Aqidah

Membahas aqidah yang sahih menurut sunnah.

Bulan Islam

Pahami bagaimana bulan-bulan Islam itu ditentukan.

Ekonomi Islam

Belajar seluk-beluk perbankan Islam.

Politik

Politik dari sudut pandang Islam.

Fiqh

Berbagai macam jawaban fiqh.

Home » Fiqh

Sholat Jamak

Submitted by on November 3, 2012 – 1:44 pm4 Comments
Solat di Pesawat

Solat di Pesawat

Coba bayangkan kalau anda tidak mau solat jamak seperti gambar di atas. Tentu ini akan merepotkan orang lain. Penumpang lain tidak bisa duduk, pesawatpun tidak bisa tinggal landas. Saya tidak menyalahkan mereka, karena memang ada satu mazhab yang tidak mengijinkan solat jamak. Sebenarnya kalau mereka tidak terpaku kepada mazhab itu saja, dengan kata lain fleksibel dengan pendapat-pendapat dari mazhab lainnya, tentu mereka tidak perlu solat di dalam pesawat. Apalagi kalau perjalanannya cuma beberapa jam saja. Sebelum berangkat pun sebenarnya mereka bisa melakukan solat jamak terlebih dahulu.

Selain bermusafir, sholat jamak diizinkan dalam kondisi berikut:

  1. Jamak karena hujan
  2. Jamak karena sakit
  3. Jamak karena hajat dan kesusahan yang timbul

Jamak Karena Hujan

Apa maksudnya ya? Apa kalau hujan lebat diluar rumah, terus kita boleh menjamak sholat? Bukan begitu maksudnya. Ceritanya begini:

Bayangkan kita sedang sholat dzuhur berjamaah di masjid, tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Sampai selesai sholat pun hujan masih lebat juga. Padahal kita berencana untuk sholat ‘ashar di mesjid nantinya. Masalahnya kalau kita berjalan kaki dari rumah ke mesjid, pakaian kita akan basah dan terkena percikan lumpur di jalan. Nah, supaya kita tidak perlu kembali ke mesjid untuk sholat ‘ashar guna menghindari hujan yang sangat lebat, maka imam mesjid boleh mengumumkan untuk sholat jamak taqdim yaitu membawa sholat ashar ke waktu dhuhur. Ketika itulah semua orang di mesjid boleh sholat jamak, walaupun rumah mereka dekat dengan mesjid.

Jamak Karena Sakit

Imam Ahmad berpendapat boleh menjamakkan solat karena sakit. Rasionalnya supaya si sakit tidak dibebani dengan menantikan waktu solat selanjutnya. Dengan demikian si sakit dapat beristirahan dengan tenang.

Didalam kitab mazhab Hanbali yang berjudul Al-Raudhul Murbi’, penulisnya mengatakan, “Dibolehkan jamak karena sakit, karena dikhawatirkan akan menyusahkan dia kalau meninggalkan jamak.” Ini dikarenakan Nabi pernah melakukan jamak tidak dalam keadaan ketakutan dan kehujanan. Dalam laporan lain, “Tidak dalam keadaan ketakutan dan tidak dalam keadaan bermusafir. Ia juga dicatat oleh Muslim dari kata-kata Ibn Abbas, “Tidak terkecuali setelah yang demikian itu kecuali sakit.” Pendapat ini didukung oleh sebagian ulama mazhab Syafie seperti Muzani, Imam Nawawi, Qadhi Hussin, Mutawalli, Rawani, Khattabi dll. Nawawi pula mengatakan, “Pendapat ini kuat!”

Subhanallah! Alangkah indahnya Islam dan alangkah mudahnya Islam apabila ia benar-benar difahami oleh kaum Muslimin. Amalan ini apabila diamalkan dapat menyebabkan umat Islam terus menjaga solat mereka walaupun dalam keadaan uzur di atas tempat tidur rumah sakit ataupun dalam keadaan kritikal yang memerlukan banyak istirahat.

Jamak Karena Hajat (Keadaan yang Mendesak)

Dalam kehidupan seorang Muslim, kadang-kadang mereka berhadapan dengan keadaan darurat sehingga tidak dapat menunaikan solat pada waktunya. Contohnya:

  1. Doktor yang terpaksa melakukan pembedahan selama berjam-jam. Sekiranya beliau meninggalkan tugasnya walaupun sebentar, akan merugikan pesakit.
  2. Orang yang terperangkap dalam kemacetan jalan raya yang menyebabkan dia terpaksa berada di dalam mobilnya berjam-jam lamanya, dan dia juga tidak mampu menghindari dari kemacetan tersebut dengan cara mencari jalan alternatif misalnya.
  3. “Students” di luar negeri yang sedang mengikuti ujian di kelas ataupun menghadiri kelas yang memakan waktu solat Maghrib yang singkat.
  4. Polisi, satpam, pemadam kebakaran, dsb, yang terpaksa mengawal, menjaga dan mengawasi suatu tempat, dimana mereka tidak diizinkan meninggalkan kawasan tersebut.

Ramai Muslim yang memilih mengqadakan solat yang ditinggalkan. Alasan mereka, karena solat tersebut tidak dapat dilakukan pada waktunya, maka ia perlu digantikan pada waktu yang lain. Pemahaman `qada’ ini kadang-kadang membuat ramai Muslim meninggalkan solat tanpa alasan yang kuat. Yang bisa di qadha itu puasa, bukannya sholat.

Sebenarnya ada alternatif yang lebih syari’i dan diakui oleh ramai ulama, yang berdasarkan contoh dari Nabi Muhammad SAW sendiri, yaitu dengan menjamakkan dua solat dalam satu waktu karena keperluan yang sangat mendesak. Pertanyaannya, apakah boleh melakukan jamak semacam itu?

Segelintir daripada ulama mazhab Syafie seperti Abu Ishaq Marozi, Qaffal dan Khattabi, ulama mutaakhirin dari mazhab Ahmad, Asyhab dari mazhab Maliki, Ibn Munzir pengarang buku Al-Ijma, golongan Zahir, mazhab ahli Hadis dan juga Ibn Sirin, berpendapat boleh melakukan jamak karena keperluan yang benar-benar mendesak. Mereka berhujah dengan hadis Ibn Abbas. Nabi SAW berkata seperti berikut:

“Ibn Abbas berkata yang dicatat oleh Muslim, “Nabi Muhammad pernah menjamakkan antara Zuhur dan Asar, dan antara Maghrib dan Isyak di Madinah bukan karena sedang bermusafir dan kehujanan.” Ibn Abbas ditanya, “Mengapa Nabi Muhammad melakukannya?” Dia berkata, “Beliau mau memberi kelapangan (mudah) kepada umatnya.”

Hadis ini dikuatkan pula dengan hadis laporan Ibn Syaqiq: Abdullah bin Syaqiq berkata, “Pada suatu hari Ibn Abbas berpidato kepada kami di Basrah selepas Asar sehingga terbenam matahari dan terbit bintang-bintang. Ini menyebabkan manusia yang hadir berkata, “Solat, solat.” Tetapi dia tetap berpidato lagi. Lalu datang lelaki dari Bani Tamim memperingatkan, “Solat, solat.” Lalu Ibn Abbas berkata, “Apakah engkau mengajar kepadaku sunah? Sungguh tidak berguna kamu!” Kemudian berkata, “Aku melihat Nabi Muhammad menjamakkan solat antara Zuhur dan Asar, Maghrib dan Isyak.”

Daripada catatan Muslim, Abdullah bin Syaqiq berkata, “Penjelasan Ibn Abbas itu tidak memuaskan hatiku. Kemudian aku pergi kepada Abu Hurairah dan menanyakan hal tersebut. Dia membenarkan kata-kata Ibn Abbas.”

Laporan di atas menjelaskan bahwa Ibn Abbas menjamakkan solat dalam keadaan bukan bermusafir, ketakutan ataupun kehujanan. Dalam kasus ini, dia menjamakkan solat sewaktu berada dalam urusan penting, yaitu ketika sedang berpidato. Dia mengetahui apabila pidatonya dihentikan, akan hilanglah kemaslahatannya. Menurutnya, meneruskan pidato itu dianggap hajat yang membenarkan jamak.

Walaupun begitu para ulama yang membenarkan jamak ini memberikan syarat-syarat tertentu:

  1. Tidak dijadikan kebiasaan tanpa ada alasan yang benar-benar mendesak.
  2. Keperluan itu perlu benar-benar mendesak dan tidak dapat dihindari. Kalau ditinggalkan, ia akan menghilangkan maslahat yang lebih besar.
  3. Tidak dijadikan alat bagi mempermainkan agama dan muslihat bagi mereka yang malas mengerjakan solat, ataupun alasan bagi memudahkan urusan agama.

Pendapat yang membolehkan solat jamak karena hajat dikritik di dalam buku Subulus Salam karangan San’ani. Beliau menyebutkan hujah sebahagian ulama yang menolak perbuat jamak karena hajat. Beliau mengatakan jamak yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam hadis Ibn Abbas adalah jamak shuri yaitu pada lahirnya kelihatan seperti jamak, tetapi bukan pada hakikatnya. Contoh: mengerjakan solat Zuhur pada akhir waktu dan apabila selesai maka masuklah waktu Asar. Kemudian bangkit mengerjakan solat Asar pada awal waktu. Ia kelihatan seolah-olah perbuatan jamak antara Zuhur dan Asar.

Hujah ini dijawab oleh golongan yang membolehkan jamak karena hajat, seperti yang dinukilkan oleh Syeikh Mahmud Syaltut dan Mohd Ali Syayis di dalam buku mereka Muqaranatul Mazahib Fil fiqhi. Mereka mengatakan andaian itu silap dan ia perkara yang susah dilakukan karena sukar menentukan akhir waktu Zuhur dan awal waktu Asar. Logikanya, menjamakkan solat adalah kelonggaran. Kalau kita berusaha mencari waktu terakhir Zuhur dan awal Asar, maka itu bukan merupakan kelonggaran lagi, tapi ia telah menjadi beban.

Rukhsah menjamakkan solat karena hajat ini semakin dapat diterima oleh kebanyakan ulama daripada berbagai mazhab yang bersifat terbuka dan kritikan sejak zama dulu hingga sekarang. Berikut adalah komentar sebahagian para ulama muktabar yang bersifat terbuka pada perbuatan jamak karena hajat:

  1. Imam Nawawi berkata, “Segolongan ulama besar membenarkan jamak dalam keadaan tidak bermusafir, asalkan ada keperluan dan tidak dijadikan budaya yang tetap. Demikianlah pendapat Ibn Sirin dan Asyhab dar Ashab Malik. Dilaporkan juga oleh Khathabi dari Qaffal Kabir, kalangan pengikut Syafie.”
  2. Syeikhul Islam bin Taimiyyah berkata, “Dan Mazhab yang memberikan keleluasaan dalam masalah jamak adalah mazhab Imam Ahmad. Beliau membolehkan melakukan jamak karena kesempitan, susah dan kesibukan.”
  3. dll

Kesimpulannya, Islam adalah agama yang indah dan mudah. Sayangnya kemudahan dan juga keringanan yang Allah berikan ini tidak dapat dilihat apabila kita bersifat jahil dan tidak mahu mengambil tahu. Ia juga menjadi lebih kabur apabila ditutupi dengan mentaliti taksub kepada suatu pandangan saja dan tidak berlapang dada dalam menerima perbedaan.

Diringkas dari buku:

Fikah Luar Negara – Mudah Praktik Islam Di Mana-Mana
Mazlee Malik dosen di jurusan Fiqh dan Usul Fiqh, International Islamic University Malaysia
Hamidah Mat dosen di jurusan bahas Arab, International Islamic University Malaysia

Artikel-artikel lainnya

Tips Sholat Qasar
Menyapu Khuf Ketika Berwudhuk
Bolehkah Bersuci Dengan Tissue Toilet?

Tags:

4 Comments »

  • Bang, ada yang kurang… Jamak krn Hujan kok gak ada pembahasannya ?? krn terkait ini juga ada beberapa golongan yang berpendapat beda. Ada yang pendapat hujannya harus deras, atau ada juga yang berpendapat meski rintik2 saja itu sudah merupakan sah jika kita jamak shalat..

    Kemudian… yang shalat di pesawat itu, kenapa juga musti jamak ?? kan bisa aja shalat di pesawat sesuai waktunya, dan sambil duduk di pesawatnya, orang tdk ada yg terganggu, dan pesawat pun langsung take off… :)

  • wiemasen says:

    Sorry telat response-nya. Sibuk hari raya di kampung. Nanti aku bahas sholat jamak hujan.

    Betul Iqbal, bisa saja sholat di pesawat sambil duduk kalau ternyata kita bakalan ketinggalan dua waktu sholat tersebut, misalnya waktu sholat dhuhur dan ashar.

    Sholat jamak itu hadiah dari Allah. Bukan berarti kalau kita melakukan sholat jamak, iman kita kurang. Tapi kita hanya memanfaatkan keringanan yang Allah SWT telah berikan. Dengan demikian kita merasa Islam itu mudah dan tidak memberatkan.

  • dee says:

    mau nanya nih, gimana seandainya kita pelajar di luar negri dan dapet jam kuliah sore-malem yang membuat kita masih belajar selama waktu magrib penuh. boleh di jamak ngga sholatnya? tapi waktu sekolahnya masih setahun kedepan lagi. apa boleh di jamak terus? kan katanya ngga boleh jadi kebiasaan? bingung nih. terimakasih

  • wiemasen says:

    Saya pernah merasakan sekolah di luar negeri yang memakan waktu Maghrib. Pada waktu itu saya belum mengerti hukum jamak ini, jadi saya meninggalkan kelas untuk sholat Maghrib. Paling kurang 15 menit habis untuk menuju tempat sholat dan melaksanakan sholat itu sendiri. Jelas saja, saya selalu ketinggalan pelajaran. Walaupun 15 menit tapi itu cukup berarti. Tapi saya tidak ada pilihan lain, karena saya harus menagmbil subjek itu dan hanya ditawarkan satu kelas saja. Jadi menurut saya tidak mengapa menjamak sholat Maghrib tersebut, walaupun berlangsung selama satu tahun.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.