Aqidah

Membahas aqidah yang sahih menurut sunnah.

Bulan Islam

Pahami bagaimana bulan-bulan Islam itu ditentukan.

Ekonomi Islam

Belajar seluk-beluk perbankan Islam.

Politik

Politik dari sudut pandang Islam.

Fiqh

Berbagai macam jawaban fiqh.

Home » Sejarah

Pemurnian Sejarah Pada Zaman Ali ra

Submitted by on April 22, 2012 – 5:34 am7 Comments

Perang Jamal dimulai apabila Aisyah r.a., Thalhah dan al-Zubair radhiallahu ‘anhum beserta orang-orang yang bersama mereka pergi ke Basrah setelah pengangkatan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anh menjadi khalifah umat Islam. Tujuan Aisyah ke Basrah untuk menyatukan umat Islam, bukan beperang atau memberontak terhadap Ali radhiallahu ‘anh. Pasukan Ali r.a. pun pergi ke Basrah bukan untuk memerangi pasukan Aisyah, tapi untuk bersatu dengan mereka guna menghadapi peristiwa pembunuhan Usman r.a. Jika tujuannya untuk mempersatukan umat Islam, kenapa terjadi peperangan antara pasukan Aisyah dan Ali?

Sebenarnya ada orang-orang yang membunuh Usman (Sejarah Terbunuhnya Usman r.a.) menyamar di antara umat Islam . Mereka tidak suka melihat Aisyah dan Ali bersatu. Oleh karena itu mereka merencanakan untuk mengadu domba mereka. Di pagi hari yang gelap para pembunuh Usman menyerang pasukan Aisyah yang sedang tidur dengan nyenyaknya. Pasukan Aisyah kaget dan menyangka pasukan Ali mengkhianati mereka. Untuk mempertahankan diri mereka, pasukan Aisyah menyerang pasukan Ali. Pasukan Ali menyangka pasukan Aisyah telah mengkhianati mereka. Akibatnya terjadilah perang Jamal.

Muawiyah bin Abi Sufyan

Muawiyah bin Abi Sufyan adalah salah seorang sahabat Rasulullah saw yang mulia. Beliau dilahirkan 15 tahun sebelum peristiwa hijah. Beliau memeluk Islam setelah perjanjian Hudaibiyah antara tahun 6 hingga 8 hijrah. Muawiyah juga merupakan seorang sahabat yang dihormati oleh para sahabat yang lain. Beliau diangkat menjadi gubernur di Syam pada zaman pemerintahan Amirul Mukminin Umar dan Usman.

Muawiyah menolak berbai’ah kepada Ali bukan karena tidak setuju dengan kekhalifahan Ali. Tapi beliau menginginkan agar Ali menjatuhkan hukuman hudud terlebih dahulu kepada Usman. Di sisi Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, beliau bukan sengaja membiarkan pembunuh Usman berkeliaran dengan bebas. Tetapi umat Islam yang sedang terpecah belah menyebabkan beliau mengalami kesukaran untuk mengambil tindakan apapun.

Muawiyah bukan pemberontak, karena walaupun beliau tidak berbai’ah kepada Ali, beliau hanya berdiam diri di Syam. Pasukan Ali lah yang bergerak ke Syam. Hal ini menyebabkan Muawiyah menyiapkan pasukannya juga dan berangkat menuju Kufah. Akhirnya kedua pasukan itu bertemu di suatu tempat yang dinamakan Siffin dan bermulalah peperangan yang dikenali dengan perang Siffin.

Ketika Muawiyah sedang tidur bersama istrinya dan mendengar berita terbunuhnya Ali, beliau terus bangun dan berkata: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kemudian beliau menangis. Kemudian beliau menangis. Istrinya berkata: “Kemarin engkau menyalahkannya dan hari ini engkau menangis untuknya?” Jawab Muawiyah: “Wahai istriku! Aku menangis mengenang manusia akan kehilangan sikap penyantunnya, ilmunya, kelebihannya, awalnya dia dalam Islam dan juga kebaikannya”.

Walaupun Muawiyah bukan pemberontak, tidak berarti Muawiyah berada di pihak yang benar. Di dalam Islam, apabila wujud perbedaan pendapat antara pemimpin dan yang dipimpin, maka kebenaran terletak pada pemimpin. Dalam peristiwa perang Siffin tersebut, pemimpin pada saat itu adalah Amirul Mukminin Ali. Maka sikap yang lebih tepat bagi Muawiyah adalah tidak meletakkan syarat untuk membai’ah Ali. Sebaliknya terus membai’ah beliau dan kemudian mencari penyelesaian untuk memdapatkan pembunuh Usman.

Apabila Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anh dibunuh, maka orang ramai melantik anaknya Hasan sebagai khalifah yang baru. Akan tetapi Hasan menginginkan kemaslahatan dan persatuan umat Islam, sehingga beliau memutuskan untuk memberikan jabatan khalifah kepada Mu’awiyah dan kemudian membai’ah Mu’awiyah sebagai khalifah umat Islam yang baru.

Orang menuduh bahwa Muawiyah pembunuh Hasan. Padahal tidak ada bukti yang mengaitkan Muawiyah dengan pembunuhan Hasan. Sampai sekarang tidak diketahui siapa yang meracuni Hasan.

Yazid bin Muawiah

Sejarah versi Syi’ah mencela Muawiyah karena telah menyerahkan jabatan khalifah kepada anaknya Yazid. Padahal pelantikan Yazid tersebut telah disetujui oleh rakyatnya demi kemaslahatan umat. Menurut versi Syi’ah, Yazid bin Muawiah juga terkenal dengan berbagai kejelekan. Yang paling menonjol adalah memerintahkan bawahannya untuk membunuh Husain bin Ali ra.

Setelah Yazid dibai’ah menjadi khalifah, Husain menerima surat dari penduduk Kufah. Yang menulis surat tersebut adalah kaum Syi’ah dan para pembunuh Usman. Isi surat tersebut adalah mengundang Husain untuk datang ke Khuffah guna dilantik sebagai khalifah. Para sahabat seperti Muhammad bin Hanafiyah, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Umar, Abu Sa’id al-Khudri, dan Yazid menasihati Husain agar mengabaikan undangan tersebut. Namun Husain enggan mendengar nasihat tersebut dan meneruskan perjalanannya ke Khuffah bersama anggota keluarganya.

Ketika Yazid menerima berita keberangkatan Husain dan keluarganya ke Khuffah, beliau memerintahkan gubernurnya di Basrah, Ubaidullah bin Ziyad, untuk ke Kufah guna memperhatikan pergerakan Husain dan penduduk Kufah. Akan tetapi akibat suasana yang tegang di Kufah, pergerakan Husain ke Kufah dan sikap Ubaidullah yang sembrono, menyebabkan terbunuhnya Husain dan sebagian keluarganya di Karbala.

Adalah sebuah fitnah yang mengatakan bahwa Yazid memerintahkan pembunuhan Husain dan menyuruh membawa kepala Husain kepadanya. Sebenarnya Yazid merasa sangat sedih ketika mendengar Husain dibunuh oleh Ubaidullah bin Ziyad. Ubaidullah memerintahkan agar Husain dibunuh dan kepalanya di bawa kepadanya. Akibat perbuatannya tersebut, Ubaidullah bin Ziyad dibunuh.

Kesimpulan:

Pertarungan di kalangan sahabat adalah hasil dari ijtihad masing-masing. Pembunuhan Usman adalah penyebab segala-galanya. Pintu fitnah ini telah menyeret para sahabat ke medan pertempuran sesama sendiri. Campur tangan golongan munafiqun yang diketuai oleh pendiri Syi’ah, ‘Abd Allah ibn Saba’, telah memainkan peranan dalam menghidupkan episode pertarungan sesama para sahabat. Sesungguhnya pertempuran tersebut berlaku bukan karena perebutan harta dan kekuasaan, tetapi sebaliknya karena ingin melihat keadilan dan kebenaran. Sejarah mencatat semua sahabat termasuk Sayyidina ‘Ali menyesali keterlibatan mereka dalam kancah tersebut. Fitnah itu hilang setelah berakhirnya zaman tersebut. Semua umat Islam mengakui kebenaran berada di pihak Ali.

Sumber:

  1. Pertelingkahan Para Sahabat Nabi saw – Antara Ketulenan Fakta dan Pembohongan Sejarah
    Mohd Asri Zainul Abidin
  2. Himpunan Risalah Dalam Beberapa Persoalan Umat Buku 4
    Hafiz Firdaus Abdullah

Artikel lainnya:

Bahaya Syi’ah

Sikap Kita Kepada Mu’awiyah Bin Abi Shufyan

Tags: , ,

7 Comments »

  • hakim moesthaf says:

    Assalammualaikum wr wb

    Saya menerima artikel dari teman saya tentang Pertentangan Ali ra, Hasan ra dengan Muawiyah bin Abu Sufyan. Bahkan, dalam tulisannya — dikutip dari pemimpin Majelis Rasulullah SAW, Habib Al Munzir Al Musawa — bahwa Muawiyah-lah yang menjadi otak/dalang terbunuhnya Khalifah Ali dan Hasan oleh Yazid bin Muawiyah. Benarkah ini ya akhi?

    Setelah membaca artikel di atas, saya sadar bahwa artikel inilah yang mendekati kebenaran. Karena saya sebelumnya juga ragu terhadap tudingan terhadap Muawiyah. Saya yakin fitnah ini dilakukan oleh kaum munafik — Syiah — dan para begundal ahlul bid’ah untuk mengaburkan sejarah Islam.

    Namun, saya butuh jawaban dari Ustad, apakah Habib Munzir dengan Majelis Rasulullah-nya telah sesat? Ataukah Majelis ini adalah antek-antek Syiah? Atau memang dia memang Syiah yang pura-pura mencintai Rasulillah SAW namun pada ujung-ujungnya paham Syiah akan dikumandangkan oleh mereka? Sebab, ciri-ciri orang Syiah biasa memamerkan foto-foto pemimpin mereka dipampang besar-besar di spanduk dll seperti Imam Khomeini. Wallahualam Bisshawab. Wassalam

  • wiemasen says:

    Wa’alaikumsalam akhi Hakim,

    Saya tidak tahu apakah Habib Al Munzir Al Musawa itu Syiah atau terpengaruh Syiah. Masalah sesat tidaknya saya tidak tahu juga. Syiah itu sendiri banyak. Tapi yang paling sesat adalah Syiah Imamamyia atau Syiah rafidah yang salah satu tokohnya adalah Imam Khimeini dan di anut oleh sebagian besar rakyat Iran. Kalau ada yang mengatakan bahwa Mu’awiyah dan Yazid pembunuh, maka sumber mereka bisa dikatakan berasal dari Syi’ah. Jadi jangan dipercaya. Untuk melawan mereka, akhi sebarkanlah artikel saya ini.

    Wassalam

  • Dodik says:

    Sebagai seorang khalifah atau pemimpin adalah wakil Tuhan, sehingga keputusannya adalah untuk menjalankan keputusan Allah swt.
    Di saat Ali ra telah di baiat menjadi khalifah, kepemimpinan beliau untuk mengungkap pembunuhan Usman ra menuai kritik dari rakyatnya. Dan dari artikel diatas saya membaca Muawiyah tidak membaiat Ali ra, saya sendiri dengan menerapkan syariat Islam maka akan mengerahkan kekuatan untuk memerangi Muawiyah. Selama pembaiatan khalifah Ali ra tidak pernah menolak membaiat seorang khalifahpun.
    Saya bukan syiah dan bisa jadi jika Sunni seperti Anda, saya bukan Sunni. Saya Islam sebagai seorang muslim.
    Viva Republik,

  • zulkifli says:

    Assalamu’alikum

    Memang cerita sejarah para sahabat akan sangat sensitif kalau kita tidak berhati hati membaca sejarah tersebut dengan mengunakan Islam sebagai standard.
    Misalnya:
    1. Apa hukum seorang wanita terutama isteri nabi(Aisyah ra) keluar dari rumahnya?. Apakah dibenarkan oleh syara’ atau tidak?.
    2. Apa hukum orang yang tidak berbaiat kepada Khalifah yang disepakati muslimin ?. Apakah alasan tertentu membolehkan seseorang itu untuk tidak berbaiat?.
    3. Sejauh mana seseorang boleh memprotes seorang khalifah, apakah hal itu dibenarkan dalam islam atau tidak?.
    3. Apakah kita sudah tahu dengan detail bagaimana terbunuhnya Talhah dan Zubair dalam perang jamal itu?. Bagaimana hal itu terjadi?.

    kita juga perlu memahami, bahwa ada 3 perang dizaman kekhalifahan Sayyidina Ali kw. Semuanya adalah perang diantara muslimin, yaitu perang diantara sahabat.
    pertanyaannya:
    a. Apakah semua mereka benar, atau semua salah, atau ada yang benar dan ada yang salah?.
    b. Standard apa yangkita pakai sebagai penentu keberanran, adakah khalifah atau sahabat?. Yaitu dengan predikatnya sebagai sahabat, maka dia pasti benar sekalipun dia menentang atau memerangi khalifah.
    c. Bagaimana kalau terjadi pertentangan dengan hadtis nabawi yang shahih, apakah sahabat yang benar atau hadits yang benat?.

    Banyak lagi persoalan yang perlu kita jawab sebelum memberankan atau menyalahkan siapa dan apa didalam sejarah. Terlebih lagi para sahabat.

    wassalam

  • HAMBA yg Lemah says:

    @ akhi hakim bisa tunjukin artikel anda…?? mengenai sayyid munzir..? fitnah anda sungguh sangat kejam akhi ..bicara fitnah tanpa bukti masya Allah …apakah anda punya alamat akhi..?? ckckckck

  • ali sobri says:

    jgn bodoh jdi org..al-qur’an diturunkan untuk org2 yg berakal..dan jgnlah sekali2 memutar balikkan fakta..belajar yg benar dan jgn ingkari hati kalo memang itu tidak sesuai yg nt dengar atau yg nt tahu.. sukron

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.