Artikel Lama Mengenai Prabowo
Sekarang lagi ramai-ramainya pencalonan calon presiden dan wakil presiden. Sempat terdengar kalau Prabowo juga tertarik dengan pencalonan tersebut. Orang banyak memandang negatif Prawobo karena bekas menantu Suharto (bapak saya pun memamerkan muka tak setuju, ketika saya mengatakan bahwa Prabowo peduli dengan Islam. Tapi saya ada artikel menarik mengenai Prabowo. Perlu waktu juga untuk mencari-cari dimana artikel ini berada. Selamat membaca, tapi ingat ya saya bukan pendukung Prabowo. Hanya sekedar menyampaikan sisi lain dari Prabowo. Silakan kemukakan pandangan anda di bagian komentar, tentang apakah Prabowo yang dikatakan oleh Sumargono9 tahun yang lalu masih sama dengan yang sekarang.
Memahami Prabowo
Tabloid Tekad No 17/Th II (tahun 2000), menggambarkan sosok Prabowo sebagai tokoh hebat yang sedang menyusun kekuatan dan memiliki banyak pengikut setia serta kaki tangan di Tanah Air. Saya termasuk yang di- sebut-sebut menjadi kaki tangan Prabowo. Masya Allah. Saya maklum saja dengan cara wartawan dalam menampilkan berita analisis yang agak sensasional untuk menarik minat pembaca.
Apakah saya kaki tangan Prabowo? Atau Prabowo kaki tangan saya? Atau antara saya dengan Prabowo saling menjadi kaki tangan. Tentunya terlalu gegabah jika indikator kaki tangan, hanya diukur dari sebuah atau beberapa pertemuan. Harusnya Tekad lebih dalam lagi menggali masalah tersebut dan tidak terlalu mudah mengambil kesimpulan berdasarkan fakta-fakta yang sangat minim dan dangkal.
Sejak semula, Prabowo menarik perhatian saya dan banyak aktivis dakwah lainnya, disebabkan keberpihakannya terhadap Islam. Ia selalu mengakui dirinya bukan muslim yang baik. Banyak ibadah yang belum bisa ia jalankan. Sejauh yang saya teliti dari kawan-kawannya, putra ekonom dan tokoh sosialis Soemitro Djojohadikusumo itu sudah lama terlibat dalam perjuangan melawan dominasi LB Moerdani di dalam tubuh ABRI.
Seperti diketahui, bagi aktivis dakwah di tahun 1970-an dan 1980-an, LB Moerdani dan CSIS merupakan momok dan musuh besar. Strategi penindasan dakwah dan aktivisnya diyakini berasal dari kelompok ini. Kristenisasi dan sekularisasi yang merajalela di masa itu juga sulit dipisahkan dari campur tangan mereka. Trauma itu masih berjalan hingga 1990-an, meskipun LB Moerdani sudah lepas dari pemerintahan.
Dalam kondisi seperti itu, maka siapa saja yang berani melawan dominasi LB Moerdani dan CSIS, otomatis mendapatkan simpati dari kalangan aktivis dakwah Islam. Dan Prabowo sudah terbukti berani melawan dominasi tersebut. Apalagi, banyak teman dekat Prabowo di ABRI yang berlatar belakang aktivis Islam, seperti Kivlan Zen, Muchdi PR, dan kawan-kawan.
Berkali-kali saya mendengarkan ceramah Prabowo dan berdiskusi dengannya, bahkan pernah suatu ketika ia pernah saya undang berceramah kerumah. Selama hampir tiga jam Prabowo memaparkan visi keislaman dan politiknya. Kesimpulan saya, visi keislamannya sangat mengagumkan. Ia menguasai sejarah Islam dengan baik. Latar belakang kehidupannya yang bertahun-tahun hidup di negara Barat memberikan keyakinan kepada dirinya, betapa Barat selalu curiga dan tidak suka kepada Islam.
Prabowo juga sangat suka menunjukan buku-buku karya penulis Barat yang memandang negatif kepada Islam dan umat Islam. Dalam berbagai kesempatan, ia menjelaskan adanya empat kekuatan yang tidak menghendaki Indonesia menjadi negara besar: Katolik internasional, Yahudi, Cina Perantauan, dan Negara-negara Barat.
Selama berjam-jam Prabowo dapat menjelaskan bukti-bukti dan aktivitas kelompok-kelompok itu di Indonesia dan di dunia internasional. Yang menyedihkan, menurut Prabowo, Indonesia tetap dilihat sebagai “negara Islam”, sehingga tidak boleh menjadi negara besar dan kuat.
Dalam hal inilah, kelihatannya, rasa nasionalisme Prabowo menyatu dengan sikap keislamannya. Seringkali ia menyatakan, tidak habis pikir, mengapa orang Islam selalu dicurigai. Perjalanannya sebagai perwira TNI yang pernah menjadi “anak emas” LB Moerdani, mengalami hal-hal yang sangat pahit dan tidak adil. Kawan- kawannya sesama perwira ABRI yang rajin ke mesjid sering dicurigai dan sulit naik pangkat. Ia bercerita tentang canggihnya rekayasa menjatuhkan citra Islam, seperti rekayasa kasus Komando Jihad yang ditokohi Imron, seorang preman Medan.
Prabowo sangat fasih bercerita. Semangatnya meledak-ledak dan kelihatan sangat emosional jika sudah menyangkut martabat bangsa. Sikap nasionalismenya terlihat menonjol. Yang saya lihat, Prabowo sepertinya menempatkan Islam sebagai faktor penting dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Untuk itulah , Prabowo juga dikenal termasuk yang menganut paham “demokrasi proporsional”, termasuk dalam hal agama. Hal itu ia terapkan dalam bidang kemiliteran. Jika orang non-Muslim hanya 10 persen, maka seyogyanya jumlah jenderal di ABRI/TNI tidak lebih dari 10 persen. Menurut Prabowo, kalau masalah agama ini diabaikan, maka akan terjadi instabilitas di dalam suatu negara. Kasus Vietnam Utara atau Turki jadi bukti akan hal ini.
Dari cerita-cerita Prabowo dan berbagai kalangan dapat disimpulkan, bahwa rencana untuk menjadikan tentara sebagai musuh Islam bukannya isapan jempol belaka. Apalagi bagi aktivis dakwah, kisah-kisah sedih tentang hubungan Islam dengan tentara di tahun-tahun suram itu bukan hal asing lagi.
Cerita-cerita Prabowo tentang skenario membenturkan Islam dengan tentara terbukti sejalan dengan teori Pater Beek, tokoh Katolik Jesuit pendiri CSIS, yang menyatakan bahwa Islam adalah “setan besar” yang harus dihadapkan dengan “setan kecil” yang tidak lain adalah tentara. Cerita tentang Pater Beek ini pernah ditulis jenderal Soemitro dalam bukunya tentang Peristiwa Malari.
Ada lagi cerita Prabowo yang sering dia kemukakan, tentang kehebatan Cina Perantauan. Dalam berbagai pertemuan, ia sering menganjurkan agar membaca buku “Lord Of The Rim” karya Sterling Seagrave. karena begitu gencar mengingatkan kehebatan jaringan Katolik Internasional, Cina Perantauan, dan juga Yahudi, ia diiisukan anti-Katolik, anti Cina, dan anti Yahudi. Ia selalu membantah hal itu dengan mengatakan banyak anggota keluarganya beragama Katolik.
Selama bergaul dengan Prabowo, saya mempunyai kesimpulan, bahwa Prabowo adalah seorang nasionalis yang menginginkan Islam menjadi faktor penting dalam mengendalikan dan mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara. Komitmennya terhadap Islam tidak diragukan. Hanya saja, saya melihat Prabowo masih enggan masuk ke dalam Islam secara kaffah untuk dirinya. Hal itu dia akui sendiri.
Sebagai kawan, saya sering mengingatkan, agar Prabowo tidak tanggung-tanggung menjadi Muslim. Seperti halnya Umar bin Khatab atau Khalid bin Walid di masa Rasulullah. Hal yang sama saya katakan kepada banyak perwira ABRI/TNI. Kalau mau menjadi Islam, masuklah Islam sekalian. Janggan tanggung-tanggung kalau masuk Islam.
Dalam hal-hal yang menyangkut idealisme, saya bertemu dengan Prabowo. Ia menjadi kawan yang menyenangkan. Saya bukan “Politisi tulen” yang hanya mau berkawan dengan seorang selagi dia berkuasa. Bagi saya persahabatan adalah ketulusan dan perjuangan. Saya bisa berkawan dengan siapa saja yang sama-sama menginginkan ditegakkannya kebenaran dan keadilan. Selama saya dan Prabowo berada pada “rel” yang sama, maka akan dapat bertemu jika salah satu menyimpang dari jalan kebenaran, maka otomatis akan berpisah.
Jadi, dalam hal ini, tidak ada fanatisme buta, apalagi salah satu menjadi kaki tangan bagi yang lain. Prabowo adalah aset umat Islam yang perlu di pelihara dan di tingkatkan kemampuannya. Ia seorang yang cerdas dan kaya dengan pengalaman lapangan. Akhirnya semuanya tergantung Prabowo sendiri, bagaimana ia menjadi dirinya dan tidak ragu-ragu menjadi seorang Muslim yang kaffah.
Sumber :
Tekad 6 – 12 Maret 2000.
Memahami Prabowo
Oleh : Sumargono SE, Ketua Pelaksana Harian KISDI
Popularity: 17% [?]









Hmm … saya sendiri sih … nggak anti sama Prabowo … cumaaa … kok koalisinya sama PDIP yah … ? … Tadinya saya berharap … ketika Demokrat main mata dengan PDIP … partaipartai Islam berkoalisi dengan Gerindra … tapi … yaahh … sekarang nggak mungkin lagi … Mungkin di waktu yang akan datang … ???
Saya serupa dengan anda.
katanya tim suksesnya megapro itu theo safei yah … ? … Kalo liat isi ceramahnya (bisa dilihat di : http://groups.yahoo.com/group/salamullah-info/message/523 ) … bukankah dia menganggap prabowo … yang dianggapnya sebagai Islam yang menyusup ke dalam ABRI … Kasian prabowo dong … harus bekerja sama dengan orang yang (nampaknya) memusuhinya …
Entahlah, saya tidak tau apa yang terjadi sekarang. Segalanya serba membingungkan. Tapi mungkin saja Prabowo mau membersihkan dari dalam, apalagi kalau tugas wakil presiden itu diperlebar lagi sehingga menyerupai tugas presiden yang sebenarnya untuk urusan dalam negeri.
Rasa rasa ini adalah batu loncatan prabowo untuk menjadi presiden di pemilu 2014.
Jadi ada dua calon kuat di pemilu 2014 yaitu prabowo dan Hidayat Nurwahid.
Saya rasa itu cukup ideal
semoga. ( tadinya maunya praobowo dan hidayat mencalonkan diri dengan koalisi PKS Gerindra dan PAN )
mari dukung prabowo untuk membangun citra di pemilu 2014.
seperti kepemimpinan untuk masa depan indonesia dalam rangka para calon merebut kursi di Aceh juga akan hanya tinggal 2 kubu (S_B dan J_W)…
Nampaknya J_W lebih kecil mudharatnya daripada S_B.
seperti sih begitu, dari berbagai “promosi” yang digunakan sudah sedikitnya kelihatan….
Leave your response!
Follow wiemasen.com on Facebook
Promote Your Page Too
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru
Calender
Categories
Berita
Blog Kawan Kita
Blog Menarik
Download Site
Forum
Link Dakwah
Link Menarik
Meta
Waktu Sholat
Bendera Pengunjung
Negara Pengunjung
Lokasi Pengunjung
Artikel Populer
Most Commented
Tags