Panduan Memilih Wakil Rakyat
Pulang ke Aceh baru-baru ini memberikan pengalaman tersendiri kepada saya. Betapa tidak, sepanjang jalan yang saya lihat adalah bendera-bendera berbagai macam partai. Padahal itu baru sebagian dari 34 partai yang yang ada di Aceh termasuk partai lokal seperti Partai Aceh, Partai Aceh Aman Sejahtera (PAAS), Partai Rakyat Aceh, dsb. Saya jadi penasaran bagaimana masyarakat awam memilih calon-calonnya yang segitu banyak.
Pada umumnya calon-calon tersebut yang tidak pernah dikenal oleh masyarakat sebelumnya harus mengeluarkan uang yang banyak untuk biaya iklan. Mereka ini biasa kita sebut sebagai calon mie instant. Setelah menjadi anggota legislatif, barulah mereka sibuk mencari uang pengganti kampanye mereka. Biasanya dengan cara nyolong uang rakyat sana-sini dengan mengabaikan kepentingan rakyat. Masyarakat menjadi putus asa dan berkata,” Lalu apa baiknya ikut memilih kalau begitu? Lebih baik kita golput sajalah”.
Sah-sah saja kalau golput ini menjadi hak protes masyarakat. Habis mereka mau protes bagaimana lagi? Kalau mau berpikir waras, golput ini berbahaya juga, karena walaupun yang ikut pemilu hanya sedikit katakan saja 50%, toh tetap saja mereka yang terpilih akan duduk di parlemen. Bayangkan kalau umat Islam yang mayoritas golput, sedangkan umat non-Islam yang minoritas malah tidak golput sehingga keterwakilan mereka di parlemen menjadi besar. Bisa dibayangkan apabila mayoritas Islam diperintah oleh minoritas non-muslim? UU pornografi mungkin dibatalkan sama mereka. Fraksi-fraksi non-Islam atau orang Islam yang tidak memiliki kepedulian terhadap agamanya itu mungkin melarang jilbab. Ajaran-ajaran sesat tumbuh dengan hebat. Bank-bank syariah mungkin akan ditutup. Pelajaran agama Islam di sekolah mungkin dikurangi atau malah dihilangkan. Orang Islam akan diizinkan kawin dengan non-Muslim secara bebas. Bencong-bencong bermaharalela di TV dan media massa, dan banyak lainnya.
Maka tidak heranlah kalau Hidayat Nur Wahid ketua MPR kita mengusulkan agar MUI mengeluarkan fatwa haramnya golput. Bahkan pemilu di Australia pun mengharamkan golput secara langsung. Setiap warganegara Australia wajib ikut pemilu, kalau tidak mau ikut bakalan masuk penjara. Kalau mereka mau golput pun, mereka akan membuat rusak kertas suara mereka sehingga tidak masuk hitungan. Hidayat bisa melihat skenario jelek apabila umat Islam golput. Antara golput sebagai protes terhadap calon wakil rakyat yang sering korupsi dengan mempertahankan keterwakilan umat Islam di parlemen, mana yang lebih kecil mudharatnya? Jawablah masing-masing. Saya bukan menyuruh anda memilih wakil yang diketahui korup hanya karena ingin mempertahankan Islam.
Anjuran kelompok golput ini bisa jadi sejalan dengan anjuran segelintir organisasi Islam yang mengharamkan pemilu (election), dengan alasan demokrasi bukan bagian dari Islam. Mereka tidak sadar, bahaya lebih besar menanti umat Islam apabila mereka tidak memilih wakil-wakilnya di parlemen. Ibarat sebuah pisau, demokrasi itu juga sebuah alat dalam bentuk sebuah sistem. Manusia bisa menggunakan demokrasi untuk memilih wakil yang baik untuk duduk di parlemen, atau sebaliknya membawa manusia yang korup, rendah akhlaknya ke parlemen. Karena kebanyakan masyarakat Indonesia tidak dewasa dalam berdemokrasi, akibatnya mereka sering memilih wakil yang salah. Saya tidak membela demokrasi atau mengutuk demokrasi habis-habisan. Tapi itulah sistem yang kita gunakan selama ini di Indonesia. Pergunakanlah untuk menjauhkan umat Islam dari kemudharatan yang lebih besar.
Nah, kalau mau menjadi pemilih, jadilah pemilih yang cerdas. Kalau saya sendiri akan menggunakan langkah-langkah di bawah ini:
- Periksalah platform dan ideologi partai tersebut. Ada partai-partai yang anti dengan Islam walaupun ada orang Islam yang duduk di dalamnya. Jangan terjebak dengan calon beragama Islam yang ditawarkan, karena nantinya suara partai diparlemen lebih banyak dipengaruhi oleh kebijakan partai-partai tersebut.
- Setelah menyingkirkan partai-partai yang anti Islam dari daftar pilihan kita, maka yang tersisa adalah partai-partai yang membela Islam. Partai-partai Islam inipun bukan baik-baik amat juga. Ada juga yang rajin korupsi dan berantam sesama sendiri. Dengan demikian pilihlah calon dari partai yang paling rendah tingkat korupsinya dan paling bagus akhlaknya.
- Kalau ada partai lokal, pilihlah partai lokal yang paling sedikit korupsinya dan menunjukkan keberpihakan kepada Islam.
Dengan mempertimbangkan kemudharatan yang lebih ringan, maka isu-isu sampingan yang menjatuhkan partai berideologi Islam menjadi isu kecil sehingga bisa dikesampingkan. Anda boleh tidak setuju dengan saya. Saya tidak keberatan kok
Popularity: 9% [?]









Leave your response!