Benarkah Sri Mulyani Putri Terbaik Bangsa?
Untungnya saya tidak memilih partai politik yang memegang tampuk kekuasaan sekarang, karena saya tahu bahwa partai politik tersebut banyak dipengaruhi oleh mazhab neo-liberal dan Islam liberal. Sayangnya banyak orang memilih seorang pemimpin karena ketampanannya saja, tidak melihat dari orang-orang dibelakang pemimpin tersebut. Sekarang terimalah akibatnya. Hidup semakin susah bagi rakyat kebanyakan, karena mereka menanggung hutang-hutang negara yang terus menumpuk.
Cuplikan berita dari inilah.com.
Selama dua periode menjabat sebagai Mentri Keuangan, prestasi terhebat Sri Mulyani adalah menciptakan pembengkakan utang luar negeri Indonesia.
“Saya sebut Sri Mulyani adalah kader yang sangat mainstream, dia melaksanakan kebijakan perdagangan bebas dengan sangat hebat dengan terobosan reformasi birokrasinya. Itu adalah pekerjaan luar biasa dari agen World Bank seperti Sri Mulyani yang bekerja di Indonesia,” ujar koordinator Institute Global Justice Salamudin Daeng dalam konferensi di kantor WALHI, Jakarta, Jumat (7/5). “Sri Mulyani sebagai alat tukar dengan benefit agar hutang Indonesia bertambah terus,” tegasnya.
Lima tahun kinerja Sri Mulyani sebagai Menkeu menjadi sorotan setelah berencana mundur. Otoritas yang menggawangi kebijakan fiskal itu, dinilai sangat pandai berutang.
Dalam lima tahun terakhir menjabat sebagai Menteri Keuangan, Sri Mulyani telah meningkatkan stock utang Indonesia dari sebelumnya Rp1.275 triliun pada 2003 menjadi Rp1.667 di 2009 lalu. “Sedangkan utang Indonesia kepada Bank Dunia mencapai US$10,1 miliar di 2009,” kata Dani Setiawan, Ketua Koalisi Anti Utang (KAU) kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (7/5).
Angka itu, menurutnya belum ditambah utang baru pada 2010 terutama untuk Development Policy Loan, Infrastructure Development Policy Loan, pembiayaan bantuan operasional sekolah (BOS), pembiayaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM), dan utang untuk perubahan iklim.
“Sri Mulyani juga tidak bisa dipisahkan dari keluarnya berbagai perundangan yang meliberalisasi pengelolaan sumberdaya alam dan aset-aset strategis di Indonesia,” tandasnya.
Hal senada diungkapkan pengamat ekonomi David Sumual. Menurutnya, sepanjang Sri Mulyani menjabat Menteri Keuangan, sejak Desember 2005 hingga akhir 2009, utang negara (Surat Utang Negara/SUN) bertambah Rp345,6 triliun. Angka ini belum termasuk utang baru di 2010 yang hingga detik ini sudah terbit 41% atau Rp80,1 triliun.
Ironisnya, cicilan utang itu dibayar dari pajak rakyat. Di satu sisi utangnya dikorup dan tidak sesuai dengan peruntukannya, di sisi lain pajak rakyat untuk pembayaran utang yang dikorupsi baik melalui mafia hukum dalam tender maupun melalui makelar kasus perpajakan semacam Gayus Tambunan. “Sungguh ironis!” pungkas David.
Cuplikan berita dari mediaumat.com.
Menurut Fuad Bawazier, pengunduran diri Sri Mulyani untuk segera bekerja di Bank Dunia membuktikan bahwa Sri Mulyani sebagai antek Bank Dunia atau IMF dan sekaligus membuktikan yang mengintervensi hukum ternyata bukan saja politisi dalam negeri (penguasa) tapi juga lembaga internasional dengan menarik/menyelamatkan Sri Mulyani dari ancaman hukum skandal Century ke Washington DC.
“Ini semakin menguatkan sinyalemen kita bahwa selama ini Sri Mulyani memang bekerja untuk IMF/Bank Dunia, makanya ketika anak binaannya ini terancam, sang majikan buru-buru menyelamatkannya,” ujarnya kepada mediaumat.com, Kamis (6/5) malam di Jakarta.
Arim Nasim menyanggah dengan tegas bila dikatakan bahwa Sri Mulyani sebagai putri bangsa terbaik dalam menangani krisis keuangan. “Menurut siapa? kalau menurut orang pro kapitalis/neoliberal dan agen-agennya yang didukung oleh media masa… pasti ia akan dianggap putri terbaik bangsa karena semua kebijakan yang dia lakukan sangat mendukung kepentingan para kapitalis dengan menjalankan model konsesus washington,” ujarnya kepada mediaumat.com.
Arim pun menyatakan bahwa sebelum menjadi Menteri Keuangan, Sri Mulyani adalah Konsultan USaid dan Direktur IMF, sehingga ketika ia menjabat jadi Menteri semua kebijakannya sangat pro liberal. Maka tidak aneh, ketika pertama kali diangkat jadi Menteri Ekuin/Bappenas maka statement yang pertama kali Sri Mulyani ucapkan adalah subsidi membebani APBN sehingga harus dikurangi, kemudian ketika ia diangkat menjadi Menteri Keuangan- disaat sebagian besar ekonom yang sadar menyatakan bahaya utang luar negeri dengan neoliberalnya- ia menyatakan bahwa utang luar negeri merupakan instrumen untuk mensejahterakan rakyat.
“Ternyata semua kebijaknnya bukan menyelesaikan krisis tapi malah memperparah krisis di negeri ini, terlebih lagi dengan terbongkarnya kasus Century dan mafia pajak semuanya menyengsarakan rakyat, termasuk juga kebijakan remunerisasi yang menaikkan gaji departemen keuangan,” papar Arim Nasim.
Arim pun menegaskan bahwa Bank Dunia adalah salah satu alat kapitalis untuk menjajah Indonesia melalui kebijakan ekonomi dan keuangan. Sedangkan aktor pelaksana di Indonesia adalah mereka yang tergabung dalam Mafia Berkeley.
Popularity: 3% [?]











Leave your response!