Non-muslim Masuk Neraka, KECUALI…

Walaupun secara umum non-muslim, seperti orang Kristen, akan masuk neraka, “tapi secara individu kita tidak tahu nasib mereka“. Karena sesungguhnya ada dua kategori non-Muslim:

  1. Mereka yang belajar dan mengerti ajaran Islam, tapi tetap menolak.
  2. Mereka yang tidak pernah belajar dan mengerti Islam dan mati sebagai non-Muslim. Di antara mereka adalah:
    (a) Mereka yang tidak tahu apa-apa mengenai Islam, seperti mereka yang tinggal di pulau terpencil.
    (b) Mereka yang memiliki pemahaman yang salah mengenai Islam, seperti mereka yang mendapatkan info dari “anti-Islamic website”
    (c) Mereka yang hanya mengetahui Islam sedikit saja

Untuk kategori 2(b) ini, Allah SWT akan memberikan ujian yang adil bagi mereka setelah mereka dihidupkan kembali di hari penilaian. Jika mereka gagal ujian tersebut mereka akan masuk neraka, sebaliknya mereka akan masuk syurga.

Dengan kondisi-kondisi seperti itu kita tidak boleh memvonis seorang non-Muslim langsung masuk neraka. Ditambah lagi kita sama sekali belum berdakwah atau menyampaikan ajaran Islam kepada mereka. Jadi urusan siapa yang bakalan masuk neraka, kita serahkan saja kepada Allah SWT. Karena itu adalah hak Allah SWT.

Kepada Siapa Tulisan Ini di Tujukan?

Tulisan di bawah ini lebih ditujukan kepada non-Muslim kategori 1 seperti:

  1. kaum orientalis yang belajar Islam,
  2. pendeta-pendeta Kristen yang belajar mengenai Islam sebagaian bagian dari program misionarisnya
  3. non-Muslim yang sengaja mempelajari Islam tapi kemudian menggunakan ilmunya untuk menjelek-jelekkan Islam,
  4. non-Muslim yang tinggal di daerah mayoritas Islam dan mengetahui bagaimana orang Islam beribadah dan akhlak mereka, tetapi tetap menolak bahkan memerangi umat Islam seperti kaum Kristen Koptik di Mesir,
  5. non-Muslim yang sudah kita terangkan apa itu Islam yang sebenarnya, tapi masih tetap menolak ajaran Islam

Tulisan ini berusaha untuk mengkounter argumen-argumen yang dilaungkan oleh kaum liberal dan pluralis yang mengatakan bahwa semua non-Muslim tanpa terkecuali pada akhirnya masuk surga. Tujuan mereka adalah untuk melemahkan mental umat Islam sehingga umat Islam pada akhirnya menerima slogan “Semua Agama Benar“. Untuk diketahui, bagi umat Islam mengatakan semua agama benar, bisa membuat umat Islam itu menjadi kafir. Nah disinilah bahayanya.

Menyanggah Argumen Pihak Liberal

Mereka yang berpendapat bahwa non-muslim “tanpa terkecuali” pada zaman ini juga berkesempatan untuk masuk Surga berdalil dengan ayat di bawah ini:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan ash-Shabi-iin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 62).

Inilah ayat yang sering ditafsirkan sesuka hati oleh kaum pluralis untuk membenarkan pendapat mereka. Kita katakan cara penafsiran mereka itu salah, karena tidak mengikuti metodologi penafsiran yang benar. Tapi mereka ngotot mengatakan siapa saja boleh menafsirkan al’Quran. Makanya mereka tidak mau memakai hasil-hasil penafsiran dari para ulama tafsir. Jangan heran kalau tafsiran mereka pada ngawur semua, karena mengikuti hawa nafsu.

Ulama-ulama tafsir menghasilkan beberapa penafsiran mengenai ayat di atas. Tapi pada saat ini hanya diketengahkan dua penafsiran saja.

1. Ayat di atas berkaitan dengan orang-orang yang beriman dari kalangan umat ini dan juga umat-umat terdahulu sebelum diutus Rasulullah s.a.w. Umat-umat terdahulu di antaranya orang-orang Yahudi dan Nasrani yang hidup sebelum diutusnya nabi terakhir. Di antara mereka tentu ada yang benar-benar beriman kepada Allah, ada juga yang tidak. Ayat di atas bertujuan untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman yang mungkin timbul karena ayat-ayat sebelumnya yang berisi celaan terhadap Bani Israil. Dikhawatirkan sebagian orang akan menyangka bahwa seluruh Bani Israil terkena dengan keumuman celaan tersebut. Padahal yang terkena celaan tersebut adalah kaum Bani Israil yang tidak benar-benar beriman kepada Allah.

Kenapa ayat di atas turun ya? Ceritanya begini. Pada suatu ketika Salman bercerita kepada Nabi s.a.w mengenai para sahabatnya yang juga melakukan sholat, puasa, serta beriman bahwa nantinya Nabi terakhir akan diutus. Seusai Salman memuji para sahabatnya, Nabi s.a.w berkata, “Wahai Salman, mereka termasuk ahli neraka.” Salman merasa sedih mendengar ucapan Nabi s.a.w. tersebut, sehingga Allah menurunkan ayat di atas untuk mengkoreksi ucapan Nabi s.a.w. tersebut.

2. Adapun penafsiran kedua menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “orang-orang beriman” adalah orang-orang munafik. Sebab jika dinilai secara zhahir mereka tampak sebagaimana halnya orang-orang yang beriman. Karena itulah penyebutannya disandingkan dengan kaum Yahudi dan Nasrani. Lalu Allah mengabarkan bahwa siapa saja yang kemudian beriman kepada Allah dan hari akhir dengan keimanan yang sebenar-benarnya -tentunya mencakup keimanan terhadap Nabi Muhammad s.a.w. – maka mereka mendapatkan ganjaran yang disebutkan dalam ayat.

Sepanjang yang diketahui, dalam kitab-kitab tafsir yang mu’tabar, tidak ada seorang ahli tafsir pun yang mengatakan bahwa ayat ini dijadikan dalil bahwa non-muslim juga mungkin akan masuk surga. Kenapa begitu ya? Hal itu disebabkan sangat banyak dalil yang menunjukkan bahwa non-muslim yang tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad s.a.w. sesudah diutusnya beliau akan masuk neraka. Sebagian kecil dari dalil-dalil tersebut adalah:

Nabi s.a.w bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya! Tidaklah mendengar tentangku seorang pun dari kalangan umat ini, baik dari kalangan Yahudi maupun Nasrani, kemudian ia (memilih) tidak beriman kepadaku melainkan ia termasuk ahli Neraka.”

Allah berfirman: “Dan barangsiapa mencari selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85)

Allah berfirman: “Sesungguhnya kesyirikan benar-benar adalah kezhaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13)

Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisaa’: 116).

Allah berfirman: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)

Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke dalam neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)

Bagaimana mungkin non-muslim yang melakukan kesyirikan yang merupakan kezaliman yang sangat besar bisa masuk surga (Baca: Apakah Non-Muslim Yang Baik Akan Masuk Neraka Juga?). Juga bagaimana mungkin non-muslim yang tidak pernah melakukan sholat, puasa, dll, bisa dengan santainya masuk surga. Sedangkan muslim sendiri harus bersusah payah melakukan itu semua demi mendapatkan surga. Ini namanya tidak adil. Kalau mau adil, muslim juga tidak perlu melakukan sholat, puasa, menutup aurat, atau melakukan kesyirikan. Dengan demikian tidak perlu lagilah syariat Islam dari awal sampai akhir. Itulah tujuan yang ingin di capai oleh kaum pluralis atau Islam liberal.

Amal shalih yang dilakukan oleh non-muslim juga sia-sia, seperti debu yang beterbangan. Karena syarat suatu amalan dikatakan sebagai amal shalih apabila memenuhi dua syarat yaitu:

  1. Ikhlas, yaitu hanya ditujukan untuk Allah semata dan tidak diiringi prektek syirik.
  2. Meneladani Nabi s.a.w.

Apakah non-muslim memenuhi kriteria-kriteria tersebut? Tentu saja jawabannya tidak.

Meniru Ahli Kitab?

Kaum pluralis beranggapan bahwa pernyataan “hanya orang Islam sajalah yang masuk surga, sedangkan non-muslim akan masuk neraka” adalah penyerupaan terhadap Ahli Kitab itu sendiri. Kenapa bisa begitu ya? Kaum pluralis itu menyandarkan argumen tersebut pada sabda Nabi s.a.w. yang berbunyi:

“Kalian benar-benar akan mengikuti tata cara orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta. Bahkan sekiranya mereka memasuki lubang dhabb -hewan herbivora yang mirip dengan biawak-, maka tentulah kalian akan memasukinya juga.” Kami -para Sahabat- bertanya, “Ya Rasulullah, apakah orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Nabi ` menjawab. “Siapa lagi -kalau bukan mereka-?!”

Nah dalam al-Quran sendiri ada disebutkan:

“Dan orang-orang Yahudi berkata: ‘Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan,’ sementara orang-orang Nasrani berkata: ‘Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,’ padahal mereka (sama-sama) membaca al-Kitab….” (QS. Al-Baqarah: 113).

Jadi kesimpulan kaum pluralis itu adalah jika ada orang Islam yang mengatakan non-muslim masuk neraka, maka tingkah laku orang Islam ini sama saja dengan tingkah laku orang Yahudi dan Nasrani yang diceritakan dalam ayat di atas.

Itulah logika ngawur yang dipakai oleh kaum pluralis atau Islam liberal tersebut.

Karena pernyataan bahwa non-muslim itu akan masuk neraka bukanlah karena ikut-ikutan Ahli Kitab, tapi karena nash-nash al-Qur’an dan Sunnah yang ada memang sudah menyebutkan hal tersebut. Lagipula tidak semua yang dilakukan oleh umat terdahulu (Ahli Kitab) tidak boleh dilakukan oleh kaum Muslimin. Selama ada sandarannya dalam al-Qur’an dan Sunnah, selama itulah kaum Muslimin akan melaksanakannya. Walaupun asalnya dari kaum Ahli Kitab dulunya. Contohnya adalah seperti puasa.

Sumber

Dr. Daud Rasyid M.A.
Telaah Kritis Atas Islam Inklusif Kang Jalal (1)

Telaah Kritis Atas Islam Inklusif Kang Jalal (2)

http://www.suara-islam.com/read/index/6965/Surga-Halusinasi-Penginjil-Kedar-Ministry

Artikel-Artikel Lainnya

Apakah Non-Muslim Yang Baik Akan Masuk Neraka Juga?
Kebaikan Orang Kafir: Fatamorgana!
Percaya Semua Agama Benar, Menjadi Murtad?

The Doctrine of the Validity of all Religions
10 Perkara Yang Membatalkan Syahadah

Siapa Yang Diberi Petunjuk Oleh Allah SWT?

Comments

comments

Share Button
(Visited 10,429 times, 18 visits today)