Aqidah

Membahas aqidah yang sahih menurut sunnah.

Bulan Islam

Pahami bagaimana bulan-bulan Islam itu ditentukan.

Ekonomi Islam

Belajar seluk-beluk perbankan Islam.

Politik

Politik dari sudut pandang Islam.

Fiqh

Berbagai macam jawaban fiqh.

Home » Sistem Masyarakat Islam

Benarkah Tugas Istri Itu Mengurus Rumah Tangga?

Submitted by on November 14, 2012 – 2:08 pm54 Comments

Sudah menjadi kebiasaan masyarakat untuk menganggap kerjaan istri itu memasak, mendidik anak-anak, membersihkan rumah, dan melayani suami. Istri yang tidak mau melakukan salah satu kerjaan tersebut dianggap istri yang tidak berkompeten dan tidak layak dianggap sebagai istri yang ideal. Suamipun terkadang tidak mau menerima kekurangan istri tersebut sehingga sering memarahi, menyindir bahkan sampai memukul karena tidak puas dengan pekerjaan istri di rumah. Tidak heranlah kalau kaum wanita sekarang ini menganggap pekerjaan sebagai ibu rumah tungga adalah pekerjaan rendahan karena memang banyak suami yang memperlakukan istrinya seperti babu.

Bayangkan istrinya disuruh kerja dari pagi sampai sore: membersihkan rumah, mengurus anak-anak dan malamnya masih mengurut  suaminya lagi. Bila makanan istri tidak enak pada suatu hari, suami bisa marah besar. Bila istri lupa menyetrika baju kerja suaminya, bisa membuahkan kata-kata sinis terhadap istrinya. Tambahan lagi, tanggung jawab pendidikan anak-anak yang diserahkan secara keseluruhan kepada istrinya. Sehingga ketika prestasi belajar anaknya menurun, lagi-lagi istrinya yang kena marah.

Hak dan Kewajiban Suami Istri

Bagi yang belum menikah atau merencanakan untuk menikah, tolong perlakukan istri anda dengan baik. Kenapa begitu? Karena sebenarnya tugas isteri hanya tinggal buka mulut dan suami yang berkewajiban menyuapi makanan ke mulut isterinya. Tidak ada kewajiban isteri untuk belanja bahan mentah, memasak dan mengolah hingga menghidangkannya. Semua itu pada dasarnya kewajiban asasi seorang suami. Seandainya suami tidak mampu melakukannya sendiri, tetap saja pada dasarnya tidak ada kewajiban bagi isteri untuk melaksanakannya. Kalau perlu suami harus menyewa pembantu atau pelayan untuk mengurus makan dan urusan dapur.

Bahkan memberi nafkah kepada anak juga bukan kewajiban isteri. Suami itulah yang punya kewajiban  memberi nafkah kepada anak-anaknya. Jangan heran kalau memberi air susu ibu juga bukanlah kewajiban isteri. Tetapi kewajiban itu pada dasarnya ada pada suami. Kalau perlu, suami mengeluarkan upah kepada isterinya untuk menyusui anaknya sendiri.

Itulah hak dan kewajiban suami istri kalau dilihat dari sudut hitam putih saja. Masalah ini kalau tidak dijelaskan dengan sempurna akan menimbulkan salah paham karena idenya sama dengan yang di bawa oleh kelompok Islam Liberal. Coba perhatikan apa yang Islam Liberal katakan:

Seorang Ibu hanya wajib melakukan hal-hal yang sifatnya kodrati seperti mengandung dan melahirkan. Sedangkan hal-hal yang bersifat diluar qodrati itu dapat dilakukan oleh seorang Bapak. Seperti mengasuh, menyusui (dapat diganti dengan botol), membimbing, merawat dan membesarkan, memberi makan dan minum dan menjaga keselamatan keluarga. ( Isu-Isu Gender dalam Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah,  hal. 42-43).

Apa yang kaum liberal itu inginkan adalah suami tinggal di rumah untuk mengasuh anak dan mengurus rumah tangga, sedangkan si istri bekerja di luar rumah. Inilah yang dinamakan emansipasi wanita kata mereka. Sebaliknya menurut saya ini dinamakan Queen Control. Apa yang dituntut dalam agama Islam bukan begitu.

Hubungan Dari Sisi Moral, Etika dan Hubungan Sosial

Selain dilihat dari sisi hitam putih, kita juga patut melihat dari sisi moral, etika dan hubungan sosial, karena ada sisi-sisi lain seperti rasa cinta, saling memiliki, saling tolong, saling merelakan hak dan saling punya keinginan untuk membahagiakan pasangannya.

Sehingga seorang isteri yang pada dasarnya tidak punya kewajiban atas semua hal itu, dengan rela dan ikhlas melayani suaminya, belanja untuk suami, masak untuk suami, menghidangkan makan di meja makan untuk suami, bahkan menyuapi makan untuk suami kalau perlu. Semua dilakukannnya semata-mata karena cinta dan sayangnya kepada suami. Dengan semua hal itu, tentunya isteri akan menerima pahala yang besar dari apa yang dikerjakannya. Karena dengan bantuannya itu, suami akan menjadi senang dan ridha kepadanya.

Maka pasangan itu akan memanen kebaikan dan pahala dari Allah SWT. Suami mendapat pahala karena sudah melaksanakan kewajibannya, yaitu memberi hartanya untuk nafkah isterinya. Isteri mendapat pahala karena membantu meringankan beban suami. Meski hukumnya tidak wajib.

Itulah hubungan cinta antara suami dan isteri, yang jauh melebihi sekedar hubungan hak dan kewajiban. Tentu saja ketika seorang isteri mengerjakan hal-hal yang pada dasarnya menjadi kewajiban suami, maka wajar bila suami mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan yang tulus.

Jadi kalau istri anda memasak makanan yang tidak enak, lupa menggosok baju kerja anda, lupa membayar tagihan listrik, tidak tahu bagaimana mengajar matematik kepada anak anda, maka anda tidak anda hak untuk memarahinya. Kenapa begitu? Karena itu semua sebenarnya adalah tugas suami yang dikerjakan oleh istri anda secara sukarela.

Istri Tidak Berkewajiban Menafkahi Anak-Anak Yang Ditinggalkan Oleh Suaminya

Bahkan kalau si suami meninggalpun, tanggung jawab menafkahi anak-anak bukan urusan si istri. Tapi semua itu adalah tanggung jawab para saudara dari pihak suami yang masuk dalam kriteria ahli waris. Bila suami yang mati itu masih ada maka ayahnya itu yang menanggung nafkah para cucunya. Sedangkan pihak istri secara hakikatnya tidak menanggung nafkah buat anak-anaknya.

Para ahli waris suami itu berhak atas harta warisan yang ditinggalkan bila memang yang meninggal itu memiliki sejumlah harta. Dan sebaliknya, para ahli waris itu harus menanggung hutang si mayit bila matinya meninggalkan hutang. Termasuk bila meninggalkan tanggungan anak yatim. Jadi disinilah keadilan Islam.

Walaupun si istri kemudian bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, tapi secara hakikatnya, dia tetap tidak diwajibkan untuk membiayai anak-anaknya sendiri. Tapi bila sebagai ibu ingin memberikan nafkah pada anaknya, dia akan mendapat pahala sunnah.

Siapa Yang Menafkahi Istri Apabila Telah Menjadi Janda?

Pada saat sang wanita menikah, tanggung jawab penghidupannya ada di tangan suami. Tetapi jika ia menjadi janda, ia kembali menjadi tanggung jawab ayah dan saudara laki-lakinya. Dan bila tak ada seorang pun yang bisa menanggungnya, maka negaralah yang wajib memikirkannya. Itulah sebabnya, dalam Islam tidak ada pemisahan antara negara dan agama.

Adakah Harta Gono-Gini Dalam Islam?

Harta gono-gini (istilah Jawa), yaitu harta milik bersama suami istri yang didapat dari hasil gaji keduanya selama setelah pernikahan, tak ada dalam Islam. Bila istri berpenghasilan, maka bukan lantas milik bersama, tetapi tetap jadi haknya pribadi. Mengenai kerelaan istri untuk memberikan hartanya kepada suami, itu masalah lain, dan dinilai sebagai sedekah.

Apabila suatu waktu terjadi perceraian, maka harta pribadi istri tetap menjadi haknya. Kalaupun ada harta gono-gini, maka aturan pembagiannya fifty-fifty yang lazim digunakan orang adalah salah. Menurut Islam, harta istri tetap miliknya, tak ada hak suami atasnya.

Harta Istri

Harta isteri adalah harta milik isteri, baik yang dimiliki sebelum menikah atau pun setelah menikah. Harta isteri setelah menikah yang terutama adalah dari suami dalam bentuk nafaqah (nafkah), selain juga mungkin bila isteri itu bekerja atau melakukan usaha yang bersifat bisnis.

Khusus masalah nafkah, sebenarnya nafkah sendiri merupakan kewajiban suami dalam bentuk harta benda untuk diberikan kepada isteri. Segala keperluan hidup isteri mulai dari makanan, pakaian dan tempat tinggal, menjadi tanggungan suami. Dengan adanya nafkah inilah kemudian seorang suami memiliki posisi qawam (pemimpin) bagi isterinya. Kalau suami tidak lagi bekerja dan digantikan oleh istrinya, maka si suami kehilangan posisi sebagai pemimpin bagi istrinya.

Namun yang biasa terjadi, sebagian kalangan beranggapan bahwa nafkah suami kepada isteri adalah biaya kehidupan rumah tangga saja. Padahal kalau kita kembalikan kepada aturan asalnya, yang namanya nafkah itu merupakan ‘gaji’ atau honor dari seorang suami kepada isterinya. Adapun keperluan rumah tangga, baik untuk makan, pakaian, rumah, listrik, air, sampah dan semuanya, sebenarnya tidak termasuk nafkah suami kepada isteri. Karena kewajiban mengeluarkan semua biaya rumah tangga itu bukan kewajiban isteri, melainkan kewajiban suami.

Kalau suami menitipkan amanah kepada isterinya untuk membayarkan semua biaya itu, boleh-boleh saja. Tetapi tetap saja semua biaya itu belum bisa dikatakan sebagai nafkah buat isteri. Sebab yang namanya nafkah buat isteri adalah harta yang sepenuhnya menjadi milik isteri. Nafkah itu ‘bersih’ menjadi hak isteri, di luar biaya makan, pakaian, bayar sewa rumah dan semua keperluan sebuah rumah tangga.

Kalau dipikir-pikir, seorang perempuan yang kita nikahi itu, sejak kecil telah dibiayai oleh kedua orang tuanya. Pastilah orang tua itu sudah mengeluarkan biaya yang sangat besar sampai anak perawannya siap dinikahi. Lalu tiba-tiba kita datang melamar si anak perawan itu begitu saja, bahkan kadang emas kawinnya cuma seperangkat alat sholat tidak lebih dari nilai seratus ribu rupiah.

Sudah begitu, dia diwajibkan mengerjakan semua pekerjaan kasar layaknya seorang pembantu rumah tangga. Mulai dari subuh sudah bangun dan memulai semua kegiatan, urusan anak-anak kita serahkan kepada mereka semua, sampai urusan atap rumah bocor. Sudah lelah bekerja seharian,  malamnya masih pula ‘dipakai’ oleh suaminya.

Jadi sebenarnya wajar dan masuk akal kalau untuk isteri ada nafkah eksklusif di mana mereka dapat hak atas ‘honor’ atau gaji dari semua jasa yang sudah mereka lakukan sehari-hari. Uang itu sepenuhnya milik isteri dan suami tidak boleh meminta dari uang itu untuk bayar listrik, sewa rumah, uang sekolah anak, atau keperluan lainnya.

Dan kalau isteri itu pandai menabung, anggaplah tiap bulan isteri menerima ‘gaji’ sebesar sejuta perak yang utuh tidak diotak-atik, maka pada usia 20 tahun perkawinan, isteri sudah punya harta yang lumayan 20 x 12 = 240 juta rupiah.

Lumayan kan?

Nah harta itu milik isteri 100%, karena itu adalah nafkah dari suami. Kalau suami meninggal dunia dan ada pembagian harta warisan, harta itu tidak boleh ikut dibagi waris. Karena harta itu bukan harta milik suami, tapi harta milik isteri sepenuhnya. Bahkan isteri malah mendapat bagian harta dari milik almarhum suaminya melalui pembagian waris.

Sumber:

Artikel tanya jawab yang pernah diurus oleh ustadz Ahmad Sarwat, Lc di www.eramuslim.com yang berjudul:

1. Harta Isteri, yang Manakah?
2. Hukum Mawaris dan Sistem Keluarga Dalam Islam
3. Benarkah Kewajiban Suami Mengurus Rumah Tangga?

dan dari http://www.syariahonline.com

1. Suami wafat, siapa bertanggung jawab nafkah anak-anaknya?

Artikel-artikel lainnya

Benarkah Tugas Istri Mengurus Rumah Tangga?
Development of the Concept of Women’s Work
Tanggung Jawab Nafkah Anak Yatim
Perlukah Wanita Bekerja?

Tags: ,

54 Comments »

  • sofi says:

    Alhamdulillah, selama ini saya mengerjakan smua pekerjaan rumah sendiri, tapi terkadang saya lelah, bahkan pernah jatuh sakit, sering bertanya dalam hati, bolehkan ijin sakit dari pekerjaan rumah sampai saya sembuh, setelah membaca artikel ini smoga bisa membuka wacana baru buat suami, bahwa saya bukan robot…

  • wiemasen says:

    Alhamdulillah telah mendapat manfaat dari tulisan ini mbak Sufi. Tujuan saya bukan membuat istri menentang para suami, tapi lebih kepada memberi pemahaman kepada sang suami agar tidak memperlakukan sang istri sebagai “robot” ataupun pembantu.

  • fenni dastri says:

    Saya mau bertanya: bila istri bekerja dan memenuhi semua kebutuhan rumah tangga, suami tidak memberi nafkah lahir sudah 8 tahun, apa hak suami atas istrinya! Bolehkah melarang istri bekerja, tolong sebutkan dalil islamnya! Saya mgk paham sedikit tentang artikel di atas, tp itulah istri yg telah dinikahi, seakan2 tugas RT adalah urusan istri. Terima kasih

  • wiemasen says:

    Wah saya tidak berani mengeluarkan fatwa bu.
    Tapi menurut saya, suami yang tidak menafkahi keluarga lagi, layak untuk diceraikan.
    Karena tugas suami adalah menafkahi keluarganya, bukan sang istri.
    Suami boleh melarang istrinya bekerja. Tapi dengan kondisi seperti ibu, menyebabkan ibu semakin terzalimi.
    Itu pendapat saya. Ibu bisa bertanya kepada yang lebih mumpuni lagi.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.