Panduan Sholat Selama Penerbangan

Hong Kong Airport
“Rizal, mari sholat dulu,” kataku kepada Rizal ketika sedang transit di Hongkong.
“Kamu duluan saja, nanti saya menyusul,” sahutnya.
Kulihat ada sedikit keengganan di matanya untuk sholat di Hong Kong Airport. Aku hanya bisa menebak kalau Rizal agak sedikit malu sholat di depan orang ramai di sebuah airport.
Memang diperlukan kekuatan hati untuk melakukan hal itu. Ternyata bukan kami saja yang sholat di Hong Kong airport. Saya sempat melihat ada dua orang Arab yang malah dengan cueknya sholat di ruang tunggu airport yang penuh penumpang-penumpang yang sedang menunggu untuk “boarding”.
“Tapi bagaimana menentukan arah sholat ya?” tanyanya lagi.
“Mudah saja. Aku tidak pernah lupa membawa kompas sholatku ketika bermusafir,” jawabku sambil menunjukkan kompas penunjuk arah sholat yang sudah terlihat agak tua.
“Nih ada bukunya lagi untuk menunjukkan koordinat. Kalau Hong Kong arahnya adalah 80,” kataku lagi.

Kompas Penunjuk Qiblat
Rizal memperhatikan dengan acuh tak acuh terhadap usahaku untuk mencari arah qiblat yang pas. Aku berharap agar qiblatnya tidak menghadap orang ramai. Kalau tidak, aku terpaksa mencari ruang tunggu yang lain. Walaupun sudah biasa sholat di mana saja, aku masih tidak merasa nyaman kalau sholat menghadap orang ramai yang lalu lalang.
“Inilah arah qiblat kita sekarang,” kataku dengan senang, karena arah qiblat menghadap jendela ruang tunggu.
Tak lama setelah aku selesai sholat, Rizal menyusulku untuk sholat di atas lembaran koran yang kuhamparkan di atas karpet. Terpkasa menggunakan koran, karena aku lupa membawa sajadah sholat setipis kain yang sering kubawa kalau lagi bermusafir. Tak apalah, tidak ada rotan akarpun jadilah.
Itulah kali terakhir aku melihat Rizal sholat di airport. Setelah itu aku tidak pernah melihat dia sholat di airport lagi, walaupun kami masih transit beberapa kali di airport lainnya seperti di Los Angeles ketika dalam perjalanan ke Austin, atapun di Houston airport, ketika dalam perjalanan ke Sacramento.
Kapan Harus Meng-qada Sholat?
Aku menjadi curiga. Jangan-jangan Rizal meng-qada sholatnya. Aku tidak heran kalau Rizal melakukan hal tersebut. Cukup banyak orang-orang yang salah paham dengan konsep qada sholat ini. Mereka mengira qada sholat bisa dilakukan seenaknya saja. Padahal sholat hanya boleh di qada kalau ketiduran atau kelupaan yang tidak disengaja. Sedangkan sengaja meninggalkan sholat tanpa alasan yang jelas, dan kemudian mengqada di kemudian waktu, betul-betul tidak ada nash di dalam agama.
Qada sholat yang dibolehkan menurut syari’i cuma ada empat saja yaitu:
- Apabila seseorang itu tertidur hingga kelewatan waktu sholat. Tidur yang dimaksud adalah betul-betul ketiduran, bukannya sengaja tidur di akhir waktu sholat sehingga kelewatan waktu sholat tersebut. Termasuk dalam kategori tidur ini adalah orang yang pingsan atau pitam sehingga kelewatan waktu sholatnya.
- Apabila seseorang itu lupa hingga kelewatan waktu sholat. Tapi jangan pura-pura lupa ya?
- Apabila salah menghitung waktu sholat sehingga kelewatan waktu yang sebenarnya. Contohnya adalah kalau seseorang sedang bermusafir ke sebuah negara yang berbeda waktu sholatnya. Entah bagaimana orang itu tersilap dalam menghitung waktu sholat di negara tersebut, sehingga waktu sholat sebenarnya kelewatan. Sebenarnya di jaman teknologi, kita bisa mengatasi masalah ini dengan membeli handphone yang memiliki fasilitas Java Script, sehingga kita bisa mendownload waktu sholat di mana saja.
- Apabila seseorang berhadapan dengan situasi darurat sehingga kelewatan waktu sholat. Kata darurat ini yang sering disalahgunakan untuk mengqadha sholat. Kalau kita tanya kenapa tidak sholat maka jawabannya adalah lagi dalam keadaan darurat, seperti sedangkan menonton sepak bola di stadion, atau sedang belanja di shopping centre. Menurut mereka keadaan darurat adalah kalau ketinggalan tembakan gol, ataupun tidak sempat berbelanja. Padahal yang dimaksud darurat dalam Islam adalah yang menyangkut nyawa sendiri atau orang lain, ataupun kemungkinan kehilangan anggota badan. Itu darurat yang sebenarnya.
Bagaimana Membasuh Kaki?
Salah satu alasan kenapa mereka lebih senang mengqada sholat, adalah karena kebingungan bagaimana cara mengambil wudhuk, ketika sedang berada di airport-airport di negara non-Muslim. Kalau di negara Muslim seperti Indonesia atau Malaysia, tidak menjadi masalah karena surau dan musholla telah tersedia. Itupun masih ada orang yang enggan untuk sholat juga dan lebih memilih untuk mengqada.
“Bang, susahlah kita berwudhuk di toilet di negara-negara barat, karena air cuma tersedia di wastafel,” mungkin ada yang bertanya balik seperti itu.
Ya memang susah kalau pemahaman kita mengenai wudhuk sama seperti dengan apa yang sering kita lakukan ketika tidak sedang bermusafir. Padahal toilet-toilet airport di negara-negara non-Muslim adalah toilet kering. Tidak sama dengan toilet kita yang selalu becek. Masalah lain kalau berwudhuk di wastafel adalah, bagaimana cara membasuh kaki kita?
“Ya angkat dan masukkan saja kaki kita ke dalam wastafel,” jawab mereka sekenanya. “Toh kaki kita masih lebih bersih dari mereka, karena selalu dibasuh lima kali sehari ketika berwudhuk”.
Apa mereka tidak malu menyebabkan nama Islam menjadi tercemar? Malunya dimana? Ya karena mereka mengangkat kaki tinggi-tinggi ke dalam wastafel, dan pada saat yang sama ada orang yang sedang membasuh muka di wastafel sebelah. Belum lagi becek yang diakibatkan oleh percikan-percikan air ketika membasuh dan menurunkan kaki kita.
Jadi apa penyelesaiannya ya?
Penyelesaiannya adalah dengan berwudhuk secara sempurna sebelum kita memulai perjalanan. setelah itu pakailah kaus kaki. Ketika wudhuk anda batal, karena buang air kecil atau besar, misalnya, maka anda cukup menyapu kaus kaki anda dengan air ketika berwudhuk kembali.
Berapa lama kita boleh menyapu kaus kaki terus? Jawabannya adalah tiga hari saja. Setelah itu, kita harus mengambil wudhuk yang sempurna lagi. Waktu itu lebih dari cukup. Perjalanan ke Amerika dengan pesawat saja paling lama cuma satu hari saja, apalagi kalau cuma perjalanan di dalam negara sendiri.
Cukup mudah bukan?
“Tapi bang, kami belum pernah mendengar hal tersebut. Jangan-jangan hukum itu cuma buatan abang saja,” tanya mereka dengan muka menuduh.
“Enak saja, emangnya gue ulama,” tukasku dengan sengit. “Kalau mau tahu hukum lebih lanjut, bisa baca artikel di blog ini”
http://blog.wiemasen.com/2008/12/10/menyapu-khuf-2/
Membasuh Sampai Tiga Kali, Perlukah?
Bagaimana cara berwudhu’ ketika berada di pesawat? Kalau mengikuti apa yang telah kepada kita sejak kecil, tentu saja kita akan mengulang pembasuhan hingga tiga kali. Misalnya saja, membasuh muka tiga kali, membasuh tangun tiga kali, dst. Tapi pernahkah anda berada di dalam toilet pesawat? Tentu anda merasakan betapa susahnya masuk ke dalam toilet, dikarenakan tempatnya yang sangat sempit. Semua serba kecil. Bahkan wastafel di toilet pesawat sangat kecil dengan jumlah air keluar yang dibatasi. Bagi yang terbiasa yang berwudhuk dengan air yang sangat banyak, biasanya mereka menjadi kesulitan ketika berwudhu’ di tempat yang sangat terbatas airnya.
Sebenarnya wajibkah kita mengulang pembasuhan hingga tiga kali? Jawabannya adalah bukan pengulangan sampai tiga kali yang membuat sebuah wudhu’ sempurna, tapi yang menjadi faktor penentu adalah seberapa bersih meratanya air pada anggota yang kita basuh tersebut. Imam an-Nawawi pernah berkata: “Para ulama semua sependapat bahwa yang wajib dalam membasuh anggota wudhu’ hanya sekali saja”. Selama pembasuhan yang pertama dapat meratai seluruh anggota wudhu’, maka itu sudah cukup memenuhi syarat syah wudhu’. Nabi SAW selalu mengulangi pembasuhan hingga 3 kali, tetapi ada kalanya beliau hanya mengulang sebanyak dua bahkan satu kali saja.
Bagaimana? Islam itu mudah bukan? Makanya jangan meninggalkan sholat dengan semena-mena. Manfaatkan segala keringanan yang telah disediakan oleh Allah Azza Wa Jalla agar sholat kita selalu terpelihara selama perjalanan.
Popularity: 5% [?]











Leave your response!