesahkan undang-undang adalah anggota partai yang ada di parlemen. Itu adalah realitas. Yang diluar paling jadi kekuatan penekan.

    Memang tujuan kita adalah ke sistem yang lebih Islami. Tapi coba realistislah, berapa persen sih Muslim yang betul-betul punya komitmen dan mengerti masalah agamanya. Paling banyak cuma 10% dari total 80% Muslim yang ada di Indonesia. Bagaimana yang 10% itu bisa merubah dari sistem demokrasi ke sistem khilafah misalnya. Apa kekuatan yang dipunyai? Apa mau demonstrasi terus-menerus? Atau mau merubah pandangan masyarakat satu persatu? Bagaimana bisa, media massa saja tidak punya. Atau mau malah pakai kekuatan bersenjata? Kan tidak mungkin? Coba tunjukkan jalan praktis untuk merealisasikannya. Kalau sekedar teori sih, semua orang juga bisa bilang.

    Sekarang ini yang kita punya adalah sistem demokrasi. Saya bukan bilang kalau itu adalah sistem yang terbaik. Tapi pergunakanlah hal itu untuk mengurangi mudharat kepada umat Islam.

  • Buya Alex© said:

    Saya sendiri condong tidak setuju gagasan golput. Masyarakat akan lebih susah berbicara jika tidak memilih siapa-siapa. Ada pilihan yang terbaik dari yang terburuk, itu masih lebih baik daripada tidak memilih lalu bersikap apatis atau menggantang asap pada mukjizat untuk perubahan.

    Tapi berkenaan dgn fatwa MUI ini… saya memandangnya aneh. Fatwa MUI belakangan kok sepertinya malah yang “tdk berbenturan dgn pemerintah”, lebih seperti cari posisi save saja. Tak ada fatwa yang lebih memihak akar rumput yang dikeluarkan, melulu pada urusan “remeh” seperti babi, rokok, goyangan ala trio macan, dan ideologi.

    Cobalah MUI berfatwa tentang haramnya korporasi Bakrie melenggang diatas lumpur Lapindo dgn lebih dari 1/2 kerugian ditanggung APBN. Atau haramnya menyita tanah masyarakat adat, menebang hutan yang dibekingi aparat, atau penggusuran pedagang kaki lima yang sudah bayar retribusi tapi masih juga dizalimi. MUI keluarkan fatwa tentang rokok yang bisa beresiko PHK para buruh, tapi cuma diam untuk SKB 4 menteri yang menzalimi gaji parah buruh. Apa-apaan itu? :|

  • wiemasen (author) said:

    Memang mudah mengkritik hasil kerja orang lain. Setelah orang lain buat kerja A, ada yang mengkritik kenapa tidak buat kerja B. Setelah buat kerja B, nanti ada yang mengkritik lagi kenapa tidak buat kerja C, hingga seterusnya.

  • fahmi said:

    bagi kita umat muslim, pilihlah wakil rakyat (caleg) yang benar2 membela kepentingan Islam dan etika politikna sesuai ajaran Islam. jgnlah golput, golput itu jelek kali., dah macam org putus asa aja kaum golput itu. saya mensinyalir, golput itu skrg dah jadi gaya hidup baru berpolitik org indonesia. hahaha

  • fahmi said:

    tuker link yuk :D

  • YAN said:

    aku setuju dgn fahmi tapi bisikin dong caleg lu he…he..

  • Dicko said:

    kalo menurut saya..golput ataupun enggak itu tergantung orangnya aja. kalo gak golput juga tapi waktu pemilu sedang di jalan, trus gak sempet milih…pas lagi pemilu, ketiduran gara-gara semalem begadang ngenet ampe pagi..jadi..everythings are written..hehehehe

  • erwin said:

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Wa’alaikumsalam Wr.Wb.

    Saudaraku,permasalahan ini ternyata jadi polemik di kalangan ummat Islam

    Menurut hemat saya.Andai saja MUI tidak mengeluarkan fatwa haram bagi yang golput. tentunya suara ummat islam masih terserap banyak ke parlemen.tapi sayang setelah dikeluarkannya fatwa tsb.banyak ummat muslim yang antipati thdp partai politik,tanpa terkecuali partai yang berbasis islam.

    Itu berarti jalan berpikir anda terpengaruh dengan politik. Jangan keluarkan fatwa dululah, nanti suara akan jatuh. Politik itu namanya. Padahal yang tepat adalah, katakan kebenaran walaupun menyakitkan. Anda setuju bukan?

    Kalau saja para wakil yang menamakan diri mereka perwakilan ummat muslim menuju parlemen,lebih mengedepankan nilai nilai syiar Islam mereka.tentunya kejadiannya akan lain.

    Itu situasi yang kita harapkan.

    pernah kah ada kabar di media yang memberitakan tentang seorang tokoh partai islam yang benar benar membela islam?saya rasa belum.

    Contoh membela Islam. Dengan tidak korupsi saja sudah membela Islam. Betul tidak? Jangan mengharap yang terlalu muluk-muluk dulu. Apa contoh yang benar-benar membela Islam?

    hampir semua partai-paratai yang mengusung asas Islam,melakukan manuver money politik,propaganda,menggunakan ayat-ayat suci dan hadist sebagai tameng dan alat propaganda politik mereka.

    Hampir semua, tidak berarti semuanya.

    kolusi korupsi dan nepotisme pun masih bersinggungan dan banyak yang masih jadi keseharian mereka.

    Banyak kyai tenar,ulama besar yang nama mereka selalu di sebut2 media bertempur di medan politik,berkoalisi dengan tokoh2 yang juga sering menyudutkan Islam. Apakah pemimpin yang demikian yang harus dipilih dan di dukung? Apakah ulama dan Kyai demikian yang harus di hormati?

    Kan tidak semuanya seperti itu?

    Lihatlah masing masing pengikutnya banyak yang bertikai dengan pengikut partai lainnya yang notabene muslim juga,mengapa? banyak masa yang bertikai rela mati demi partai nya?tapi maukah mereka mati demi Islam???

    Ini namanya fanatik hizbiyun. Sayang sekali pemahaman agama mereka rendah, sehingga mudah dimanfaatkan.

    Jikalau para tokoh islam memang berilmu dan bijaksana,mengapa mereka bercerai berai?masing masing ingin jadi pimpinan. mana perjuangan Islam yang mereka gembor2 kan? Sampai saat ini belum ada tokoh itu di negeri tercinta indonesia.

    Tak sadarkah tokoh2 itu bahwa di akhirat nanti semua nya akan di hisab atas perbuatan mereka didunia?

    Betul sekali

    Memilih pemimpin yang zalim hanya akan menambah kezaliman dimuka bumi ini.

    Betul sekali. Makanya usahakan jangan memilih pemimpin yang zalim.

    Alangkah bijaknya jika MUI lebih memfokuskan kinerja mereka pada masalah masalah yang lebih menyentuh ummat.tanpa ada intervensi politik di dalamnya.karena anda anda sekalian adalah perwakilan ummat islam.bukan perwakilan penguasa.

    Anda sudah berprasangka buruk terhadap MUI. Ada 700 ulama yang melakukan rapat untuk mengeluarkan fatwa golput ini. Masakan kesemuanya tidak ada yang baik, jujur atau ikhlas?

    Keluarkanlah fatwa haram untuk praktek judi di media televisi yang terbungkus oleh bisnis konten.

    Ya ini seharusnya dikeluarkan fatwa haram. Kalau tidak salah, sudah pernah ada fatwa yang mengatakan bahwa sms yang berunsur judi adalah haram.

    keluarkanlah fatwa haram atas tayangan tayangan berbau syirik dan khurafat yang bertaburan di media televisi swasta nasional

    Syirik atau kurafat tidak perlu fatwa lagilah. Semuanya sudah tahu. Sama dengan mengatakan keluarkan fatwa bahwa orang berzina itu berdosa. Tidak usah keluar fatwa pun, memang sudah berdosa.

    Itu tentunya akan lebih efektif dan mendidik ummat.

    Pendidikan umat Islam bukan melalui fatwa lah. Fatwa tidak cukup, bahkan bisa menyebabkan salah sangka kalau pemahaman agama umat Islam adalah sangat rendah. Itu bukan tujuan fatwa.

    Islam tidak pernah mengajarkan untuk memilih pemimpin yang tidak jujur,bakhil,dan suka mengumbar janji.dan melakukan segala cara demi tercapainya kemakmuran duniawi. Pernahkah ada calon wakil legislatif yang melenggang ke parlemen dengan modal dengkul?

    Modal dengkul saja tidak mungkin. Paling kurang harus ada modal kepintaran. Kalau modal uang, tidak semua partai seperti itu. Lakukan riset anda sendiri, jangan terjebak dengan propaganda media.

    Apa yang mereka pikirkan setelah duduk di parlemen? Tentunya mengembalikan dahulu modal mereka yang terbuang semasa kampanye.

    Itulah akibat budaya korupsi yang menjadi darah daging di Indonesia.

    Tak hanya cukup modal ilmu yang tinggi untuk melakukan suatu hal yang baik,tapi bisakah mereka semua istiqamah dalam ajaran islam yang lurus?wallahualam,mudah2an kita selalu ada dalam lindungan Alloh SWT dari bujuk rayu syaitan yang terkutuk,dan tidak termasuk dalam golongan orang2 yang merugi.

    Mari kita doakan agar pemimpin kita selalu berada dalam jalan yang lurus.

    Bila kita cinta Islam,maka jangan setengah setengah untuk memperjuangkannya.

    Yang tidak setengah-setengah itu contohnya seperti apa?

  • Adit said:

    Kalau fatwa haram Golput itu, salah satu alasannya demi keterwakilan suara umat Islam di parlemen. Apa selama ini di parlemen umat Islam lebih sedikit dibanding non Islam?

    Wakil rakyat yang peduli dengan urusan umat Islam. Ini yang tidak banyak. Dari PDIP banyak juga wakil yang beragama Islam. Tapi apakah mereka mau membela umat Islam. Jangan sampai karena hendak menjatuhkan hukuman kepada calon wakil rakyat yang jelek, calon wakil rakyat yang baguspun terkena imbasnya. Ini sama dengan mengejar tikus dilumbung padi dengan cara membakar lumbung padi tersebut.

    Kalau dilihat dari segi prosentasi, saya kira angota legislatif dari zaman Soekarno hingga SBY saat ini, umat Islam tetap mayoritas, tapi tidak sedikit diantara mereka yang merusak citra Islam karena terlibat perzinahan, korupsi dll.

    Anda pernah menghitung berapa banyak anggota wakil rakyat yang masih jujur. Tidakkah anda pernah membaca sepak terjang wakil rakyat yang masih jujur? Mereka tidak mau menerima uang sogokan, mobil kantor mewan dan sebagainya. Anda menutup mata dengan fakta ini? Berarti anda ingin mudah saja dalam membuat keputusan.

    Kalau menurut saya, ketidakadilan yang terjadi dari zaman Soekarno hinga Yudoyono karena sistem demokrasi, liberal, kapitalis memang bobrok.

    Tahu kenapa jadi bertambah bobrok? Alasannya karena budaya korupsi yang merajalela. Anda pikir dengan golput anda sudah merubah keadaan?

    Daripada memilih orang-orang zalim dari sistem yang bobrok, lebih baik Golput. Ingat Golput juga pilihan, pilihan untuk tidak memilih.

    Fatwa MUI mengatakan haram untuk golput kalau masih ada calon pemimpin/wakil rakyat yang jujur. Apakah anda yakin dari sekian banyak calon wakil rakyat tidak jujur semua? Anda terlalu menyamaratakan semuanya yang menurut saya sangat berbahaya.

    Bukankah dalam sidang-sidang DPR/DPRD juga banyak yang Golput (abstain atau malah tidak hadir). Bahkan dalam sidang Dewan Keamanan PBB yang membahas soal pengembangan nuklir di Iran, Indonsia juga Golput, he… he…

    Kalau ada orang atasan atau orang penting masuk jurang, anda ingin ikutan masuk jurangkah? Kalau majikan anda berkelakuan jelek, anda juga mau juga berkelakuan jelek dengan alasan majikan juga melakukan itu? Kalau boss anda korupsi, anda juga ikutan korupsi jugakah?

  • talithazone said:

    Sodara2 kita dari salafi, hizbutahrir dan tak ketinggalan gusdur jauh2 hari menyatakan golput.Bagaimana umat islam mendapat pemimpin yg dpt memperjuangkan nasib umatnya bila umat islam sendiri golput dan malah saling cakar2an dan adu dalil antar sesama umatnya.

    Salafi yang menganggap politik adalah sesuatu yang bid’ah adalah salafi yang beraliran keras saja. Sedangkan salfi yang lebih moderat seperti Syeikh Dr. Yusuf Al-Qharadawi berpendapat sebaliknya. Hizbuttahrir memang menganggap demokarasi sesuatu yang haram. Tapi HT tidak menjelaskan cara umat Islam bersuara jika tidak ikut proses pemilu. Gusdur aliran Islam liberal, tidak perlu diikuti pendapatnya.

    Keresahan ini ditangkap MUI sebagai wadah para ulama. Para ulama lebih berfikir rasional global dan tidak berfikir parsial/ memikirkan diri sendiri. Namun masih banyak teman2 kita masih sering menertawakan ulamanya sendiri.

    Kelompok liberal menertawakan ulama karena mereka memang tidak percaya pada ulama. Kelompok agamawan menertawakan ulama yang lain karena menganggap pendapat kelompoknya lah yang benar.

    Saya bukan caleg atau sodara saya caleg, tapi mari kita berpikir kedepan. coba teliti lagi dari 11.800 caleg, tidak adakah yang baik atau minimal keburukannya sedikit ketimbang kebaikannya. Pilihlah yang amanah, jujur,aktif aspiratif dll.

    Benar kata talithazone. Kita terlalu mengeneralisir bahwa semua caleg itu jahat dan memutuskan untuk tidak memilih. Apakah ini bukan sikap orang yang berputus asa?

  • Axel said:

    Benar2 sudah menghalalkan berbgai cara untk islam dgn dmkrasi.

    Axel, anda tidak memperincikan apa itu menghalalkan segala cara untuk demokrasi. Saya cuma ingin mendengar, bagi yang menentang demokrasi, bagaimana caranya agar umat Islam bisa terlindungi di Indonesia. Secara praktikal ya, bukan secara teoritikal. Secara teoritikal sudah banyak dipromosikan sama HT.

  • OKA said:

    Thanks to wiemasen.com

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.