Yang Shalih Yang Berguna
Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Sebagai ibu, Bu Tina benar-benar bangga dengan putrinya. Sejak mengikuti sebuah pengajian rutin di kampusnya, Rahmah jadi berubah. Tak hanya dari penampilan fisik dengan mengenakan jilbab, tapi juga sikap. Rahmah yang dulu periang, jadi sedikit pendiam. Kegiatannya yang dulu suka musik dan hura-hura ditinggalkan. Aktivitas Rahmah kini hanya berkisar antara rumah, kampus dan masjid. Ibadahnya pun tak pernah tinggal. Tak hanya ibadah wajib, tapi juga sunnah. Rahmah lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca al-Qur’an atau buku yang akhir-akhir ini mulai memenuhi kamarnya.
Namun ada yang sedikit mengurangi kebanggaan Bu Tina. Putri tunggalnya itu jadi cenderung “egois”. Rahmah hampir tak pernah membantu ibunya menyelesaikan pekerjaan rumah. Piring kotor ia biarkan terbengkalai. Rahmah pun tak mau tahu dengan kesibukan ibunya di dapur. Di lingkungannya pun, Rahmah jadi terkesan eksklusif. Jarang nenangga atau bergaul dengan orang-orang sekitarnya. Ini sering mengundang tanda tanya besar bagi tetangganya.
Perilaku Rahmah di atas merupakan salah satu gambaran sosok muslimah yang tidak berguna. Ia shalih bagi dirinya, tapi keshalihannya itu tak berpengaruh apa-apa bagi orang lain. Sosok seperti ini tidak sedikit. Mereka merasa dengan menjaga keshalihan pribadi saja sudah cukup. Masa bodoh dengan orang lain. Islam tentu saja tak menghendaki hal ini. Seorang Muslim hendaknya tak hanya shalih bagi dirinya, tapi juga mushlih bagi orang lain.
Ada tiga tipe manusia terkait dengan keshalihannya dengan orang lain. Tipe pertama, orang yang shalih tapi merusak. Tipe seperti ini tercermin pada mereka yang rajin melaksanakan ibadah ritual, tapi perilakunya merusak. Shalat lima waktu tak pernah ia lalaikan, shalat tahajud pun rajin ia kerjakan. Puasa pun tak pernah ia tinggalkan. Ibadah haji yang memerlukan dana besar juga ia laksanakan, bahkan sampai berkali-kali.
Namun, di balik segala ibadah ritualnya itu, ia juga melakukan aktivitas yang merugikan banyak orang. Tak hanya keluarga dan masyarakat sekitarnya, tapi juga bangsa dan negara. Misalnya, melakukan korupsi, menggasak uang rakyat, menyelundupkan harta negara, menumpuk kekayaan untuk pribadi. Dalam segala tindak tanduknya itu, ia tak pernah peduli dengan kesengsaraan orang lain. Tak heran kalau di samping rumahnya yang mewah, juga berdiri gubuk reot.
Lalu, bagaimana sifat-sifat ini bisa muncul? Ada beberapa hal yang melatarinya. Pertama, hubbun dunya wa karahiyatul maut (cinta dunia dan benci mati). Sikap seperti ini akan melahirkan manusia-manusia rakus. Ia menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidup. Akibatnya, ia tak peduli dengan segala yang dilakukan apakah menerjang rambu-rambu agama atau tidak. Segala aktivitas ibadahnya tidak berorientasi pada ridha Allah. Tapi lebih pada “menggugurkan kewajiban” dan mencari legitimasi sebagai orang baik di mata manusia.
Sikap seperti ini tak ubahnya dengan perilaku orang munafik. Mereka senantiasa menampilkan kebaikan di depan orang banyak, padahal mereka adalah perusak. Berkenaan dengan hal ini, Allah SWT berfirman, “Dan bila dikatakan kepada mereka, `Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,’ mereka menjawab, `Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’ Ingatlah sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak mengetahui,” (QS al-Baqarah: 11-12).
Kedua, terjangkit beberapa penyakit hati, seperti riya’ dan sombong. Lantaran ibadahnya bukan dilandasi ridha Allah, maka segala hal yang ia lakukan hanya untuk mencari popularitas di mata manusia. Ia beribadah agar dianggap dirinya shalih. Sikap seperti ini lahir karena dalam hatinya bercokol penyakit riya. Inilah yang digambarkan Allah dalam firman-Nya, “Sesungguhnya orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikit sekali,” (QS an-Nisa’: 142).
Ibadah haji yang ia lakukan setiap tahun hanya untuk dipanggil “Bapak Haji” atau “Ibu Haji”. Dana besar yang ia keluarkan untuk membangun masjid atau membantu orang-orang miskin, hanya bertujuan agar dirinya disebut dermawan. Jika perilaku ini terus berlangsung, maka penyakit hati lainnya akan terus bermunculan. Ia akan merasa dirinya lebih kaya, lebih shalih, lebih dermawan dan berbagai sifat kebanggaan diri lainnya. Ia menjadi sombong.
Ketiga, kikir melakukan kebaikan. Akibat bercokolnya penyakit hati tersebut maka tipe orang ini akan kikir untuk melakukan kebaikan. Ia akan merasa rugi kalau melakukan kebaikan sementara tak ada kompensasi material baginya. Karenanya, ia tak akan melakukan kebaikan jika tak menguntungkannya.
Lebih parah lagi karena sikap ini bak penyakit menular. Hal ini terekam dalam firman Allah, “(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan,” (QS an-Nisa’: 37).
Keempat, salah memahami kedudukan agama. Tipe orang seperti ini biasanya bisa disebabkan karena salah memahami agama. Ia menjadikan agama sebagai sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan dunia. Paham sekularisme ini akhirnya melahirkan sikap pemisahan agama dan dunia. Akibatnya, ibadah ritual yang ia lakukan tidak membekas. Setiap tindakannya tak dilandasi nilai-nilai keagamaan. Keimanan—menurutnya— hanya kalau seseorang berada di masjid. Baginya, rajin shalat, puasa dan ibadah haji, tak ada hubungannya dengan kejujuran dan kedisiplinan. Lebih parah lagi, ia menganggap orang yang ingin melandasi perilaku politik dengan nilai-nilai keagamaan, dianggap picik, eksklusif dan beragam tuduhan sinis lainnya.
Tipe kedua, orang shalih yang pasif. Tipe orang seperti ini adalah mereka yang rajin beribadah, dan tidak melakukan kerusakan. Tapi, mereka tidak memberikan manfaat bagi orang lain. Keshalihan baru sebatas untuk dirinya sendiri. Ia tak mau peduli dengan sesamanya. Jangankan mau mengubah keadaan umat, memikirkannya pun tidak. Pembantaian atas umat Islam di berbagai negeri tidak menyentuh hatinya untuk sekadar prihatin. Gencarnya usaha-usaha pemurtadan, tidak menggerakkan hatinya untuk berbuat. Ia asyik dengan dirinya sendiri.
Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan hal ini. Di antaranya, mudah puas dengan melakukan kebaikan yang sedikit. Orang yang salah memahami agama dan menempatkannya hanya untuk keshalihan pribadi, akan mudah puas dengan kebaikan yang ia lakukan. Padahal, dalam Islam, ibadah ritual hanyalah sebagian kecil dari ajaran Islam, dan bukan segalanya.
Orang yang menganggap Islam hanya sebatas pada ibadah ritual semata, akan mudah puas dan merasa sudah berada pada puncak pengabdian pada Allah hanya karena tak pernah meninggalkan tahajud. Akibatnya, ia tidak melakukan ibadah sosial lainnya.
Hal lain yang menyebabkan orang shalih ini pasif adalah tidak memiliki semangat keagamaan yang baik. Akibat pemahaman yang parsial, maka baginya tak ada permasalahan besar selain ibadah ritual. Ia akan menggangap permasalah di luar itu bukan wilayahnya. Bahwa negerinya sedang digerogoti koruptor dan dijajah secara ideologi oleh pihak asing, tidak menjadi beban pikirannya. Menurutnya, ribuan kaum Muslimin yang dibantai Zionis Israel di Palestina, hancurnya tempat-tempat ibadah kaum Muslimin di negeri Irak, dan berlangsungnya diskrminasi terhadap umat Islam di berbagai negara, tak ada hubungan dengan ibadahnya.
Ketidakmampuan menjaga keseimbangan antara khauf (takut) dan raja’ (pengharapan), juga bisa menyebabkan seseorang itu pasif. Melihat keadaan umat yang terus tertindas, melahirkan sikap pesimis. Akhirnya, ia lari dari kenyataan dan menikmati keshalihannya sendirian.
Tipe ketiga, shalih yang berguna. Inilah tipe ideal seorang Muslim. Selain melaksanakan ibadah ritual, ia juga memberikan manfaat bagi orang banyak. Ia ibarat lampu yang menerangi sekitarnya. Rasulullah saw mengibaratkan mereka ini seperti lebah. “Perumpamaan orang beriman itu ibarat lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya),” (HR Ahmad, al-Hakim dan al-Bazzar).
Inilah tipe mukmin ideal seperti yang digambarkan Allah melalui firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah dan beribadahlah kepada rabb kalian, dan lakukanlah kebajikan agar kalian beruntung,” (QS al-Hajj: 77).
Selain mengandung perintah sujud dan rukuk serta beribadah, pada ayat di atas, Allah juga memerintahkan untuk berbuat kebaikan. Ini menggambarkan bahwa ibadah mahdhah saja belum cukup, tapi harus diiringi dengan waf `alul khairat (melakukan kebaikan) yang bermanfaat bagi orang lain.
Rasulullah saw dalam banyak kesempatan sering menyebutkan bahwa kesempurnaan iman seseorang itu bergantung pada kebaikannya pada tetangga. Muslim yang ideal adalah orang yang tak hanya berguna, tapi juga tidak merusak. Bahkan, termasuk dalam katagori merusak adalah menyakiti perasaan orang lain.
Orang shalih yang ideal adalah yang mau melakukan perbaikan. Ia shalihun li nafsihi wa mushlihun li ghairihi (Baik bagi dirinya dan mampu juga memperbaiki orang lain). Inilah orang shalih yang sebenarnya.
Hepi Andi
www.sabili.co.id
Popularity: 8% [?]









saya minta izin mengkopi paste artikelnya…
sangat menyentuh!
Silakan. Saya juga mengkopi dari tempat lain juga kok.
Indah sekali jika pilihan yang ketiga menjadi andalan dari semua orang…Dunia serasa membawa akal da nafsu telah membelenggu, hanya umat yang kuat akan nilai dan moral akan Ad Din yang bisa bertahan. Semoga kita menjadi insan yang berguna bagi diri sendiri, keluarga dan masyrakat di sekitar. Amiin
wiemasen – Amin
Leave your response!
Follow wiemasen.com on Facebook
Promote Your Page Too
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru
Calender
Categories
Berita
Blog Kawan Kita
Blog Menarik
Download Site
Forum
Link Dakwah
Link Menarik
Meta
Waktu Sholat
Bendera Pengunjung
Negara Pengunjung
Lokasi Pengunjung
Artikel Populer
Most Commented
Tags