Pengertian Salaf dan Salafi
Definisi Salaf
Salaf secara bahasa berarti orang yang terdahulu, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah yang artinya,
Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut). Dan Kami jadikan mereka sebagai SALAF dan contoh bagi orang-orang yang kemudian. (QS. Az Zukhruf: 55-56)
Salaf menurut para ulama adalah sahabat, tabi’in (orang-orang yang mengikuti sahabat) dan tabi’ut tabi’in (orang-orang yang mengikuti tabi’in). Tiga generasi awal inilah yang disebut dengan salafush sholih (orang-orang terdahulu yang sholih). Sedangkan orang-orang terkemudian yang berusaha menghidupkan ajaran salaf sering disebut sebagai salafi atau salafiyah. Jadi dia merupaka sebuah metode dakwah yang disebut dengan dakwah salafiyah.
Ciri-Ciri Dakwah Salafiyah
Menurut Dr. Yusuf al-Qaradhawi, dakwah salafiyah adalah suatu manhaj yang secara global berpijak kepada prinsip-prinsip berikut:
- Berpegang pada nas-nas yang sahih, bukan bertaqlid atau mengutamakan pendapat para ahli, tokoh mahupun ulama’ mengatasi nas yang jelas.
- Mengembalikan masalah-masalah “mutasyabihat” (yang kurang jelas) kepada masalah “muhkamat” (yang pasti dan tegas). Dan mengembalikan masalah yang zhanni kepada yang qath’i.
- Memahami kasus-kasus furu’ (ranting) dan juz’i (tidak prinsipal), dalam kerangka prinsip dan masalah fundamental.
- Menyerukan “ijtihad” dan pembaruan (Tajdid). Memerangi “taqlid” dan kebekuan.
- Mengajak untuk beriltizam (memegang teguh) dengan akhlak Islamiah, bukan meniru perlakuan jahiliyah.
- Dalam masalah fiqh, berorientasi pada “kemudahan” (fiqh taysir) dan bukan “mempersulit” .
- Dalam hal tarbiyyah dan tasfiyyah, lebih menggemari pemberian motivasi dan bukan menakut-nakuti.
- Dalam bidang aqidah, lebih menekankan penanaman keyakinan, bukan dengan perdebatan panjang yang tidak menambahkan iman.
- Dalam masalah Ibadah, lebih mementingkan jiwa ibadah, bukan sifat formalitasnya.
- Menekankan sikap “ittiba’” (mengikuti nas) dalam masalah agama. Dan menanamkan semangat “ikhtira’” (kreatifitas dan daya cipta) dalam masalah kehidupan duniawi yang memerlukan akal yang bebas lagi merdeka.
Salah Paham Mengenai Dakwah Salafiyah
Salah paham terhadap dakwah salafiyah juga menjangkit pengikut-pengikutnya karena kekurangan ilmu.
Sebagian dari mereka mengatakan salafi adalah pengikut ‘madrasah an-nas’, iaitu satu methodologi yang diambil oleh sebagian ulama di dalam melakukan istinbat hukum secara langsung dari zahir nas tanpa banyak melihat kepada maqasid (rahasia dan maslahat hukum dibalik zahir nas). Dengan itu mereka berpegang kepada zahir nas dari al-Quran atau hadis dan menolak metodologi yang digunakan oleh para ulama yang lain. Mereka mengambil jalan mudah dengan mempraktikkan Islam terus dari al-Quran dan Sunnah tanpa merujuk kepada tafsiran dan pendapat ulama-ulama berkenaan tafsiran nas tersebut, satu amalan yang sebenarnya bertentangan dengan praktek pelopor madrasah an-nas itu sendiri. Inilah yang menyebabkan para pendukung dakwah salafiyah kelihatan seperti tidak bermazhab.
Sebagian yang lain mengatakan salafi adalah siapa saja yang mempraktekkan mazhab Imam Ahmad bin Hanbal. Dengan itu mereka memaksakan beberapa pendapat mazhab Hanbali kepada umat Islam di negara kita yang mayoritasnya adalah bermazhab Syafie. Hujah mereka karena fiqh mazhab Hanbali lebih salafi dari mazhab-mazhab yang lain.
Sebahagian yang lain pula mengatakan salafi adalah pendekatan dakwah Muhammad bin Abdul Wahab, pelopor gerakan Wahabi di Arab Saudi. Sayangnya apa yang mereka pahami dari gerakan Wahabi ini hanyalah sebagian dari perjuangannya sahaja. Mereka tidak mempelajari keseluruhan gerakan tersebut. Dengan itu mereka menyimpulkan bahawa gerakan Wahabi adalah gerakan membenteras bid’ah yang berlaku di Semenanjung Tanah Arab satu abad yang lepas.
Citra Salafiyah Dirusakkan Oleh Mereka Yang Mendukung Dan Menentangnya
Orang-orang yang mendukung manhaj Salafiyah telah membatasi dirinya dalam lingkup formalitas dan kontroversi saja, seperti masalah-masalah dalam Ilmu Kalam, Ilmu Fiqh dan Ilmu Tasawwuf. Mereka sangat keras dan galak terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengan mereka dalam masalah-masalah kecil ini. Mereka mempermasalahkan khilafiah dengan mengabaikan masalah-masalah yang disepakati. Kita lihat di negara kita betapa obsesinya mereka dengan janggut, isbal dan niqab seakan-akan yang demikian ini menjadi lambang Salafiyah.
Sedangkan pihak yang menentang Salafiyah menuduh paham ini sebagai sesuatu yang mundur, senantiasa menoleh ke belakang, tidak pernah memandang ke depan. Salafiyah membawa pengertian anti pembaruan atau pemordenan, mematikan kreatifitas dan daya cipta. Salafiyah juga suatu bentuk pemikiran yang ekstrim, yang tidak mengenal apa itu moderat dan pertengahan.
Wajibkah Berafiliasi Kepada Kelompok Yang Membawa Dakwah Salafiah?
Yang wajib adalah hendaknya umat Islam mengikuti pemahaman salafus shalih; bukan membentuk golongan yang dinamakan “As-Salafiyyun”. Berhati-hatilah terhadap perpecahan! Mengapa? Walaupun tidak diragukan lagi ikhwah As-Salafiyyun adalah kelompok paling dekat dengan kebenaran, tetapi permasalahan mereka sama seperti kelompok lainnya. Sebagian individu kelompok ini saling menyesat-nyesatkan, membid’ahkan, dan memfasikkan.
Cara Mengikuti Manhaj Salaf
Kalau langsung mengikuti pemahaman para salafush sholeh lalu apa fungsinya imam 4 mazhab tersebut? Kita bisa saja langsung merujuk kepada para sahabat, tanpa mengikuti mazhab-mazhab yang ada. Baca saja hadist-hadist yang diriwayatkan oleh para sahabat, kemudian langsung diamalkan. Bolehkah begitu? Boleh-boleh saja, asal anda memiliki ilmu yang cukup untuk menarik hukum dari hadist-hadist yang sekian banyak. Boleh-boleh saja, kalau anda mampu membedakan mana hadist shahih, hadist dhaif dan hadist mungkar. Mampukah anda? Kalau anda tidak mampu, maka gunakanlah hasil penelitian para imam mazhab tersebut.
Loh dengan begitu, kita tidak mengikuti pendapat para sahabat dong. Kita jadinya mengikuti pendapat para imam tersebut. Jangan salah sangka dulu. Tahukah anda bagaimana para imam mazhab itu menghasilkan hukum-hukum Islam? Mereka menghasilkan hukum-hukum Islam setelah membaca, menganalisa hadist-hadist yang diriwayatkan oleh para sahabat serta meneliti pandangan-pandangan para sahabat. Jadi sebenarnya kita mengikuti manhaj salaf juga dengan menggunakan hukum-hukum dari imam-imam mazhab tersebut.Yang tidak dikatakan mengikuti manhaj salaf adalah mengerjakan suatu amalan baik aqidah, ibadah ataupun akhlak, yang tidak ada dasarnya dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
Jadi mudahnya begini:
Barang siapa yang mengikuti aqidah dan metode fiqh Imam Syafi’i maka sudah disebut mengikuti manhaj salaf. Begitu juga dengan mereka yang mengikuti aqidah dan metode fiqh dari imam-imam mazhab lainnya. Imam 4 mazhab itu disebut dengan imam salaf karena mereka menggunakan aqidah salaf dan cara menurunkan hukum fiqh berdasarkan dalil-dalil yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman para sahabat. Jadi siapa saja yang tidak mengikuti metode Imam salaf manapun, juga dikatakan salafi, asalkan mereka menguasai ilmu istinbath (ilmu mengeluarkan hukum dari nas). Yang tidak salafi adalah pentaqlid buta dan fanatik madzhab.
Contohnya mereka yang berakidah asya’irah, tapi fiqhnya Syafi’i. Ini tidak bisa disebut mengikuti manhaj salaf, sebab mereka tidak mengikuti Imam Syafi’i dalam akidah atau Usyul. Kalau mau dikatakan salafi, harusnya ikut akidah Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam malik dan Imam Ahmad ibn Hanbal. Bukan ikut fiqh mereka saja.
Apakah Akidah Yang Diikuti Oleh Empat Imam Madzhab?
Mereka menganut akidah salaf. Akidah empat Imam ini dibuktikan kesalafian mereka oleh Dr Muhammad bin Abdul Rahman alKhumais dan diedarkan secara gratis kepada semua calon haji yang tiba di Saudi setiap musim haji dalam bahasa masing-masing. Kitab itu adalah ‘I’tiqad Aimmatil Arba’ah (Akidah Empat Imam Madzhab). Berikut ini adalah pandangan imam-imam mujtahid yang empat tentang kaedah memahami nash-nash al-Sifat:
[1] Pegangan Abu Hanifah (150H) dalam Tauhid al-Asma’ wa al-Sifat
Abu Hanifah berkata dalam kitabnya (Kitab al-Fiqh al-Akhbar):
Dan apa yang disebut oleh Allah Ta’ala dalam al-Qur’an tentang sebutan Wajah dan Tangan dan Diri, maka ia adalah sifat-sifat bagi-Nya tanpa mempersoalkan bentuk, ciri, dan tatacara. Dan tidak boleh dikatakan bahwa Tangan-Nya adalah kuasa-Nya (Kudrat) atau nikmat-Nya karena padanya terdapat pembatalan sifat. Ini adalah pendapat al-Qadariyyah dan al-Muktazilah. Akan tetapi Tangan-Nya adalah sifat-Nya tanpa mempersoalkan bentuk, ciri-ciri dan tatacara. Dan Marah-Nya dan Redha-Nya adalah dua sifat dari sifat-sifatnya tanpa mempersoalkan bentuk, ciri-ciri dan tatacara.
[2] Pegangan Malik bin Anas (179H):
al-Walid bin Muslim (194H) berkata:
Aku telah bertanya kepada al-Auza’i dan Malik (bin Anas) dan Sufyan al-Thauri dan al-Laits bin Sa’ad tentang hadis-hadis ini (tentang sifat-sifat Allah0, mereka menjawab: “Terimalah ia sebagaimana ia datang tanpa mempersoalkan bentuk, ciri-ciri an tatacara.
[3] Pegangan Muhammad bin Idris al-Shafi’i (204H):
al-Shafi’i berkata di dalam kitabnya al-Risalah:
Segala puji bagi Allah …. Dia adalah seperti yang disifatkan terhadap diri-Nya dan Dia mengatasi dengan sifat-Nya atas makhluk-Nya.
[4] Pegangan Ahmad bin Hanbal (241H):
Musaddad bin Musarhad (228H) berkata, aku bertanya (kepada Ahmad bin Hanbal) tentang hadis-hadis al-Sifat, maka beliau menjawab: Diterima sebagaimana ia datang dan diimani dengannya dan jangan ditolak darinya apa-apa jika ia adalah dengan sanad yang shahih.
Mengapa Kelompok Dakwah Salafiyah Seperti Terkesan Tidak Kompak?
Gerakan Salafi di Indonesia banyak dipengaruhi oleh ide dan gerakan pembaruan yang dilancarkan oleh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab di kawasan Jazirah Arab. Ide pembaruan ini kemudian memberikan pengaruh pada gerakan-gerakan Islam modern seperti Muhammadiyah, PERSIS, dan Al-Irsyad. “Kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah” serta pemberatasan takhyul, bid’ah dan khurafat kemudian menjadi semacam isu mendasar yang diusung oleh gerakan-gerakan ini. Walaupun begitu, gerakan-gerakan ini tidak sepenuhnya mengambil apalagi menjalankan ide-ide yang dibawa oleh gerakan purifikasi Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab.
Gerakan salafi modern di Indonesia muncul di tahun 80-an. Namun pandangan orang-orang terhadap salafi ini tidak begitu bagus. Mereka menganggap salafi adalah sebuah gerakan ekstrim yang tidak kenal kompromi sama sekali. Sayangnya masyarakat menyamaratakan gerakan salafi ini. Padahal secara kasar gerakan salafi ini bisa dibagi ke dalam dua bagian yaitu Salafi Yamani/Hijazi dan Salafi Haraki (atau Salafi Ikhwan).
Ikhwani merupakan gerakan tajdid haraki yang paling besar dalam sejarah Islam yg dicetuskan oleh gagasan Rashid Ridha-Hasan al-Banna-al-Qardhawi. Sedangkan manhaj salafi hijaz adalah gagasan tajdid tauhid yg dikepalai oleh Imam Muhammad ben Baz, Ibn Uthaimiin, al-Albani, dan Yemeni connection (syaikh Muqbil).
Walaupun aqidah mereka sama, mereka berbeda pendekatan dalam beberapa isu yaitu dalam masalah pengisolasian terhadap pelaku bid’ah, sikap terhadap politik dan sikap terhadap gerakan Islam lainnya. Kedua aliran ini sangat susah untuk ditemukan.
Salafi Yamani cenderung kaku dalam menghadapi pelaku bid’ah. Mereka sering bentrok dengan masyarakat-masyarakat dan tokoh-tokoh agama setempat. Berbeda dengan dengan salafi Haraki yang memilih cara berhikmah untuk memberantas bid’ah dalam masyarakat.
Dalam persoalan politik, Salafi Yamani memandang keterlibatan dalam semua proses politik praktis seperti pemilihan umum sebagai sebuah bid’ah dan penyimpangan. Berbeda dengan Salafi Haraki yang cenderung menganggap masalah ini sebagai persoalan ijtihadiyah belaka.
Jika Salafi Haraki cenderung moderat dalam menyikapi gerakan lain, maka Salafi Yamani dikenal sangat ekstrim bahkan sering tanpa kompromi sama sekali. Contohnya Salafi Yamani menjadikan Ikhwanul Muslimin sebagai musuh utama mereka. Kebencian terhadap Ikhwanul Muslimin mencuat seiring bermulanya Perang Teluk bagian pertama. Mereka mengkritik karya-karya tokoh Ikhwan seperti Sayyid Qutubh. Mereka juga mencela dengan keras Dr. Yusuf al-Qaradhawy dengan menyebutnya sebagai musuh Allah, Yusuf sang penggunting syariat islam, dll.
Dalam bersikap terhadap pemerintah, Salafi Yamani menganggap setiap tindakan atau upaya yang dianggap ingin menggoyang pemerintahan yang sah adalah Khawarij, bughat atau semacamnya. Sebagai konsekwensi dari prinsip ini, maka muncul kesan bahwa kaum Salafi Yamani cenderung enggan melontarkan kritik terhadap pemerintah.
Itulah beberapa sebab yang membuat gerakan Salafi dicap gerakan yang ekstrim, karena orang hanya melihat gerakan Salafi Yamani yang cenderung kaku menghadapi masyarakat dan gerakan-gerakan Islam lainnya. Bukan itu saja, gerakan Salafi Yamani sering mengkritik gerakan Salafi Haraki, yang menimbulkan kesan kepada orang luar bahwa gerakan Salafi itu pun berpecah belah.
Selain Salafi Yamani dan Salafi Haraki, ada juga yang disebut Salafi Jihadi. Ini berangkat dari tidak semua Salafi tertarik dengan jihad. Salafi Jihadi adalah salafi yang mencintai jihad dan beramal dengan jihad, misalnya gerakan Al-Qaeda dan pihak-pihak mujahidin di Afghanistan serta di Iraq dan Chechnya. Mereka inilah yang sering dirujuk oleh media-media massa pembenci jihad sebagai “teroris”.
Diagram Untuk Memudahkan Pemahaman
Gambar berikut ini sekedar untuk memudahkan saya memahami apa itu dakwah salafiyah.

Akibat Pendekatan Dakwah Yang Tidak Tepat
Berikut ini adalah sebuah contoh yang menyebabkan bentrokan antara penduduk lokal dan jamaah salafi yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Nusa Tenggara Barat adalah sebuah pulau yang terletak didalamnya Gunung Rinjani Nasional Park. Lihat map di atas.
Apa yang terjadi?
Some 50 members of Jamaah Salafi in Beroro hamlet were forced out of the area on Friday afternoon. Residents dragged Salafi’s leader out and forced him to sign an agreement saying the group would not return to the hamlet.
![]()
Penyebab Masalah
The residents said they were upset by the loud preaching coming from Jamaah Salafi’s mosque after the Friday prayer.
Nasehat Majelis Ulama Lombok
The chairman of the West Lombok Indonesian Ulemas Council, TGH Mahally Fikri, said an incident between residents and group members was regrettable. He said the residents had no reason to object to the group, because Jamaah Salafi’s beliefs are recognized in Islam. ”That means what they’re doing is essentially based on the Prophet Muhammad’s hadis,” he said, referring to the traditional collection of stories relating to the prophet’s words and deeds.
He said residents might be offended by Salafi’s preaching methods. “”West Lombok residents still respect their traditional culture. The Salafi can preach but if they have different opinions from the local people, they don’t have to directly express it,“” Mahally said.
Nasehat Ulama Internasional
Menurut Syeikh Muhammad Sa’di anggota Al Ittihad Al Alami li Al Ulama Al Muslimin (Ikatan Ulama Muslim Internasional), jika terjadi khilaf, maka hendaknya semua pihak menyelesaikan dengan hikmah dan mauidhah hasanah. Jika salah satu memiliki dalil qath’i, maka itu yang harus diamalkan, akan tetapi ketika kedua-duanya memakai dalil dhanni, maka hendaknya kedua pihak toleransi satu sama lain. Al Ittihad Al Alami li Al Ulama Al Muslimin, adalah organisasi perkumpulnya ulama Islam internasional, yang diketuai oleh Dr. Syeikh Yusuf al-Qaradhawi.
Sumber berita:
Popularity: 69% [?]









wow.. Subahanallah…
Artikel dan sudut pandang yang bagus…Tapi saya baru dengar ada salafi haraki…Biasanya mereka menisbatkan diri mereka sebagai ikhwanul muslimin saja…Saya benar2 baru tau
Ya itu pembagian yang orang lakukan untuk membedakan pendekatan mereka terhadap berbagai isu di masyarakat. Mereka sendiri tidak akan menggelar diri mereka sebagai salafi yamani, haraki, jihadi, atau apalah nama lainnya. Alhandulillah, artikel ini membuka pemahaman baru bagi Ilham.
Bagus juga uraiannya, bagaiman kalau ditambah uraiannya yang lebih spesifik tentang “perbedaan pendapat” (kalau tidak ingin dikatakan “perpecahan”) diantara “kelompok salafi” itu sendiri, plus contoh-contoh kasusnya. Kalau sudah ada semoga sudi tuk meng-emailkan-nya untuk saya. Maklum lagi tertarik baca uraian-uraian tentang “perpecahan” salafi di Indonesia.
thank’s
Terima kasih Achan atas ketertarikannya. Insya Allah, nanti saya coba cari contoh-contoh kasusnya. Tapi mungkin perlu waktu.
Trims atas penjelasannya. Jadi semakin mantap belajar ilmu salaf..
Alhamdulillah, tulisan yang cari-cari selama ini ketemu. Penjelasan yang bijak dan jernih tentang salafi. Kebetulan saya sedang belajar dan mencari jalan yang benar-benar lurus. terima kasih kepada penulis atas penjelasannya, semoga Allah selalu meridhai Anda. amien
Tapi ngomong2, kok ga ada daftar referensinya ya? Kalau bisa, tolong ditambahkan daftar referensinya, agar saya bisa percaya lebih kuat. trims
ketika saya datang ke as sofwa di lenteng agung ( biara salafy turotsi), ustadz2 as sofwa bilang haram hukumnya bermajelis dan bertalim dengan salafy yamani.
===
ketika saya hadir di Jalan Haji Asmawi Jakarta selatan ( biara salafy wahdah islamiyyah), ustad2 salafy wahdah bilang salafiyyin aliran turotsi itu hizbi antek PKS dan ikhwanul muslimin yang termasuk 72 golongan yang masuk neraka jahanam.
===
ketika saya hadir ditaklim salafy yang ada di masjid hidyatusalihin poltangan pasarminggu ( gereja markas geng salafy sururi), ustad2nya bilang kalau salafy wahdah islamiyyah adalah khawarij anjing2 neraka yang menggunakan sistem marhala.
===
ketika saya hadir di masjid fatahillah ( salah satu sinagog salafy yamani), rabi-rabi salafy yamaninya bilang kalau salafy sururi, salafy haroki, salafy turotsi, salafy ghuroba, salafy wahdah islamiyyah, salafy MTA, salafy persis, salafy ikhwani, salafy hadadi, salafy turoby bukanlah salafy tapi salaf-i (salafi imitasi) yang khawarij, bidah dan hizbi.
===
Jafar Umar Thalib (salafy ghuroba) bilang kalau Abdul Hakim Abdat ( salafy turotsi)itu ustad otodidak yang pakar hadas ( najis) bukan pakar hadis
===
Muhamad Umar As Seweed ( salafy yamani) bilang kalau Jafar Umar Thalib itu ahli bidah dan khawarij. bahkan komplotan as seweed bikin buku dengan judul ” pedang tertuju di leher Jafar Umar Thalib” yang artinya Jafar Umar Thalib halal dibunuh
===
Abdul Hakim Abdat (salafy turotsi) bilang kalau salafy Wahdah Islamiyyah itu sesat menyesatkan dan melakukan dosa besar (hanya) dengan mendirikan yayasan/organisasi.oragnisasi adalah hizbi.
===
salafy Wahdah Islamiyyah bilang kalau kalau salafy Yamani dan Abdul Hakim Abdat itu salafy2 primitif dan terbelakang yang hanya cocok hidup di jaman puba atau pra sejarah.
pokoknya tak terhitung lagi perseteruan antar salafy. dan….ini baru kisah perseteruan antar sesama salafy, belum lagi perseteruan salafy dengan NU, Persis, Muhamadiyyah, Majelis Rasulullah, PKS, DDII, tarbiyyah, Nurul Musthofa, HTI dan banyak lagi.
ironis sekali, salafy yang mengaku2 anti perpecahan, anti hizbi kok malah berperan sebagai aktor utama perpecahan umat islam.juga sebagai biang kerok kekisruhan dikalangan ahlu sunnah. salafy sendirilah penyebab dakwah salafusalihin menjadi hancur berantakan.
ironis sekali, rabi-rabi salafy yang konon belajar jauh2 dan lama2 ke timur tengah, tapi ditataran basic yaitu akhlak, sangat bejat dan arogan.
mereka tak ubahnya seperti orang dungu narsis yang tenggelam di lautan tumpukan buku2 tebal. yah…keledai ditengah tumpukan buku2 tebal tetap saja keledai.
jangan halangi dakwah salaf, biarkan salafy sendiri yang menghalangi dakwah salaf. jangan memecah belah barisan salaf, karena barisan salaf akan berpecah belah dengan sendirinya dan secara alami. jangan hancurkan salafy, karena cukup salafy sendiri dengan kesadaran penuh dan suka cita menghancurkan dirinya sendiri.
sudah terlalu lama firqoh salafy dari apapun alirannnya dan sektenya melukai umat islam, melukai ahlu sunnah, melukai ahlu atsar dengan gaya2nya yang egomaniak. mungkin sekarang tiba saatnya pembalasan dari Allah azawajalla.
gara2 cara dan tabiat orang salafylah yang menyebabkan masyarakat awam menjadi benci terhadap sunnah.
Bagi para pembaca artikel ini, anda disarankan membaca e-book di bawah ini. Insya Allah, anda tidak akan menjadi pelanggar sunnah, dan pada waktu yang sama anda tidak akan menjadi terlalu keras/kaku.
===
http://www.hafizfirdaus.com/ebook/PDFeBooks/Berkenalan_ASWJ.pdf
intinya, kesalahan bukan pada ilmu kebenaran yang ada pada dakwah salaf, tapi kesalahan ada pada orang-orangnya yang kadang-kadang ngaku salafy tapi perilakunya jauuuh sekali dari ulama-ulama salaf, yang lebih penting kita jangan sampai membalik membenci dakwah salaf gara-gara ulah segelintir orang yang ngaku salafy.
kita cari aman dengan belajar agama sesuai dengan Al Qur’an & Hadist dengan pemahaman para sahabat, terus berdo’a terus menerus minta petunjuk agar di tunnjukan pada jalan yang benar.
tambahan sedikit, bagi yang mengagung-agungkan Sayid Qutub harus meneliti kembali buku-buku beliau, karena didapati bahwa Sayyid Qutub pernah mengina para sahabat Nabi sallallohu ‘alaihi salam. dan semua para ulama salaf TIDAK pernah menghina para Sahabat Nabi. dan juga Dr. Yusuf Qadawi yang fatwanya kadang-kadang menyimpang dari ajaran salaf. kemudian tentang Ikhwanul Muslimin, apakah Rosul dan sahabatnya pernah mengajarkan kita untuk membentuk organisasi atau partai? dan dari mana dakwah yang harus dilakukan dari TAUHID dahulu atau cara yang diajarkan para ulama Ikhwanul muslimin? coba renungkan
menurut saya salafi adalah ahlus sunnah wal jamaah yang insyallah berada di jalanyang benar menurut Al Quran dan hadist yang suunah
Aswad:
Pernahkah antum mendengar bahwa manhaj Salaf sangat membenci hizbiyyah? Maka bagaimana mungkin Salafy berhizbiyah? Maka, bagi yang mau memahami dengan baik Insya Alloh akan mengerti bahwa Salafy itu bukan aliran, hizb, kelompok tertentu, tarekat, apalagi partai.
Pengertian
Salaf secara etimologi (bhs arab) artinya orang yang terdahulu; nenek moyang; Yang lebih tua dan utama (lihat Kamus Lisaanul Arab). Secara terminologi (istilah) salaf adalah 3 generasi awal ummat Islam yang merupakan generasi terbaik, seperti yang disebutkan oleh Rasulullah SAW:
“Sebaik-baiknya ummat adalah generasiku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya” (HR. Bukhari-Muslim)
Yaitu generasi Rasulullah dan para sahabat, generasi tabi’in dan generasi tabi’ut tabi’in. Sering disebut juga generasi salafus sholeh. Tidak ada yang meragukan bahwa merekalah yang terbaik dalam masalah aqidah, manhaj, akhlak, ibadah, kefahaman, dan semua hal.
Kalau ada orang menyebutkan namanya Al-Padangi, berarti dia orang Padang, kalau Al-Bukhori, berarti dia orang Bukhor (nama daerah), kalau Al-Hanafi, berarti ia bermahzab Hanafi, nah maksudnya disitu ada unsur *******batan (isim nisbah; yg faham bhs arab Insya Allah tahu). Nah, kalau Salafy, berarti menisbatkan diri pada Salaf (3 generasi yg sudah dijelaskan di atas). Jadi, barang siapa yang beragama dengan mengambil sumber dari 3 generasi awal tadi, DENGAN SENDIRINYA ia Salafy. Tanpa harus daftar, tanpa berbai’at, tanpa dauroh marhalah, tanpa memiliki kartu anggota, tanpa harus ikut kajian tertentu. Maka antum yang sedang membaca artikel ini pun seorang Salafy bila antum selama ini mencontoh Rasulullah dan para sahabat dalam beragama.
Salafy bukan perusahaan, tidak memiliki saham. Jadi, tidak boleh ada orang yg berkata “Kelompok kami Salafy, kalian bukan Salafy”. Dari mana ia membeli sahamnya Salafy? Atau membatasi diri bila ikut kajian di masjid A itu Salafy, yang tidak ikut kajian di masjid A bukan Salafy. Orang2 yang seperti ini sesungguhnya telah terjerumus dalam hizbiyyah yang tercela walau memakai nama Salafy.
Tidak perlu daftar
Karena siapa saja yang beragama dengan mengambil sumber dari 3 generasi awal tadi, DENGAN SENDIRINYA ia Salafy, maka tidak ada daftar-mendaftar. Lagipula daftar dimana? Salafy bukan hizb jadi tidak ada ketua umum Salafy, Salafy Cabang Jogja, Salafy Daerah, Tata tertib Salafy, AD ART Salafy, Alur Kaderisasi Salafy, dan tidak ada muassis (tokoh pendiri) Salafy. Dakwah Salafiyyah adalah dakwah yang dimulai oleh Rasulullah dan para sahabat, maka tidak ada pendiri Salafy melainkan Allah dan Rasul-Nya, tidak ada AD-ART Salafy melainkan Qur’an dan Sunnah.
Tidak mencari pengikut
Selain itu, salah satu prinsip dakwah ahlus sunnah adalah ‘bukan mencari pengikut’. Ada diantara para nabi yang hanya memiliki 1 pengikut dan bahkan ada yg tidak memiliki pengikut. Apakah dakwahnya gagal? Tidak. Ukuran berhasil atau tidaknya dakwah adalah ‘apakah sudah berdakwah dengan benar sesuai Qur’an dan Sunnah atau belum?’. Bila sesuai, maka sudah berhasil walau tidak ada pengikutnya. Bila menyampaikan kebenaran kepada suatu kaum, kemudian mereka tetap ngeyel dan tidak mau menerima, ya sudah. Tinggalkan, kewajiban da’i hanya menyampaikan, petunjuk hanya dari Alloh, kita tidak mencari pengikut. Rasulullah bersabda:
“Dari Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu: “Al Jama’ah itu ialah setiap yang sesuai dengan al-haqq walau engkau seorang diri.”
Kalau bukan aliran, apa dong?
Salafy adalah manhaj. Manhaj adalah metode; cara berpikir; dalam beragama. Dan manhaj Salaf bukanlah manhaj yang baru. Coba baca lagi definisi Salafy secara istilah. Bila generasi salaf ada 3 generasi, maka siapa saja orang yang ada di generasi ke 4 yang ia mencontoh generasi salaf, ia Salafy. Bila ada orang di generasi ke 5 yang ia mencontoh generasi salaf atau mencontoh orang di generasi ke 4 yang Salafy, maka ia Salafy. Begitu seterusnya hingga generasi sekarang. Jadi, manhaj salaf bukan manhaj baru, melainkan manhajnya Rasulullah dan para sahabat. Dan manhaj salaf ini berhak dan patut digunakan setiap orang bukan kelompok tertentu saja.
Benci hizbiyyah
Sungguh demi Allah, sikap hizbiyyah-lah yang memecah-belah ummat Islam ini. Padahal Alloh telah memperingatkan:
“Berpegangteguhlah pada tali Alloh dan jangan berpecah belah” (QS. Al-Imron:103)
Hizbiyyah itu haram, tercela, terlaknat, dan telah menimbulkan banyak fitnah (bencana). Maka jangan membuat aliran atau mengikuti aliran tertentu. Loh gimana caranya? Yaitu dengan mengikuti aliran yang paling awal, yaitu alirannya Rasulullah dan para sahabat.
Kemudian, bila ada yang membagi Salafy menjadi beberapa ‘aliran’ lagi, salafy Yamani, Salafy haroki, salafy moderat, salafy keras, salafy lembut. Atau membagi menjadi kelompok Jamilurrahman, Kelompok Laskar Jihad, Kelompok Al-Irsyad, At-Turats, dll. Sungguh ini tidak dibenarkan, karena menjerumuskan kepada hizbiyyah. Sepatutnya bagi siapa saja yang mengetahui bahayanya hizbiyyah agar menghindari pembagian2 seperti itu. Dan ana tidak menemukan pembagian2 seperti itu kecuali dari orang-orang yang benci terhadap dakwah ahlussunnah.
Salafy merasa benar sendiri?
Jika ada orang yang mengganggap dirinya Salafy, kemudian membatasi diri, yang selain kelompok dia bukan Salafy, dan mengatakan dia yang paling benar, maka ini tidak dibenarkan. Namun, coba perhatikan lagi baik-baik tentang pengertian Salafy. Jika pengertian Salafy adalah semua orang yang mencontoh Rasulullah dan para sahabat, maka sesungguhnya benar bahwa mereka adalah manhaj yang PALING BENAR dan PALING SELAMAT. Ini bukan tanpa dasar. Rasulullah bersabda:
“Dari Auf bin Malik ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam : Sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, satu golongan masuk surga, dan tujuh puluh dua golongan masuk neraka”. Beliau ditanya : “Ya Rasulullah, Siapakah satu golongan itu ?”. Beliau menjawab ; “Al-Jama’ah”. (HR. Ibnu Majah)
Dalam riwayat lain : “Beliau ditanya : ‘Siapakah Al-Jama’ah itu?”. Beliau berkata:”Dia (golongan itu) adalah yang berada di atas pijakanku dan para sahabatku hari ini”.
Jadi, bila ada yg berkata Salafy paling benar, jangan skeptis dulu. Maksudnya, “SEMUA ORANG yang mengikuti Rasulullah dan para sahabat adalah maka ia telah menempuh jalan yang paling benar”.
Sikap keras Salafy
Dakwah itu asalnya adalah dengan hikmah dan cara yang baik, lemah lembut. Ini diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabat. Namun tidak selalu. Kadang dakwah perlu ketegasan. Ini juga diajarkan Rasulullah dan para sahabat. Misalnya saat sedang mengajarkanilmu, harus tegas, tidak bercanda, atau main-main.
“RasululLah itu ketika berkhutbah merah kedua matanya, tinggi suaranya, tegas marahnya seakan dia memberi perintah kepada suatu pasukan tentara” (HR. Muslim)
Atau tidakkah kita lupa kisah tentang seorang sahabat yang tidak sempurna wudhunya Rasulullah menasehatinya dengan keras, beliau berkata “Kedua tumit itu dineraka!”
Apakah kita lupa kisah tentang prajurit Islam di perang Uhud yang bercanda dengan mengolok-olok Rasulullah dan para sahabat kemudian pada akhirnya Rasulullah mengatakan kepada mereka “Kalian telah KUFUR setelah keimanan kalian”, padahal mereka benar2 bercanda. Nah, apakah darisini kita mengatakan bahwa Rasulullah itu orangnya kasar, saklek, keras?
Lemah-lembut dan tegas dalam dakwah ada tempatnya masing2. Adakalanya lemah lembut, adakalanya tegas. Dan di sini perlu banyak belajar ilmu syar’i, cara dakwah yg benar, agar bisa menempatkannya pada tempat yang tepat.
Kemudian bila diperhatikan sikap keras dan pernyataan tegas itu disampaikan dalam majlis ilmu, bukan dalam muamalah. Seorang ustdaz memang seharusnya menyampaikan ilmu baik lewat lisan maupun tulisan dengan lantang, keras, tegas, memberitahukan yang bid’ah itu bid’ah yang syirik itu syirik agar thulabul ilmi benar2 memahami betapa berbahayanya syirik dan bid’ah. Namun coba perhatikan tatkala sang ustadz bermuamalah dengan warga kampung, dengan orang2 awam, tentu tidaklah sama. Ia akan berlemah-lembut, dengan cara yang baik, bahkan dengan bahasa daerah yang halus. Jadi perlu dibedakan antara cara penyampain ilmu dengan cara penerapannya.
Namun memang sangat disayangkan, beberapa thulabul ‘ilmi yang masih muda, tinggi semangat dawkahnya, namun masih dangkal ilmunya, agak berlebihan. Terlalu keras, terlalu kaku, tidak menimbang maslahat-madharat, tidak melihat ‘urf, main tabrak, main sikat. Memang ini adalah sebuah kenyataan yang memprihatinkan. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan dikarenakan jauhnya mereka dari ilmu syar’i.
Wallahu ‘alam
Satu Kritikan buat kakak
Imam Syafi’i sendiri mengatakan “hadits yang shahih adalah mazhabku”
So, jangan menyuruh seseorang untuk memilih mazhab tertentu….itu juga bisa menimbulkan perpecahan umat Islam.
Yang PENTING Dalilnya shahih….
Kebenaran itu ada! karena Ada maka diperjuangkan oleh 1 golongan yang selamat yaitu golongan ahlusunnahwaljamaah….
Siapa saja bisa termasuk ke dalamnya tanpa batasan apapun….asalkan sesuai manhaj ahlusunnahwaljamaah.
Banyak sekali yang memfitnah salafy…padahal setelah dicek “isi dakwah yang disampaikan salafy itu benar dan shahih”, hanya saja…semua orang (baik salafy, dan harokah lainnya) harus sama-sama bijak/adil/ihsan/sabar dalam menyampaikan kebenaran itu dengan lembut.
Adapun golongan salafy…insyaAllah…selalu merujuk pada manhaj salafussholeh..dan orang-orang yang mau memperjuangkan/mendakwahkan salafy pun SEDANG BELAJAR/BERPROSES DALAM MENYAMPAIKAN DAKWAH DENGAN BAIK DAN LEMBUT.
Di dalam FirQoh Najiyyah/golongan ahlusunnahwaljamaah, ada sekelompok orang yang memperjuangkan kebenaran manhaj ahlusunnahwaljamaah ini sampai hari kiamat…tetap ada.
Sekelompok orang itu adalah orang-orang salafy…dan tidak terbatas hanya salafy saja tapi orang-orang TB dan HT pun bisa jadi salafy tanpa daftar asalkan tidak taklidtoh!
maksud saya…orang HT dan TB tidak taklid buta thdp pemikirannya HT dan TB itu sendiri…………karena pijakan pola pikirnya memang jelas berbeda antara TB, salafy dan HT…pokoknya yang benar itu…yang berpola pikir mengikuti Rosulullah SAW dan Para sahabatnya (salafussholeh)
Masalah bid’ah, kita sebagai seorang muslim wajib membenci bid’ah (kesesatan), tapi tidak semudah itu membid’ahkan/men-cap orang lain ahli bid’ah (orang sesat), dan haruslah didakwahi dengan cara yang baik dan lembut
memang sepantasnya kita saling berbagi, saling menasehati dan saling mengingatkan dengan lembut. Diceritakan di dalam Al-Qur’an, kisah Nabi Musa ‘alaihissalam dan Nabi Harun ‘alaihissalam yang diperintahkan oleh Allah, untuk berbicara/menyampaikan dengan kata-kata yang lemah lembut kepada Fir’aun. Kepada Fir’aun saja harus menasehati lemah lembut, apalagi kepada sesama Mukmin, sesama Muslim. Yup, semoga kita dapat mengambil hikmahnya.
Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku; Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut (Q.S. Thaahaa:42-44)
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (Q.S. Ali-`imran159)
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-ma’idah:54)
Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?).” Mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari.” Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun (Q.S. Al Kahfi:19).
Kak, Pernah mendengar kisah Imam Malik? ketika datang seorang utusan dari suatu kaum, lalu utusan tersebut mengajukan 40 pertanyaan pada imam malik. Namun, alangkah kagetnya utusan tersebut, karena seorang Imam besar sekaliber “imam Malik” hanya menjawab 3 pertanyaan saja. Sisanya, Imam Malik rahimahullah hanya menjawab “saya belum tau, Wallahu’alam” Lalu utusan itu berkata “apa yang harus saya katakan pada kaum saya, saya datang jauh-jauh tapi hanya 3 pertanyaan yang dijawab”, kata utusan itu mendesak meminta jawaban pada imam malik. Imam malik berkata dengan tegas “katakan kepada kaum-mu bahwa saya imam malik ini hanya bisa menjawab 3 pertanyaan, saya tak malu mengakui hal itu, dan sesungguhnya saya hanya takut pada Allah”
SUBHANALLAH……
Berbeda dengan kondisi zaman sekarang, banyaaaak sekali yang bergelar Ustadz dan mudah sekali berpendapat (bukan berijtihad karena belum terpenuhi syarat2 ijtihadnya). Masya Allah….Sampai-sampai di dalam salafy pun(suatu golongan orang yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, dan mendakwahkan manhaj ahlusunnahwaljamaah, serta mengikuti jejak Rosulullah SAW dan para sahabatnya [salafussholeh])pun banyak sekali ustadz-ustadz yang agak sedikit berbeda dalam memahami batasan “penguasa muslim, jihad, dll”.
Mengenai orang yang awam, yang menuntut ilmu dari ustadz-ustadz tertentu, coba cek di hadits dan Qur’an “tentang larangan berashobiyyah (taklid buta), jadi kita ajak orang-orang awam itu untuk mencari kebenaran dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah…bukan malah menyetujui kekeliruan umat yang meninggalkan alqur’an dan sunnah lalu taklid buta pada ustadz-ustadz.
Fyuuh:-/
Meskipun demikian, kita tak boleh menyerah dalam mencari kebenaran. Meskipun demikian, saya tetap kagum pada semua ustadz salafy yang shahih pemahaman aqidah dan ibadahnya.
Kak, saya mengerti…istilah salafi begitu banyak PRO dan KONTRA…..Inti yang saya maksud, salafi adalah orang yang bermanhaj salafussholeh…..kalau dia ngaku salafi atau ikut majlis ta’lim salafi tapi menyimpang dari manhaj salafussholeh maka ia bukan salafi…Lalu siapapun bisa menjadi salafi, asalkan tidak berhizbiyyah (maksud dari berhizbiyyah adalah berashobiyyah/taklid buta pada golongannya yang keliru).
Tentang orang yag terlibat di sistem parlemen kufur, asalkan ia tidak menghalalkan sistem kufur tersebut, mendakwahkan kebenaran sepahit apapun bahwa sistem demokrasi adalah sistem kufur, dan ingin keluar dari sistem parlemen kufur tersebut, wallahu’alam dia bisa jadi salafi.
Itulah sebabnya kita harus memakai kata Insya Allah, ketika kita mengaku sebagai ORANG YANG MENGIKUTI MANHAJ AHLUSUNNAHWALJAMAAH, sebagai salafu, sebagai AHLUSUNNAHWALJAMAAH>>
Di kalangan salafy, sudah banyak yang mengeyahkan istilah salafy karena membingungkan umat, lalu mereka mengganti nama dengan “kajian manhaj ahlusunnahwaljamaah/majlis ta’lim ahlusunnahwaljamaah” , ya hanya berupa majlis ILMU, bukan apa-apa…
Namun, banyak juga salafy yang tidak mau ganti nama, mereka bersikeras mempertahankan nama salafy, bersikap keras kepada orang MUKMIN, membingungkan umat, membuat umat lemah semangat dalam menuntut ilmu karena selalu dimaki-maki/memaki-maki, bahkan tidak sedikit INTEL yang terlibat dan berusaha menjauhkan umat dari SEKELOMPOK ORANG YANG BENAR-BENAR INGI BERMANHAJ SALAF….
Ingat kak, kita harus yakin pada hadits Nabi SAW bahwa ADA SEGOLONGAN dari UMAT ISLAM yang memperjuangkan kebenaran, yang mengikuti jejak salafussholeh, ya 1 golongan yang selamat……
Ustadz-ustadz bukanlah orang yang ma’shum, maka luruskan mereka dan ingatkan dengan cara yang bijak!!! Hentikan VONIS-VONIS-an di antara kita, dan tetaplah katakan yang HAQ itu HAQ dan Yang bathil itu batil. Oleh karena itu, hendaknya kita belajar memahami semua persoalan secara utuh.
Ibarat Emas yang terus dibakar:) yang terus terasah dan semakin tinggi tingkat kemurniannya. Ibarat jalan ke syurga, yang sangaaaaaaaaaaaaaaat berlikuuuu sekali, yang penuuuuh ujiaaaaaaaaan dan tantangan.
Iya kak, tapi kita TIDAK WaJIB BERMAZHAB khan??
Yang penting kita tak taklid buta, jadi amat mudah bagi umat Islam, jika dia tahu haditsnya shahih..ya langsung amalkan, tanpa repot-repot mencari dulu ini mazhab apa?
Ya, saya juga mengakui bahwa BETAPA BANYAK orang-orang salafy yang membenci majlis ta’lim salafy yang lain dari majlis mereka. Padahal sama-sama salafy, hal ini karena mereka terlalu khawatir, terlalu curiga pada salafy lain…padahal jika ada yang berbeda, ya ayo saling tabayun, adu dalil, silaturahim dengan bijak….
atau mungkin udah ketakutan duluan…karena pas diskusi dengan kelompok salafy x udah diCAP syaithon! ahli bid’ah! munafik! pemikiran sesat! dan lain-lain…akhirnya yah saling berpecah belah..padahal perpecahan itu sangat dibenci ISLAM.
jangan remehkan ulama-ulama fiqh itu…….Setuju kak, maksud kakak, ulam hadits khan..
Karena sekarang bayak sekali yang bergelar ‘ulama, yaitu ‘ulama harokah, ‘ulama politik. Nyata sekali bahwa musuh islam ingin menjauhkan umat Islam dari ulama fiqh/hadits dengan cara MEMUNCULKAN ISTILAH2 yang MEMBINGUNGKAN umat termasuk istilah SALAFY dan ULama SALAFY…
padahal setelah ana cek, ulama salafy adalah ulama-ulama hadits….
Kak, coba siapa yang meremehkan ulama-ulama FIQIH??: mereka adalah mayoritas PARA DA’I harokah, mereka takut menyebutkan kata “salafussholeh”, takut merujuk pada buku-buku ulama-ulama hadits zaman kini spt Nashiruddin al-albani, al-utsaimin, abdul ‘aziz bin abdullah bin baz, mereka (kebanyakan para da’i) lebih bangga menyandang gelar aktivis harokah X sampai mati
Yusuf Al-Qharadawi.??? Dulu, saya sangat kagum pada beliau, apapun beliau, kita harus menjaga hak seorang Muslim khan…kita tak boleh melaknat saudara kita meskipun kita benar (kalimat ini terisnspirasi dari sebuah hadits shahih)……hanya saja mungkin kadang kita kurang SABAR atas penolakan, caci maki, diremehkan sama orang yang kita dakwahi….jadi deh kebawa eMOSI….pengalaman
kini saya lebih percaya masalah hadits pada AHLI-nya yang lebih faqih dari beliau dan lebih khouf pada Allah dan berhati-hati dalam berfirqoh yaitu ‘ulama HADITS, ‘ulama umat ISLAM, seperti yang disebutkan dalam hadits Rosulullah SAW…bahwa salah satu definisi ahlusunnahwaljamaah adalah AHLI HADITS…..
Iya, bahkan beberapa hadits di buku shahih bukhari-muslim pun dikritik oleh Seorang ahli hadits zaman kini yang BRILIAN yaitu nashiruddin al-albani….dan untuk masalah hadits 73 golongan itu, 1 masuk syurga itu banyak penguatnya…silakan cek di buku2 nashiruddin al-albani…
Oya, meskipun begitu…kita tak boleh taklid buta pada ‘ulama…karena Allah berfirman dalam Al-Qur’an agar kita tak menjadikan fatwa-fatwa ulama/rahib itu sebagai tuhan…ayat berapa ya lupa….silakan search di al-qur’an digital
Assalamu ‘alaikum
Saya seorang salafi ingin memberitahukan bahwa bermanhaj salaf itu wajib ,bukankah Syaikhul Islam iBnu Taimiyah berfatwa hal tsb wajib, saya juga membritahukan katanya salafi tak kenal politik padahal salafi itu malah tau politik yg syar’i tak spt IM,HT,atau hizbi lain salah menerjemahkan politik,politik Islam itu mengatur umat selama tak bertentangan dgn syariat Islam coba perhatikan ini , katanya para haraki anti produk yahudi tapi kok pake sistem yahudi dlm berdakwah. Pikirkan ini
assalamualaikum…
alhamdulilah akhirnya saya dapat pencerahan..
mas bisa minta tolong wat kirim artikel tentang salafi yang lebih detail ke e-mail saya??
wa’alaikumsalam,
saya gembira candra mendapat pencerahan. Artikel mengenai salafi yang lebih lengkap? Yang ini saya harus mencari dulu. Tidak janji ya?
Asy syafi’i, ahmad bin hanbal, maliki, hanafi semua mujtahid salaf….kalo kita ngikut salah satu dari mereka berarti kita ngikut salaf, berarti kita salafi…horee…
meskipun kita beda baju…tetap salafi….
rugi lah kalo kita kerjaannya hanya nyalahin orang lain…mari perbaiki diri sendiri dan berdakwah dengan cara yang baik
saya dan mungkin orang awam dari rakyat indonesia yang ratusan juta itu, tambah bingung & ribet, kalo liat pendapat anda kebanyakan….saat ini banyak problem umat Muslim Indonesia yang rautsan juta ini (mungkin banyak yg ga kenal apa itu ikhwan, salafi, HTI, dll) yg mereka tau NU & Muhamadiyah…problem tersbut seperti…
1. banyak yg akidahnya belum bener, seperti ke dukun, tukang ramal, dll
1. banyak yg sholatnya cuma jum’at & lebaran doang
2. banyak yg belom bayar zakat & sedekah
3. banyak yg ga puasa di bulan ramadhan
4. Kemiskinan di mana2
5. Pendidikan masih mahal
6. Pengangguran dimana2..
7. dan mungkin banyak lagi yang masih harus di benahi.
memang belom ada riset tentang jumlahnya…tapi menurut saya itu lebih prioritas dibanding terus mengangkat perselisihan yang ga ada habis2nya mungkin sampe kiamat…Insyaallah jika problem2 tsb diatas bisa di benahi, maka akan dengan sendirinya umat Muslim menjalankan keIslamannya secara benar & menyeluruh…afwan…wallahua’alm
kita musti bedakan kajian islam yang dibahas. kalo aqidah udah jelas itu masalah yang tsubut jadi siapapun yang berpegang kepada manhaj salaf dari golongan manapun yaitu salafi tanpa membedakan guru, suku, asal negara dan lain. ia muslim yang wajib kita berikan wala’. kalo terjadi kesalahan bukan divonis tapi dikasih tau sepanjang kita tau ilmunya. jangan sampe udah ngaji lama, bilangnya mementingkan aqidah tapi thaghut aja gak paham-paham. ee….temen sendiri malah dimusuhin. naaah tapi kalo masalah udah kepada yang sifatnya praktek ibadah lingkup fiqh, muamalah inikan gak statis jadi mudah-mudahan dengan ini Allah melihat hambanya yang paling baik dalam beramal. perbedaan fiqh wajar tho. jangan malah gara-gara kecil ada yang terus hilang dari kaum muslimin….apa itu. wala’ wal bara’ yang posisinya ada dibawah sahadat. ama sodara sendiri pukul-pukulan ama musuh gandeng-gandengan! setan aja gak pernah salah cari musuh.
bagi sodara-sodaraku yang bingung cari aliran yang salafi passwordnya nii “i’rifil haq ta’fif ahlahu” yuk kita emang musti kudu semangat thalabul ilmi.
yang belum tau dunia dakwah seperti kebanyakan orang kudu ikut semangat…ya.
mba’ husna dan mas yang menulis artikel yuk kita sama-sama beramal biar Allah yang liat.
“katakan (muhammad) “beramallah maka Allah, Rasul-Nya dan orang yang melihat amal yang kalian kerjakan”(al-ayat)
untuk penulis…saya tidak ingin berdebat disini. tapi saya hanya ingin berbagi.
sebenarnya banyak dari apa yang anda sampaikan (bc:tuduhkan) kepada salafy menjadi bumerang bagi anda sendiri.
anda ingin berpikir obyektif, tp anda sendiri terkesan subjektif dengan hanya menukil perkataan DR. yusuf al-qordhowi, dkk.
terlalu banyak tuduhan yang sifatnya kejadian2 khusus, yang seharusnya tidak anda angkat permasalahan tersebut untuk menjadikan sebagai hujjah dan menghukumi nya secara umum. karena itu memang pada hakikatnya tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya.
anda juga katakan, jangan benci ajarannya, karena manhaj salaf lah yang paling benar, sementara jamaahnya masih banyak yang belum dewasa dalam beragama. hal ini anda renungkan, apakah anda sudah menerapkannya? karena saya lihat, anda menghukumi salafi hanya berdasarkan kejelekan2 pada sebagian jamaahnya, lantas menuduh seluruhnya seperti itu. ittaqulloh, saudaraku…
saya terbilang baru mengenal manhaj salafy, kira2 sejak akhir 2005. dan saya sendiri sangat kecewa dengan fanatisme terhadap ustadz dan ulama yang dilakukan oleh sebagian orang yang ngaji salafy. tapi demi Allah, itu tidak berasal dari ajaran para ulama salafy! karena segala yang bersumber dari al-qur’an dan sunnah tidak mungkin mendatangkan keburukan.
tabbayun lagi, sebelum membuat artikel panjang seperti ini. karena setiap apa yang kita amalkan di dunia ini, sungguh akan dimintai pertanggung jawabannya kelak. apalagi yang hubungan dengan ummat.
maka diam, sepertinya lebih baik daripada berbicara tanpa ilmu, karena anda bukan ulama, melainkan anda menukil perkataan2 si fulan dan si fulan…
ulama sendiri sangat berhati-hati dan ulama adalah orang yang paling takut kepada ALLAh…
barokallohu fiik…
afwan jika ada salah kata dan khilaf…
asssalamualaikum Wr.Wb
alhamdulillah Saya mendapat pencerahan yang berarti.
Lebih baik pengamalannya dari ilmu yang didapat dari guru kita, sambil memperbaiki lagi / pencerahan. Setuju dengan Akhi.biasanya orang seperti ini lebih banyak debatnya dengan ilmunya yang mungkin baru sedikit dari pada amalannya.
Syukron
Wasmalam
wa’alaikumsalam Dim Fais…tetaplah membaca terus
Artikel nya bagus, jazakaLlah khairan. Tapi untuk madzhab ‘aqidah, ulama memang membagi ke dalam madzhab salaf dan khalaf. Dan khalaf di sini bukan berarti dia menyimpang dari jalan yang lurus. Karena baik madzhab salaf maupun khalaf keduanya adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (tentu ini tidak berlaku bagi pihak yang mengklaim kebenaran hanya pada kelompok dan syekhnya; Allahummaghfirlanaa wa lahum).
Dan kalau kita hendak melihat Abu’l Hasan Al-Asy’ary, beliau adalah pendekar Ahlus Sunnah pertama yang bisa membungkam seluruh hujah mu’tazilah setelah sebelumnya Ahlus Sunnah hanya bisa ‘berdiam’ ketika berdebat dengan mu’tazilah. Bahkan tak kurang Ibnu Taimiyah pun yang diklaim oleh banyak orang saat ini sebagai ‘pemimpin’ nya, memuji beliau. Dan kalau kita mau jujur, predikat “Ahlus Sunnah wal Jama’ah” sendiri baru disematkan pertama kali kepada pengikut Abu’l Hasan Al-Asy’ary ini. Bahkan sebagian mengatakan bahwa sebenarnya perjalanan ‘pemikiran’ beliau (katakanlah demikian) tidak berhenti di sini, karena kitab Al-Ibanah adalah kitab beliau yang menunjukkan pemikiran final beliau yang memperlihatkan bahwa beliau bermadzhab aqidah salaf.
Adapun perjalanan madzhab khalaf sendiri bukan tanpa sebab (bisa dibaca “As-Salafiyah : Marhalah Zamaniyah Mubarakah La Mazhab Islami” atau “SALAFI : Sebuah periode yang diberkahi, bukan manhaj Islam” karya Al-Buthy). Dan untuk takwil sendiri, bukan berarti begitu saja diperbolehkan men-takwil, namun ada syarat2 yagn perlu diketahui saat men-takwil seperti sesuai dengan bahasa Arab dengan pengertian yang dimiliki oleh orang Arab dalam kata tsb misalnya.
Lagipula, kalau kita hendak melihat lebih jauh, ada ayat2 yang memang mau tidak mau harus kita takwil. Seperti: “…Maka pada hari ini Kami lupakan mereka, sebagaimana dulu mereka telah melupakan hari pertemuan mereka ini dan juga karena dahulu mereka senantiasa menentang ayat-ayat Kami.” (Q.S:7:51)… Tentu kita tidak bisa mengatakan bahwa Allah Swt. lupa karena Allah Swt. Tidak Pernah Lupa. Dan memang maksud ayat pertama bukan Allah Swt. lupa. Allah Swt. Berfirman: “Dan tidaklah Tuhanmu lupa.” (Q.S:19:64).
Belum lagi nanti kalau kita melihat bahwa madzhab salaf sendiri terbagi dua, yaitu itsbat dan tawfidh. Pihak pengklaim kebenaran pada kelompoknya memilih menggunakan itsbat dan menghantam selainnya (Allahummaghfirlanaa wa lahum). Walau mayoritas ulama mengatakan bahwa madzhab salaf adalah tawfidh. (Tapi tenang, saya penganut ‘adidah madzhab salaf juga lho… ^_^ )
Untuk perkataan Imam Syafi’i bahwa hadits shahih adalah madzhab beliau, bukan berarti kita menafikan pendapat madzhab beliau hanya karena kita membaca satu hadits sekali lewat di sebuah buku hadits yang ‘tampak’nya menurut kita bertentangan dengan madzhab Syafi’i. Karena sebuah madzhab bukan berarti produk sang imam semata. Madzhab adalah sebuah produk yang dibangun oleh seorang imam dan dilengkapi oleh ulama2 yang sesudahnya sampai ia berada pada di zaman kita sekarang ini. Jadi ketika kita berbicara madzhab Syafi’i, berarti kita mengikut sertakan di dalamnya pendapat Imam Nawawi, Ibnu Hajar Al-Asyqalani, Al-Haitsami, Ar-Romli, Al-Ghazali dll. Karenanya kita pun akan menemukan bahwa di dalam madzhab Syafi’i sendiri akan ada perbedaan pendapat antara Al-Haitsami dan Ar-Romli misalnya. Jadi tidak semata2 selalu berasal dari pendiri madzhab semata.
Tapi sekali lagi, artikelnya bagus. OK sekali. Sekedar menambahkan bahwa Imam Abu Hanifah adalah seorang tabi’in (generasi kedua setelah sahabat). Jadi barangsiapa mengatakan bahwa madzhab saya adalah Hanafi, berarti dia adalah seorang pengikut salafush shalih.
WaLlahu a’lam bishshawwab.
Semoga Allah Swt. berkenan melapangkan hati kita dalam melihat perbedaan pendapat di kalangan ulama2 kita baik salaf maupun khalaf dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Ayo, kita semangat menuntut ilmu…
Barokallohu fiik. Terima kasih atas artikelnya. Semoga kita selalu lembut berdakwah dan mementingkan akhlakul karimah pada sesama muslimin.
Leave your response!
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru
Calender
Categories
Berita
Blog Kawan Kita
Blog Menarik
Forum
Link Dakwah
Link Menarik
Meta
Waktu Sholat
Bendera Pengunjung
Negara Pengunjung
Lokasi Pengunjung
Artikel Populer
Most Commented
Tags