Aqidah

Membahas aqidah yang sahih menurut sunnah.

Bulan Islam

Pahami bagaimana bulan-bulan Islam itu ditentukan.

Ekonomi Islam

Belajar seluk-beluk perbankan Islam.

Politik

Politik dari sudut pandang Islam.

Fiqh

Berbagai macam jawaban fiqh.

Home » Sistem Masyarakat Islam

Benarkah Tugas Istri Itu Mengurus Rumah Tangga?

Submitted by on November 14, 2012 – 2:08 pm61 Comments

Sudah menjadi kebiasaan masyarakat untuk menganggap kerjaan istri itu memasak, mendidik anak-anak, membersihkan rumah, dan melayani suami. Istri yang tidak mau melakukan salah satu kerjaan tersebut dianggap istri yang tidak berkompeten dan tidak layak dianggap sebagai istri yang ideal. Suamipun terkadang tidak mau menerima kekurangan istri tersebut sehingga sering memarahi, menyindir bahkan sampai memukul karena tidak puas dengan pekerjaan istri di rumah. Tidak heranlah kalau kaum wanita sekarang ini menganggap pekerjaan sebagai ibu rumah tungga adalah pekerjaan rendahan karena memang banyak suami yang memperlakukan istrinya seperti babu.

Bayangkan istrinya disuruh kerja dari pagi sampai sore: membersihkan rumah, mengurus anak-anak dan malamnya masih mengurut  suaminya lagi. Bila makanan istri tidak enak pada suatu hari, suami bisa marah besar. Bila istri lupa menyetrika baju kerja suaminya, bisa membuahkan kata-kata sinis terhadap istrinya. Tambahan lagi, tanggung jawab pendidikan anak-anak yang diserahkan secara keseluruhan kepada istrinya. Sehingga ketika prestasi belajar anaknya menurun, lagi-lagi istrinya yang kena marah.

Hak dan Kewajiban Suami Istri

Bagi yang belum menikah atau merencanakan untuk menikah, tolong perlakukan istri anda dengan baik. Kenapa begitu? Karena sebenarnya tugas isteri hanya tinggal buka mulut dan suami yang berkewajiban menyuapi makanan ke mulut isterinya. Tidak ada kewajiban isteri untuk belanja bahan mentah, memasak dan mengolah hingga menghidangkannya. Semua itu pada dasarnya kewajiban asasi seorang suami. Seandainya suami tidak mampu melakukannya sendiri, tetap saja pada dasarnya tidak ada kewajiban bagi isteri untuk melaksanakannya. Kalau perlu suami harus menyewa pembantu atau pelayan untuk mengurus makan dan urusan dapur.

Bahkan memberi nafkah kepada anak juga bukan kewajiban isteri. Suami itulah yang punya kewajiban  memberi nafkah kepada anak-anaknya. Jangan heran kalau memberi air susu ibu juga bukanlah kewajiban isteri. Tetapi kewajiban itu pada dasarnya ada pada suami. Kalau perlu, suami mengeluarkan upah kepada isterinya untuk menyusui anaknya sendiri.

Itulah hak dan kewajiban suami istri kalau dilihat dari sudut hitam putih saja. Masalah ini kalau tidak dijelaskan dengan sempurna akan menimbulkan salah paham karena idenya sama dengan yang di bawa oleh kelompok Islam Liberal. Coba perhatikan apa yang Islam Liberal katakan:

Seorang Ibu hanya wajib melakukan hal-hal yang sifatnya kodrati seperti mengandung dan melahirkan. Sedangkan hal-hal yang bersifat diluar qodrati itu dapat dilakukan oleh seorang Bapak. Seperti mengasuh, menyusui (dapat diganti dengan botol), membimbing, merawat dan membesarkan, memberi makan dan minum dan menjaga keselamatan keluarga. ( Isu-Isu Gender dalam Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah,  hal. 42-43).

Apa yang kaum liberal itu inginkan adalah suami tinggal di rumah untuk mengasuh anak dan mengurus rumah tangga, sedangkan si istri bekerja di luar rumah. Inilah yang dinamakan emansipasi wanita kata mereka. Sebaliknya menurut saya ini dinamakan Queen Control. Apa yang dituntut dalam agama Islam bukan begitu.

Hubungan Dari Sisi Moral, Etika dan Hubungan Sosial

Selain dilihat dari sisi hitam putih, kita juga patut melihat dari sisi moral, etika dan hubungan sosial, karena ada sisi-sisi lain seperti rasa cinta, saling memiliki, saling tolong, saling merelakan hak dan saling punya keinginan untuk membahagiakan pasangannya.

Sehingga seorang isteri yang pada dasarnya tidak punya kewajiban atas semua hal itu, dengan rela dan ikhlas melayani suaminya, belanja untuk suami, masak untuk suami, menghidangkan makan di meja makan untuk suami, bahkan menyuapi makan untuk suami kalau perlu. Semua dilakukannnya semata-mata karena cinta dan sayangnya kepada suami. Dengan semua hal itu, tentunya isteri akan menerima pahala yang besar dari apa yang dikerjakannya. Karena dengan bantuannya itu, suami akan menjadi senang dan ridha kepadanya.

Maka pasangan itu akan memanen kebaikan dan pahala dari Allah SWT. Suami mendapat pahala karena sudah melaksanakan kewajibannya, yaitu memberi hartanya untuk nafkah isterinya. Isteri mendapat pahala karena membantu meringankan beban suami. Meski hukumnya tidak wajib.

Itulah hubungan cinta antara suami dan isteri, yang jauh melebihi sekedar hubungan hak dan kewajiban. Tentu saja ketika seorang isteri mengerjakan hal-hal yang pada dasarnya menjadi kewajiban suami, maka wajar bila suami mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan yang tulus.

Jadi kalau istri anda memasak makanan yang tidak enak, lupa menggosok baju kerja anda, lupa membayar tagihan listrik, tidak tahu bagaimana mengajar matematik kepada anak anda, maka anda tidak anda hak untuk memarahinya. Kenapa begitu? Karena itu semua sebenarnya adalah tugas suami yang dikerjakan oleh istri anda secara sukarela.

Istri Tidak Berkewajiban Menafkahi Anak-Anak Yang Ditinggalkan Oleh Suaminya

Bahkan kalau si suami meninggalpun, tanggung jawab menafkahi anak-anak bukan urusan si istri. Tapi semua itu adalah tanggung jawab para saudara dari pihak suami yang masuk dalam kriteria ahli waris. Bila suami yang mati itu masih ada maka ayahnya itu yang menanggung nafkah para cucunya. Sedangkan pihak istri secara hakikatnya tidak menanggung nafkah buat anak-anaknya.

Para ahli waris suami itu berhak atas harta warisan yang ditinggalkan bila memang yang meninggal itu memiliki sejumlah harta. Dan sebaliknya, para ahli waris itu harus menanggung hutang si mayit bila matinya meninggalkan hutang. Termasuk bila meninggalkan tanggungan anak yatim. Jadi disinilah keadilan Islam.

Walaupun si istri kemudian bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, tapi secara hakikatnya, dia tetap tidak diwajibkan untuk membiayai anak-anaknya sendiri. Tapi bila sebagai ibu ingin memberikan nafkah pada anaknya, dia akan mendapat pahala sunnah.

Siapa Yang Menafkahi Istri Apabila Telah Menjadi Janda?

Pada saat sang wanita menikah, tanggung jawab penghidupannya ada di tangan suami. Tetapi jika ia menjadi janda, ia kembali menjadi tanggung jawab ayah dan saudara laki-lakinya. Dan bila tak ada seorang pun yang bisa menanggungnya, maka negaralah yang wajib memikirkannya. Itulah sebabnya, dalam Islam tidak ada pemisahan antara negara dan agama.

Adakah Harta Gono-Gini Dalam Islam?

Harta gono-gini (istilah Jawa), yaitu harta milik bersama suami istri yang didapat dari hasil gaji keduanya selama setelah pernikahan, tak ada dalam Islam. Bila istri berpenghasilan, maka bukan lantas milik bersama, tetapi tetap jadi haknya pribadi. Mengenai kerelaan istri untuk memberikan hartanya kepada suami, itu masalah lain, dan dinilai sebagai sedekah.

Apabila suatu waktu terjadi perceraian, maka harta pribadi istri tetap menjadi haknya. Kalaupun ada harta gono-gini, maka aturan pembagiannya fifty-fifty yang lazim digunakan orang adalah salah. Menurut Islam, harta istri tetap miliknya, tak ada hak suami atasnya.

Harta Istri

Harta isteri adalah harta milik isteri, baik yang dimiliki sebelum menikah atau pun setelah menikah. Harta isteri setelah menikah yang terutama adalah dari suami dalam bentuk nafaqah (nafkah), selain juga mungkin bila isteri itu bekerja atau melakukan usaha yang bersifat bisnis.

Khusus masalah nafkah, sebenarnya nafkah sendiri merupakan kewajiban suami dalam bentuk harta benda untuk diberikan kepada isteri. Segala keperluan hidup isteri mulai dari makanan, pakaian dan tempat tinggal, menjadi tanggungan suami. Dengan adanya nafkah inilah kemudian seorang suami memiliki posisi qawam (pemimpin) bagi isterinya. Kalau suami tidak lagi bekerja dan digantikan oleh istrinya, maka si suami kehilangan posisi sebagai pemimpin bagi istrinya.

Namun yang biasa terjadi, sebagian kalangan beranggapan bahwa nafkah suami kepada isteri adalah biaya kehidupan rumah tangga saja. Padahal kalau kita kembalikan kepada aturan asalnya, yang namanya nafkah itu merupakan ‘gaji’ atau honor dari seorang suami kepada isterinya. Adapun keperluan rumah tangga, baik untuk makan, pakaian, rumah, listrik, air, sampah dan semuanya, sebenarnya tidak termasuk nafkah suami kepada isteri. Karena kewajiban mengeluarkan semua biaya rumah tangga itu bukan kewajiban isteri, melainkan kewajiban suami.

Kalau suami menitipkan amanah kepada isterinya untuk membayarkan semua biaya itu, boleh-boleh saja. Tetapi tetap saja semua biaya itu belum bisa dikatakan sebagai nafkah buat isteri. Sebab yang namanya nafkah buat isteri adalah harta yang sepenuhnya menjadi milik isteri. Nafkah itu ‘bersih’ menjadi hak isteri, di luar biaya makan, pakaian, bayar sewa rumah dan semua keperluan sebuah rumah tangga.

Kalau dipikir-pikir, seorang perempuan yang kita nikahi itu, sejak kecil telah dibiayai oleh kedua orang tuanya. Pastilah orang tua itu sudah mengeluarkan biaya yang sangat besar sampai anak perawannya siap dinikahi. Lalu tiba-tiba kita datang melamar si anak perawan itu begitu saja, bahkan kadang emas kawinnya cuma seperangkat alat sholat tidak lebih dari nilai seratus ribu rupiah.

Sudah begitu, dia diwajibkan mengerjakan semua pekerjaan kasar layaknya seorang pembantu rumah tangga. Mulai dari subuh sudah bangun dan memulai semua kegiatan, urusan anak-anak kita serahkan kepada mereka semua, sampai urusan atap rumah bocor. Sudah lelah bekerja seharian,  malamnya masih pula ‘dipakai’ oleh suaminya.

Jadi sebenarnya wajar dan masuk akal kalau untuk isteri ada nafkah eksklusif di mana mereka dapat hak atas ‘honor’ atau gaji dari semua jasa yang sudah mereka lakukan sehari-hari. Uang itu sepenuhnya milik isteri dan suami tidak boleh meminta dari uang itu untuk bayar listrik, sewa rumah, uang sekolah anak, atau keperluan lainnya.

Dan kalau isteri itu pandai menabung, anggaplah tiap bulan isteri menerima ‘gaji’ sebesar sejuta perak yang utuh tidak diotak-atik, maka pada usia 20 tahun perkawinan, isteri sudah punya harta yang lumayan 20 x 12 = 240 juta rupiah.

Lumayan kan?

Nah harta itu milik isteri 100%, karena itu adalah nafkah dari suami. Kalau suami meninggal dunia dan ada pembagian harta warisan, harta itu tidak boleh ikut dibagi waris. Karena harta itu bukan harta milik suami, tapi harta milik isteri sepenuhnya. Bahkan isteri malah mendapat bagian harta dari milik almarhum suaminya melalui pembagian waris.

Sumber:

Artikel tanya jawab yang pernah diurus oleh ustadz Ahmad Sarwat, Lc di www.eramuslim.com yang berjudul:

1. Harta Isteri, yang Manakah?
2. Hukum Mawaris dan Sistem Keluarga Dalam Islam
3. Benarkah Kewajiban Suami Mengurus Rumah Tangga?

dan dari http://www.syariahonline.com

1. Suami wafat, siapa bertanggung jawab nafkah anak-anaknya?

Artikel-artikel lainnya

Benarkah Tugas Istri Mengurus Rumah Tangga?
Development of the Concept of Women’s Work
Tanggung Jawab Nafkah Anak Yatim
Perlukah Wanita Bekerja?

Tags: ,

61 Comments »

  • sofi says:

    Alhamdulillah, selama ini saya mengerjakan smua pekerjaan rumah sendiri, tapi terkadang saya lelah, bahkan pernah jatuh sakit, sering bertanya dalam hati, bolehkan ijin sakit dari pekerjaan rumah sampai saya sembuh, setelah membaca artikel ini smoga bisa membuka wacana baru buat suami, bahwa saya bukan robot…

  • wiemasen says:

    Alhamdulillah telah mendapat manfaat dari tulisan ini mbak Sufi. Tujuan saya bukan membuat istri menentang para suami, tapi lebih kepada memberi pemahaman kepada sang suami agar tidak memperlakukan sang istri sebagai “robot” ataupun pembantu.

  • fenni dastri says:

    Saya mau bertanya: bila istri bekerja dan memenuhi semua kebutuhan rumah tangga, suami tidak memberi nafkah lahir sudah 8 tahun, apa hak suami atas istrinya! Bolehkah melarang istri bekerja, tolong sebutkan dalil islamnya! Saya mgk paham sedikit tentang artikel di atas, tp itulah istri yg telah dinikahi, seakan2 tugas RT adalah urusan istri. Terima kasih

  • wiemasen says:

    Wah saya tidak berani mengeluarkan fatwa bu.
    Tapi menurut saya, suami yang tidak menafkahi keluarga lagi, layak untuk diceraikan.
    Karena tugas suami adalah menafkahi keluarganya, bukan sang istri.
    Suami boleh melarang istrinya bekerja. Tapi dengan kondisi seperti ibu, menyebabkan ibu semakin terzalimi.
    Itu pendapat saya. Ibu bisa bertanya kepada yang lebih mumpuni lagi.

  • hendry says:

    Bagus tulisannya… Tp bagi org yg berpandangam sempit, tafsirannya bs berbeda, apalagi td si “wiemasen blg si suami layak utk diceraikan”. Pikiran sempit bkn??? Mudah mgatakan cerai, tp dampaknya luarbiasa, kpd anak2, pandangan, dan mrasa bebas. Itu dlm artisempit. Tulisannya bgus tp smoga tdk mmbuat prceraian brtmbh. Intinya… Adanya hub saling mghargai, mghormati, pgrtian, sadar diri, tanggung jwb, ikhlas… Ingat pd saat mnikah kt komitmen siap kaya-miskin, siap bahagia- menderita, siap sehat-sakit, dijalani brsama utk saling mgingatkan. Prnikahan bknlah tuntutan kpd msing2 org, mlainkan memiliki kwajiban dibungkus tenggang rs atas dasar cinta dan kasih syg.

  • hendry says:

    Bahaya… Salah tafsir malah menambah angka perceraian, silahkan dicek, angka kasus gugatan dari wanita mbludak, janda makin banyak, anak tdk mnyukai prceraian, krn mrusak mental. Bs mnambah ego wanita utk mengaminkan angka prceraian yg tggi. Wanita menggunakan perasaannya ktimbang unsur logis. Tp bkn brarti lelaki tdk memiliki prasaan. Intinya kedua pasang manusia hrs ikhlas dan komitmen, saling bantu membantu. Cinta dan ikhlas itu tdk mengukur tp seberapa byk memberi. Jika blum mndptkan apa yg diharapkan, mgkn itu adlh ujian… Sabar dan lakukan prubahan. Bahaya salah tafsir!! Merugikan perempuan itu sendiri. Laki2 cerai gmpang aja cr lagi. Wanita cerai blum tntu gmpg nikah lagi. Lebi kasihan anak2x. Cerai adalah jln trakhir, pake logika bkn pake perasaan. Celaka 12 anak2x!! Tmbh dkt akhir zaman…

  • wiemasen says:

    Hendry. Tidak ada yang salah tafsir. Dalam kasus bu Fenni, suami tidak memberi nafkah selama 8 tahun. Apa fungsi suami kalau gitu. Daripada sengsara terus, lebih baik cerai saja. Tuh bu Fenni mampu untuk mandiri. Cerai bukan sesuatu yang memalukan atau hina. Itu pendapat saya, bukan fatwa.

  • Amel says:

    Subhanallah..tadinya saya hanya mencari tulisan untuk pengurang rasa sedih karena saya merasa suami abai terhadap kewajibannya, lebih dari 3 tahun kami menikah. Suami memang menuntut saya untuk berkarir setinggi-tingginya, mendapat penghasilan sebesar-besarnya agar rumah tangga kami makmur. Beliau memasang target untuk mobil,rumah, dan kondisi finansial yang harus kami capai. Setelah menikah, saya merasa tidak akan kuat dengan mengejar karir dan menjalankan tugas rumah tangga yang sempurna, namun suami merasa saya harus lebih agresif dan optimalkan peluang. Suami pun mematok biaya-biaya yang harus saya ikut tanggung, seperti angsuran mobil, operasional rumah tangga, bahkan dia menuntut saya ikut menanggung biaya anak bawaannya. Semasa gadis, saya terbiasa bersedekah, membiayai sekolah anak tetangga yang sangat miskin namun pintar, juga menyisihkan uang untuk zakat. PAda akhirnya saya harus alihkan ke adik karena suami melarang saya ‘buang-buang uang’. KAta beliau, lebih baik uang itu digunakan untuk ke salon atau beli baju yang bisa menunjang penampilan yang lebih profesional agar karir lebih bagus! Saya banyak menangis karena hati saya terasa dekat dengan tetangga2 dan orang sekitar yang miskin. Tapi suami tidak mau peduli. Pun uang belanja makankami tidak saya dapatkan dari suami karena beliau selalu bilang: KAmu kan bisa kerja, punya uang. Ngapain juga saya kasih”. Sekarang Saya kelelahan, fisik dan mental.
    Tulisan anda membuat saya lebih tenang. Meski saya belum ingin mengambil keputusan cerai walau suami abai berikan nafkah lahir dan batin karena beliau diabetes parah dan belum ada anak dari perkawinan kami, setidaknya saya jadi tahu, posisi perempuan memang dimuliakan dalam Islam. Terima kasih untuk pencerahannya.

  • Deb says:

    Pak wiemasen,pernahkah anda membaca surat anisa ayat 4? 1. Dalil Al-Quran
    Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum
    wanita, oleh karena Allah telah melebihkan
    sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang
    lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki)
    telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS.
    AnNisa’ : 34)
    Wajar saja istri melaksanakan pekerjaan rumah tangga.anda tau betapa letihnya suami bekerja.para suami tidak melarang istri untuk bekerja,sepanjang tidak menggangu kewajibannya sebagai istri.
    Yang perlu anda perhatikan,
    Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan
    suasana mawaddah dan rahmah. (Ar-Rum: 21)
    Dan juga Hendaknya saling mempercayai dan memahami
    sifat masing-masing pasangannya. (An-Nisa’: 19 – Al-
    Hujuraat: 10)
    ,Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang
    harmonis. (An-Nisa’: 19)
    ,Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan.

    Jadi kalau anda ingin membuat artikel blog,saya harap anda lebih banyak membaca hadis dan surt alquran.jangan memandang sebelah mata,pro ke istri saja. trimakasih.


    [wiemasen.com] Kewajiban suami atas istrinya adl memberinya nafkah lahir & batin. Sedangkan istri kpd suami menurut pendapat para fuqaha hanya sebatas memberikan pelayanan secara seksual. Sedangkan memasak, mencuci pakaian, menata mengatur & membersihkan rumah, pd dasarnya adl kewajiban suami, bukan kewajiban seorang istri.

    Dalam syariah Islam yg berkewajiban memasak & mencuci baju memang bukan istri, tapi suami. Karena semua itu bagian dari nafkah yg wajib diberikan suami kpd istri. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala :

    “Kaum laki-laki itu adl pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yg lain (wanita), & karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (Al Qur’an Surat: An-Nisa’ : 34)

    Pendapat 5 Mazhab Fiqih

    Namun apa yg saya sampaikan itu tdk lain merupakan kesimpulan dari para ulama besar, levelnya sampai mujtahid mutlak. Dan kalau kita telusuri dalam kitab-kitab fiqih mereka, sangat menarik.

    Ternyata 4 mazhab besar plus satu mazhab lagi yaitu mazhab Dzahihiri semua sepakat mengatakan bahwa para istri pd hakikatnya tdk punya kewajiban utk berkhidmat kpd suaminya.

    Mazhab al-Hanafi
    Al-Imam Al-Kasani dalam kitab Al-Badai’ menyebutkan : Seandainya suami pulang bawa bahan pangan yg masih harus dimasak & diolah, lalu istrinya enggan unutk memasak & mengolahnya, maka istri itu tdk boleh dipaksa. Suaminya diperintahkan utk pulang membaca makanan yg siap santap.

    Di dalam kitab Al-Fatawa Al-Hindiyah fi Fiqhil Hanafiyah disebutkan : Seandainya seorang istri berkata,”Saya tdk mau masak & membuat roti“, maka istri itu tdk boleh dipaksa utk melakukannya. Dan suami harus memberinya makanan siap santan, atau menyediakan pembantu utk memasak makanan.

    Mazhab Maliki
    Di dalam kitab Asy-syarhul Kabir oleh Ad-Dardir, ada disebutkan : wajib atas suami berkhidmat (melayani) istrinya. Meski suami memiliki keluasan rejeki sementara istrinya punya kemampuan utk berkhidmat, namun tetap kewajiban istri bukan berkhidmat. Suami adl pihak yg wajib berkhidmat. Maka wajib atas suami utk menyediakan pembantu buat istrinya.

    Mazhab As-Syafi’i
    Di dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab karya Abu Ishaq Asy-Syirazi rahimahullah, ada disebutkan : Tidak wajib atas istri berkhidmat utk membuat roti, memasak, mencuci & bentuk khidmat lainnya, karena yg ditetapkan (dalam pernikahan) adl kewajiban utk memberi pelayanan seksual (istimta’), sedangkan pelayanan lainnya tdk termasuk kewajiban.

    Mazhab Hanabilah
    Seorang istri tdk diwajibkan utk berkhidmat kpd suaminya, baik berupa mengadoni bahan makanan, membuat roti, memasak, & yg sejenisnya, termasuk menyapu rumah, menimba air di sumur. Ini merupakan nash Imam Ahmad rahimahullah. Karena aqadnya hanya kewajiban pelayanan seksual. Maka pelayanan dalam bentuk lain tdk wajib dilakukan oleh istri, seperti memberi minum kuda atau memanen tanamannya.

    Mazhab Az-Zhahiri
    Dalam mazhab yg dipelopori oleh Daud Adz-Dzahiri ini, kita juga menemukan pendapat para ulamanya yg tegas menyatakan bahwa tdk ada kewajiban bagi istri utk mengadoni, membuat roti, memasak & khidmat lain yg sejenisnya, walau pun suaminya anak khalifah.

    Suaminya itu tetap wajib menyediakan orang yg bisa menyiapkan bagi istrinya makanan & minuman yg siap santap, baik utk makan pagi maupun makan malam. Serta wajib menyediakan pelayan (pembantu) yg bekerja menyapu & menyiapkan tempat tidur.

    Pendapat Yang Berbeda

    Namun kalau kita baca kitab Fiqih Kontemporer Dr. Yusuf Al-Qaradawi, beliau agak kurang setuju dgn pendapat jumhur ulama ini. Beliau cenderung tetap mengatakan bahwa wanita wajib berkihdmat di luar urusan seks kpd suaminya.

    Dalam pandangan beliau, wanita wajib memasak, menyapu, mengepel & membersihkan rumah. Karena semua itu adl imbal balik dari nafkah yg diberikan suami kpd mereka.

    Kita bisa mafhum dgn pendapat Syeikh yg tinggal di Doha Qatar ini, namun satu hal yg juga jangan dilupakan, beliau tetap mewajibkan suami memberi nafkah kpd istrinya, di luar urusan kepentingan rumah tangga.

    Jadi para istri harus digaji dgn nilai yg pasti oleh suaminya. Karena Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman bahwa suami itu memberi nafkah kpd istrinya. Dan memberi nafkah itu artinya bukan sekedar membiayai keperluan rumah tangga, tapi lbh dari itu, para suami harus ‘menggaji’ para istri. Dan uang gaji itu harus di luar semua biaya kebutuhan rumah tangga.

    Yang sering kali terjadi memang aneh, suami menyerahkan gajinya kpd istri, lalu semua kewajiban suami harus dibayarkan istri dari gaji itu. Kalau masih ada sisanya, tetap saja itu bukan lantas jdi hak istri. Dan lbh celaka, kalau kurang, istri yg harus berpikir tujuh keliling utk mengatasinya.

    Jadi pendapat Syeikh Al-Qaradawi itu bisa saja kita terima, asalkan istri juga harus dpt ‘jatah gaji’ yg pasti dari suami, di luar urusan kebutuhan rumah tangga.

    Tugas Suami Istri di Masa Salaf

    Kita memang tdk menemukan ayat yg bunyinya bahwa yg wajib masak adl para suami, yg wajib mencuci pakaian, menjemur, menyetrika, melipat baju adl para suami.

    Kita juga tdk akan menemukan hadits yg bunyinya bahwa kewajiban masak itu ada di tangan suami. Kita tdk akan menemukan aturan seperti itu secara eksplisit.

    Yang kita temukan adl contoh real dari kehidupan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam & juga para shahabat. Sayangnya, memang tdk ada dalil yg bersifat eksplisit. Semua dalil bisa ditarik kesimpulannya dgn cara yg berbeda.

    Misalnya tentang Fatimah puteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg bekerja tanpa pembantu. Sering kali kisah ini dijadikan hujjah kalangan yg mewajibkan wanita bekerja berkhidmat kpd suaminya. Namun ada byk kajian menarik tentang kisah ini & tdk semata-mata begitu saja bisa dijadikan dasar kewajiban wanita bekerja utk suaminya.

    Sebaliknya, Asma’ binti Abu Bakar justru diberi pembantu rumah tangga. Dalam hal ini, suami Asma’ memang tdk mampu menyediakan pembantu, & oleh kebaikan sang mertua, Abu Bakar, kewajiban suami itu ditangani oleh sang pembantu. Asma’ memang wanita darah biru dari kalangan Bani Quraisy.

    Dan ada juga kisah lain, yaitu kisah Saad bin Amir radhiyallahu ‘anhu, pria yg diangkat oleh Khalifah Umar menjadi gubernur di kota Himsh. Sang gubernur ketika di komplain penduduk Himsh gara-gara sering telat ngantor, beralasan bahwa dirinya tdk punya pembantu. Tidak ada orang yg bisa disuruh utk memasak buat istrinya, atau mencuci baju istrinya.

    Perempuan Dalam Islam Tidak Butuh Gerakan Pembebasan

    Kalau kita dalami kajian ini dgn benar, ternyata Islam sangat memberikan ruang kpd wanita utk bisa menikmati hidupnya. Sehingga tdk ada alasan buat para wanita muslimah utk latah ikut-ikutan dgn gerakan wanita di barat, yg masih primitif karena hak-hak wanita disana masih saja dikekang.

    Islam sudah sejak 14 abad yg lalu memposisikan istri sbg makhuk yg harus dihargai, diberi, dimanjakan bahkan digaji. Seorang istri di rumah bukan pembantu yg bisa disuruh-suruh seenaknya. Mereka juga bukan jongos yg kerjanya apa saja mulai dari masak, bersih-bersih, mencuci, menyetrika, mengepel, mengantar anak ke sekolah, bekerja dari mata melek di pagi hari, terus tdk berhenti bekerja sampai larut malam, itu pun masih harus melayani suami di ranjang, saat badannya sudah kelelahan.

    Kalau pun saat ini ibu-ibu melakukannya, niatkan ibadah & jangan lupa, lakukan dgn ikhlas. Walau sebenarnya itu bukan kewajiban. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan pahala yg teramat besar buat para ibu sekalian. Dan semoga suami-suami ibu bisa lbh byk lagi mengaji & belajar agama Islam.

    Oleh: H. Ahmad Sarwat, Lc

  • Deb says:

    Tolong kalau mau mempublikasikan sebuah artikel di baca lagi,pelajaran untuk anda bung.


    [wiemasen.com] Kewajiban suami atas istrinya adl memberinya nafkah lahir & batin. Sedangkan istri kpd suami menurut pendapat para fuqaha hanya sebatas memberikan pelayanan secara seksual. Sedangkan memasak, mencuci pakaian, menata mengatur & membersihkan rumah, pd dasarnya adl kewajiban suami, bukan kewajiban seorang istri.

    Dalam syariah Islam yg berkewajiban memasak & mencuci baju memang bukan istri, tapi suami. Karena semua itu bagian dari nafkah yg wajib diberikan suami kpd istri. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala :

    “Kaum laki-laki itu adl pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yg lain (wanita), & karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (Al Qur’an Surat: An-Nisa’ : 34)

    Pendapat 5 Mazhab Fiqih

    Namun apa yg saya sampaikan itu tdk lain merupakan kesimpulan dari para ulama besar, levelnya sampai mujtahid mutlak. Dan kalau kita telusuri dalam kitab-kitab fiqih mereka, sangat menarik.

    Ternyata 4 mazhab besar plus satu mazhab lagi yaitu mazhab Dzahihiri semua sepakat mengatakan bahwa para istri pd hakikatnya tdk punya kewajiban utk berkhidmat kpd suaminya.

    Mazhab al-Hanafi
    Al-Imam Al-Kasani dalam kitab Al-Badai’ menyebutkan : Seandainya suami pulang bawa bahan pangan yg masih harus dimasak & diolah, lalu istrinya enggan unutk memasak & mengolahnya, maka istri itu tdk boleh dipaksa. Suaminya diperintahkan utk pulang membaca makanan yg siap santap.

    Di dalam kitab Al-Fatawa Al-Hindiyah fi Fiqhil Hanafiyah disebutkan : Seandainya seorang istri berkata,”Saya tdk mau masak & membuat roti“, maka istri itu tdk boleh dipaksa utk melakukannya. Dan suami harus memberinya makanan siap santan, atau menyediakan pembantu utk memasak makanan.

    Mazhab Maliki
    Di dalam kitab Asy-syarhul Kabir oleh Ad-Dardir, ada disebutkan : wajib atas suami berkhidmat (melayani) istrinya. Meski suami memiliki keluasan rejeki sementara istrinya punya kemampuan utk berkhidmat, namun tetap kewajiban istri bukan berkhidmat. Suami adl pihak yg wajib berkhidmat. Maka wajib atas suami utk menyediakan pembantu buat istrinya.

    Mazhab As-Syafi’i
    Di dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab karya Abu Ishaq Asy-Syirazi rahimahullah, ada disebutkan : Tidak wajib atas istri berkhidmat utk membuat roti, memasak, mencuci & bentuk khidmat lainnya, karena yg ditetapkan (dalam pernikahan) adl kewajiban utk memberi pelayanan seksual (istimta’), sedangkan pelayanan lainnya tdk termasuk kewajiban.

    Mazhab Hanabilah
    Seorang istri tdk diwajibkan utk berkhidmat kpd suaminya, baik berupa mengadoni bahan makanan, membuat roti, memasak, & yg sejenisnya, termasuk menyapu rumah, menimba air di sumur. Ini merupakan nash Imam Ahmad rahimahullah. Karena aqadnya hanya kewajiban pelayanan seksual. Maka pelayanan dalam bentuk lain tdk wajib dilakukan oleh istri, seperti memberi minum kuda atau memanen tanamannya.

    Mazhab Az-Zhahiri
    Dalam mazhab yg dipelopori oleh Daud Adz-Dzahiri ini, kita juga menemukan pendapat para ulamanya yg tegas menyatakan bahwa tdk ada kewajiban bagi istri utk mengadoni, membuat roti, memasak & khidmat lain yg sejenisnya, walau pun suaminya anak khalifah.

    Suaminya itu tetap wajib menyediakan orang yg bisa menyiapkan bagi istrinya makanan & minuman yg siap santap, baik utk makan pagi maupun makan malam. Serta wajib menyediakan pelayan (pembantu) yg bekerja menyapu & menyiapkan tempat tidur.

    Pendapat Yang Berbeda

    Namun kalau kita baca kitab Fiqih Kontemporer Dr. Yusuf Al-Qaradawi, beliau agak kurang setuju dgn pendapat jumhur ulama ini. Beliau cenderung tetap mengatakan bahwa wanita wajib berkihdmat di luar urusan seks kpd suaminya.

    Dalam pandangan beliau, wanita wajib memasak, menyapu, mengepel & membersihkan rumah. Karena semua itu adl imbal balik dari nafkah yg diberikan suami kpd mereka.

    Kita bisa mafhum dgn pendapat Syeikh yg tinggal di Doha Qatar ini, namun satu hal yg juga jangan dilupakan, beliau tetap mewajibkan suami memberi nafkah kpd istrinya, di luar urusan kepentingan rumah tangga.

    Jadi para istri harus digaji dgn nilai yg pasti oleh suaminya. Karena Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman bahwa suami itu memberi nafkah kpd istrinya. Dan memberi nafkah itu artinya bukan sekedar membiayai keperluan rumah tangga, tapi lbh dari itu, para suami harus ‘menggaji’ para istri. Dan uang gaji itu harus di luar semua biaya kebutuhan rumah tangga.

    Yang sering kali terjadi memang aneh, suami menyerahkan gajinya kpd istri, lalu semua kewajiban suami harus dibayarkan istri dari gaji itu. Kalau masih ada sisanya, tetap saja itu bukan lantas jdi hak istri. Dan lbh celaka, kalau kurang, istri yg harus berpikir tujuh keliling utk mengatasinya.

    Jadi pendapat Syeikh Al-Qaradawi itu bisa saja kita terima, asalkan istri juga harus dpt ‘jatah gaji’ yg pasti dari suami, di luar urusan kebutuhan rumah tangga.

    Tugas Suami Istri di Masa Salaf

    Kita memang tdk menemukan ayat yg bunyinya bahwa yg wajib masak adl para suami, yg wajib mencuci pakaian, menjemur, menyetrika, melipat baju adl para suami.

    Kita juga tdk akan menemukan hadits yg bunyinya bahwa kewajiban masak itu ada di tangan suami. Kita tdk akan menemukan aturan seperti itu secara eksplisit.

    Yang kita temukan adl contoh real dari kehidupan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam & juga para shahabat. Sayangnya, memang tdk ada dalil yg bersifat eksplisit. Semua dalil bisa ditarik kesimpulannya dgn cara yg berbeda.

    Misalnya tentang Fatimah puteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg bekerja tanpa pembantu. Sering kali kisah ini dijadikan hujjah kalangan yg mewajibkan wanita bekerja berkhidmat kpd suaminya. Namun ada byk kajian menarik tentang kisah ini & tdk semata-mata begitu saja bisa dijadikan dasar kewajiban wanita bekerja utk suaminya.

    Sebaliknya, Asma’ binti Abu Bakar justru diberi pembantu rumah tangga. Dalam hal ini, suami Asma’ memang tdk mampu menyediakan pembantu, & oleh kebaikan sang mertua, Abu Bakar, kewajiban suami itu ditangani oleh sang pembantu. Asma’ memang wanita darah biru dari kalangan Bani Quraisy.

    Dan ada juga kisah lain, yaitu kisah Saad bin Amir radhiyallahu ‘anhu, pria yg diangkat oleh Khalifah Umar menjadi gubernur di kota Himsh. Sang gubernur ketika di komplain penduduk Himsh gara-gara sering telat ngantor, beralasan bahwa dirinya tdk punya pembantu. Tidak ada orang yg bisa disuruh utk memasak buat istrinya, atau mencuci baju istrinya.

    Perempuan Dalam Islam Tidak Butuh Gerakan Pembebasan

    Kalau kita dalami kajian ini dgn benar, ternyata Islam sangat memberikan ruang kpd wanita utk bisa menikmati hidupnya. Sehingga tdk ada alasan buat para wanita muslimah utk latah ikut-ikutan dgn gerakan wanita di barat, yg masih primitif karena hak-hak wanita disana masih saja dikekang.

    Islam sudah sejak 14 abad yg lalu memposisikan istri sbg makhuk yg harus dihargai, diberi, dimanjakan bahkan digaji. Seorang istri di rumah bukan pembantu yg bisa disuruh-suruh seenaknya. Mereka juga bukan jongos yg kerjanya apa saja mulai dari masak, bersih-bersih, mencuci, menyetrika, mengepel, mengantar anak ke sekolah, bekerja dari mata melek di pagi hari, terus tdk berhenti bekerja sampai larut malam, itu pun masih harus melayani suami di ranjang, saat badannya sudah kelelahan.

    Kalau pun saat ini ibu-ibu melakukannya, niatkan ibadah & jangan lupa, lakukan dgn ikhlas. Walau sebenarnya itu bukan kewajiban. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan pahala yg teramat besar buat para ibu sekalian. Dan semoga suami-suami ibu bisa lbh byk lagi mengaji & belajar agama Islam.

    Oleh: H. Ahmad Sarwat, Lc

  • dn says:

    Maaf sebelumnya buat bpa “wiemasen” yg alim,, terima kasih atas artikel nya yang sangat merugikan saya sebagai seorang suami, karena setelah istri saya membaca artikel ini, sekarang dia berani melawan saya dan tidak takut akan perceraian,, sebaiknya anda tidak berpihak sebelah tangan untuk urusan seperti ini karena bisa berakibat fatal. Ada baiknya anda bisa menyeimbangkan antara keduanya sehingga yg membaca artikel ini tidak salah tafsir dan tidak merasa menang sendiri.

    [wiemasen.com] Sudah berimbang kok. Coba baca petikan ini baik-baik.

    “Sehingga seorang isteri yang pada dasarnya tidak punya kewajiban atas semua hal itu, dengan rela dan ikhlas melayani suaminya, belanja untuk suami, masak untuk suami, menghidangkan makan di meja makan untuk suami, bahkan menyuapi makan untuk suami kalau perlu. Semua dilakukannnya semata-mata karena cinta dan sayangnya kepada suami. Dengan semua hal itu, tentunya isteri akan menerima pahala yang besar dari apa yang dikerjakannya. Karena dengan bantuannya itu, suami akan menjadi senang dan ridha kepadanya.

    Maka pasangan itu akan memanen kebaikan dan pahala dari Allah SWT. Suami mendapat pahala karena sudah melaksanakan kewajibannya, yaitu memberi hartanya untuk nafkah isterinya. Isteri mendapat pahala karena membantu meringankan beban suami. Meski hukumnya tidak wajib.”

    Jadi kalau anda atau istri anda masih tidak paham atas tulisan itu, dan ujung-ujungnya mencari “kambing hitam” atas problema rumah tangga anda, coba intropeksi masing-masing. Adakah sesuatu yang salah di rumah tangga saya?

    Anda menuduh saya benar sendiri? Itu adalah ajaran Islam. Ada kok hujjah-hujjahnya di bagian komentar. Coba anda baca. Lalu argumen anda apa sehingga menuduh saya merasa benar sendiri?

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.